RAMADAN TANPA BUNDA

Tea Terina

 

 

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan ( yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan” ( QS Al-Anbiya:35 )

 

            Langit mendung, ketika sore aku mendatangi gundukan tanah di pemakaman yang berselimut bunga mawar dan melati.  Pikiranku masih berselimut duka. Ah, aku paham dengan keinginan Bunda mengakhiri usia. Bukan dengan kemewahan yang bergelimang. Bunda lebih memilih menjauh dalam kesunyian. Sebab segalanya tak kan merepotkan. Cukup sudah membuat orang lain menanyakan sakit yang kamu derita. Tahukah Bunda, aku sangat menyesali dengan cara kepergian seperti ini.

            Saat itu aku menemukanmu sudah dingin dan kaku di tubuh ranjang  bisu yang tak lagi berderit. Napas yang  sudah tidak hangat lagi.  Kuletakkan telapak tanganku ke dahi. Suhumu tak biasa, Bunda. Lebih dingin dari kota kita ketika musim hujan. Lalu kugeser perlahan ke bawah tenggorokan untuk mencari sisa denyut jantung, barangkali masih terselip. Namun, tak kurasa apa-apa.

            Tubuhku mulai mengikuti tubuhmu. Aku merasakan dingin yang kian lekat. Kembali aku mencari denyut nadi sesenti di bawah telapak tangan. Namun, hasilnya sama saja. Aku tak mendapati getaran. Kurasa getarnya berpindah ke jantungku yang berdebar semakin kuat.

            Dada Bunda kembang kempis, hampir sama dengan perut yang tipis. Aku semakin kehilangan harapan ketika kuangkat jariku dan kuletakkan di antara lubang hidung dan bibirmu. Tidak ada gerakan angin yang mengembus bulu-bulu di jariku. Tidak ada hawa panas yang menghangatkan gigil jemariku. Pada saat itu aku yakin Bunda telah kembali.

            Orang-orang sibuk mengatur ruang sempit di rumah untuk meletakkan jenazah Bunda. Sementara aku tak dapat melakukan apa-apa. Aku seperti perempuan yang tersetrum tegangan tinggi memandangmu dalam kekosongan.

            “Sudah kau hubungi semua keluarga?” Sayup-sayup suara tetangga mengalun di telingaku.

Jujur saja aku tak kuat mengabarkannya. Walau terus kucoba untuk membendung kesedihan, tetapi memang tak semudah kata-kata. Tak sebisa ketika kita menenangkan orang lain.

“Bagaimana, sudah kamu telepon kakak-kakakmu?” ulang Bu Nafsiah, tetangga yang sering kuminta menemani Bunda saat aku bekerja.

Aku menggeleng.

            “Cepat beri kabar, termasuk paman dan bibimu yang berada di luar kota agar mereka segera datang. Fardu kifayah harus dilaksanakan secepatnya agar mayat tidak tersiksa,” kata tetangga lainnya.

            Bunda, mungkin saat itu kau melihat bagaimana kesibukan kami mempersiapkan segalanya sebelum membawamu ke peristirahatan terakhir.  Aku jadi ingat, Bunda pernah mengatakan, inilah ketakutanmu di hari tua. Takut merepotkan banyak orang.

            Aku sudah tua, nggak bisa apa-apa lagi, sebentar lagi juga mati. Tapi ada satu keinginan Bunda yang belum kesampaian. Tinggal di sebuah desa yang asri, punya kebun-kebun bunga yang segar jauh dari polusi, jauh dari kehidupan kota yang penuh sesak. Aku ingin menikmati hari tua di tempat itu. Ah,tapi tak perlu kau pikirkan, bekerja sajalah dengan baik, kejar mimpi dan cita-citamu.”

            Mendengar ucapanmu itu timbul pertarungan dalam batinku. Aku berpikir inilah satu-satunya kesempatan untuk membahagiakanmu setelah aku gagal membawamu ke tanah suci untuk berangkat umroh. Tapi di mana harus kucari uang untuk mewujudkannya, sementara untuk menanggung cicilan motor, biaya tagihan listrik, dan air bulanan saja aku sudah megap.

            Ingatan-ingatan lalu yang hanya sebatas lewat, kini melekat. Sulit untuk melupakannya. Bagaimana caramu mengungkapkannya, bagaimana kekecewaanmu terhadap hidupmu yang tidak ada artinya, bagaimana kekesalanmu terhadap kelemahan dirimu bagi keluarga. Kau selalu mengeluh tidak mampu berbuat apa-apa untuk membahagiakan keluarga. Tapi sayang, harapan itu belum terlaksana sampai saat ini. Sampai ketika ruhmu berpisah dengan jasad. Dan kupikir itulah sesal kedua yang mengambang di hatiku.

            Keinginan Bunda yang hendak memiliki kebun tidak lantas sirna begitu saja karena aku tidak mampu mewujudkannya. Pelan-pelan kulihat Bunda mengumpulkan tanaman-tanaman di pekarangan rumah hingga bermacam-macam jenisnya mulai monstera, anggrek tanah, sampai tanaman-tanaman yang aku tidak tahu namanya. Semuanya kau rawat dan tata sedemikian rupa.

Kau memiliki semacam taman sederhana di pekarangan rumah kita. Tak jarang para tetangga melirik tanaman yang kau rawat dan mereka tertarik untuk membelinya. Tentu saja kau mengambil keuntungan untuk membeli lebih banyak tanaman lagi.

            Aku ingat anggrek yang paling kau senangi. Bunda pernah mengatakan, anggrek bisa dijual dengan harga tinggi jika terbentuk dari persilangan yang berbunga dengan wujud baru. Ya, aku melihat anggrek  berbunga dengan bentuk-bentuk yang indah. Hampir lengkap beragam warna.  Kupikir kau akan mencari cara agar sukses melakukannya.

            “Merawat anggrek ini tak terlalu susah. Beri cahaya yang cukup, jangan terlalu sering menyiramnya. Jika ada tangkai bunga yang layu, segera dipangkas,” katamu suatu pagi ketika kudapati kau tengah memotong tangkai yang layu.

            “Kau sudah lihat monstera di teras dekat pintu? Kemarin ada tetangga yang berminat membelinya. Tahukan, harga monsera sekarang sangat mahal?” kata Bunda girang. Yah, monstera atau tanaman yang biasa orang menyebut “Janda Bolong” dulu dibeli seharga Rp 15.000 satu pot, kini laku 250.000 ribu.

            Aku segera menuju arah telunjukmu. Terlihat daun berbentuk hati bertambah besar, helaian daun berlubang dan tepi daunnya berbelah-belah. Sangat indah!

            Pengin aku menanam jenis Monstera Deliciosa…itu yang menjalar tinggi!” serumu kembali. Ah, Bunda jenis tanaman apa lagi itu? Barangkali semangat menanam bisa menghibur dirimu yang sejak 17 tahun ditinggal ayah.

            Tapi sayang,  belum sempat tanaman itu dibeli, Bunda terserang penyakit ganas yang melumpuhkan tubuh. Bunda juga tidak bisa berbicara dengan jelas. Separuh tubuh tidak bisa bergerak sesuai kehendak sehingga  jadi malas beraktivitas seperti biasa.

            Sejak saat itu, tanaman banyak yang  tidak terurus. Aku yang selalu sibuk merasa sangat bersalah. Tapi kuharap Bunda mau memaafkanku. Aku tak tahu harus melakukan apa terhadap tanaman-tanaman di taman kecilmu sebagai pengingat.  Paling tidak sebagai sesuatu yang mencitrakan dirimu. Ketika orang-orang datang bertamu, mereka merasakan kehadiranmu melalui taman itu. Sehingga kerinduan atasmu sedikit terobati ketika berada di sana. Tapi lagi-lagi aku gagal mewujudkannya.

            Tujuh hari sebelum kau dipanggil Yang Kuasa, aku menemukan hal aneh di tamanmu. Monstera itu tiba-tiba layu. Daun dan batang terlihat mengkerut. Tak terlihat daun baru tumbuh. Aku tidak tahu, mengapa ini terjadi? Padahal tanaman ini juga tidak membutuhkan perlakuan khusus.

Aku memutar ulang percakapan-percakapan soal tanaman monstera  dan rasanya tak pernah kau katakan monstera itu layu.  Di sela waktuku, kutelusuri kebun-kebun bunga tempat yang biasa kau singgahi. Aku mencoba mencari tahu penyebab monstera bisa layu, padahal sudah dirawat.

            “Ah, Mbak pasti salah penyiramannya. Ada tanaman yang hanya butuh sedikit air. Coba cek tanahnya. Apakah sudah mengering? Penjemurannya bagaimana? Pasti langsung terkena sinar matahari ya? Jadinya layu!” jelas seorang bapak penjual bunga.

            “Cara mengatasi?  ya, keluarkan monstera itu dari potnya, potong bagian yang layu. Lalu pindahkan ke tempat yang baru,” tambahnya lagi.

            Ingin rasanya aku menyelamatkan tanaman itu, tapi kesibukanku bekerja sering membuatku lelah. Berangkat pukul enam pagi, pulang menjelang magrib. Kecuali hari Minggu. Akhirnya, beberapa tanaman banyak yang layu dan ada yang mati.

            Sejak itu  membuatku sadar. Mungkinkah monstera yang layu dan beberapa tanaman yang mati adalah pertanda? Apakah matinya tanaman seiring dengan datangnya  malaikat pencabut nyawa untuk mengakhiri hidup Bunda?

            Ramadan ini menjadi tahun keempat tanpamu, tapi kali ini benar-benar tanpamu. Tiga tahun ke belakang kau ada, tetapi dalam kondisi tak berdaya. Kini Bunda sungguh-sungguh tiada. Aku tak bisa mengintipmu yang tengah berbaring di kamar. Tidak ada lagi teriakan kerasmu yang tak jelas. Tidak ada juga aroma tubuhmu yang kadang menghilangkan selera makan. Tapi kini segalanya benar-benar kurindukan.

            Ramadan selalu punya kisah tentangmu. Bagaimana sehatmu diambil kembali oleh Allah dan bagaimana kematian mengantarmu ke depan gerbang Ramadan yang terbuka.

            Semasa hidup kau terlihat begitu anggun dan santun. Di antara paman dan bibi, Bunda termasuk paling setia ketika ditinggal pasangan. Berbeda dengan saudara lain yang memutuskan menikah lagi saat ditinggal pasangan. Aku ingat, sahabat Bunda begitu banyak. Mulai teman SD sampai SMA yang terkadang sering berkunjung ke rumah sebelum Bunda terserang penyakit.

 Setelah sakit hingga kematian menjemput, Bunda  seolah bukan siapa-siapa. Kematian Bunda  membuat aku sadar bahwa kita lahir dan pulang dalam kesendirian. Dan dengan kematian aku jadi paham siapa yang benar-benar mencintaimu dan siapa yang hanya menjadikanmu sebagai hiasan semata.

 

***

 

            Rintik hujan menyentuh jilbab hijau yang kukenakan. Tiba-tiba aku merasakan, seolah ada yang menyuruhku segera pulang. Ya, kurasa aku harus pulang. Sudah siapkah Bunda menjawab pertanyaan Munkar dan Nakir? Sebab terhitung tujuh langkah aku menjauh mereka akan datang. Mereka selalu tepat waktu, tidak seperti kita manusia. Bunda jangan takut karena aku selalu mendoakan sepanjang waktu. Sebab hanya itu yang kini aku punya dan aku bisa.

 

 

Bionarasi :

Tea Terina, kelahiran 13 Juli di Malang, saat ini bekerja sebagai guru bahasa Indonesia di SMPN 2 Pagak, Kabupaten Malang. Sarjana S2 Unisma Malang ini sudah banyak menulis fiksi dan nonfiksi. Baginya menulis tidak sekedar menuangkan ide, tetapi untuk menginspirasi siswa-siswanya agar bisa meniru jejaknya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan Populer