Tema : Kehilangan
Sepotong Jiwa yang Kembali ke Langit
Oleh Tea
Terina
Sepuluh tahun
menikah, aku masih bersabar menunggu datangnya buah hati. Setiap bulan aku
menghitung hari seperti menghitung tetes hujan di ujung daun. Penuh harap, tapi
siap hilang kapan saja. Aku dan suamiku, Zakaria sudah mencoba segalanya.
Pengobatan medis, ramuan tradisional, doa di sepertiga malam. Bahkan menemui
ustazah yang katanya bisa membantu pasangan yang belum dikaruniai momongan.
Namun, hasilnya selalu sama, negatif. Kami tak menyerah karena di setiap ujung
doa, aku percaya Allah pasti merencanakan sesuatu yang terbaik.
Akhirnya setelah sepuluh tahun menunggu, keajaiban itu
datang. Siang itu, saat kami ke rumah sakit, dokter menyalamiku sambil
tersenyum.
“Selamat Bu, positif.”
Tanganku bergetar, mataku basah air mata, suaraku hampir
tercekat di tenggorokan. Suamiku yang berdiri di samping hanya bisa menggenggam
erat tanganku. Lalu menangis seperti anak kecil. Kami berdua menangis. Bukan
karena sedih, tapi karena Allah menjawab doa kami.
Sejak saat itu hidupku penuh warna. Aku siapkan nama
untuk sang buah hati kami. Sherina jika
perempuan, Arkhan jika laki-laki. Setiap pagi setelah salat Subuh aku
membacakan doa. Berbisik lembut sambil mengelus perut.
“Nak, Ibu sudah menunggumu lama sekali. Datanglah dengan
selamat ya?”
Suamiku mengatur kamar yang dulu kosong. Mengecatnya
dengan warna merah muda. Meletakkan lemari kecil. Menempelkan tulisan di
atasnya : Bismillah rumah kecil untuk kesayangan. Sejak itu, hari-hariku penuh
dengan senyum bahagia dan harapan.
Tidak terasa kandunganku memasuki bulan ketiga. Tengah
malam saat hujan deras, aku menggeliat pelan. Mencoba bangun dari tidur yang
tidak terlalu nyenyak. Tiba-tiba tubuhku menegang. Ada warna merah di seprai
putih. Darah!
Jantungku berdebar. Dengan tangan gemetar, aku menyingkap
selimut. Benar ada banyak darah. Begitu nyata dan menakutkan. Aku menatap
perutku.
“Ya Allah kenapa?” suaraku keluar lirih, hampir tak
terdengar. Air mata mulai menetes di pipi. Aku duduk mencoba berpikir jernih. Menatap
darah itu lagi sambil berpikir tenang.
“Tolong jangan ada apa-apa, ya … bertahanlah, Nak!”
Suamiku langsung membopongku ke mobil. Di sepanjang
jalan, aku terus mengelus perutku sambil berdoa, “Ya Allah, selamatkan anakku.
Selamatkan dia.”
Aku dibawa ke ruang gawat darurat. Di sana seorang dokter
kandungan perempuan segera datang memeriksa kondisiku. Ia menanyakan usia
kehamilanku, seberapa banyak darah yang keluar, serta apakah aku merasakan
nyeri di perut bagian bawah. Setelah pemeriksaan fisik dan USG, dokter
menyampaikan bahwa aku mengalami keguguran spontan yang belum lengkap. Artinya
sebagian jaringan kehamilan masih tertinggal di dalam rahim sehingga
menyebabkan pendarahan berlanjut. Selanjutnya dokter menjelaskan ia akan
melakukan tindakan kuretase guna membersihkan sisa jaringan dari rahim.
Hari-hari setelah itu berlalu penuh kesedihan. Kalimat yang diucapkan
dokter bahwa janinnya tidak bisa diselamatkan, terus terngiang. Aku telah
kehilangan bayiku.
Kamar bayi itu kini selalu tertutup. Aku enggan
membukanya. Rasanya di setiap sudut rumah ada bayangan anak kecil yang selalu
tersenyum. Aku jarang keluar rumah. Tidak lagi ikut pengajian, tidak lagi
menjawab pesan teman.
“Sabar ya, Mbak. Mungkin belum rezekinya.” Kalimat
menghibur, tapi membosankan. Hampir semua orang mengulanginya. Kata sabar terasa
asing sekarang. Kesabaranku diuji saat menunggu kedatangan sang buah hati
selama sepuluh tahun. Suamiku mencoba menenangkan. Ia selalu mengatakan,”Kita
harus kuat. Allah pasti punya rencana.”
Dalam hati, aku terus
bertanya, kenapa rencana itu harus mengambil calon buah hati kami?
Setiap kali mendengar suara bayi di luar rumah, dadaku
seperti diremas. Aku marah bukan karena takdir, tapi juga kepada diriku
sendiri. Apa aku istri yang kurang beriman? Apa aku tak pantas menjadi ibu?
Sore itu aku kedatangan tetanggaku, Mbak Elis dan
suaminya. Mereka datang ke rumah sambil
membawa bayinya yang berusia 4 bulan.
“Coba, gendong Mbak. Biar nanti ketularan lagi dapat
bayi,” katanya sambil menyerahkan bayinya. Bayi mungil itu memandangku dengan
ekspresi tertawa lucu. Tangannya dijulurkan padaku.
Aku tersenyum hambar, menolak dengan halus. Setelah
mereka pergi, aku menangis sejadi-jadinya di kamar. Malam itu aku berdoa dengan
nada bergetar.
“Ya Allah, aku sudah menunggunya lama. Mengapa setelah
kau beri, lalu Kau ambil secepat itu?”
Tangisku pecah di sajadah. Tapi di tengah isak tangis, aku
merasakan sesuatu ketenangan yang samar. Seolah langit sedang memelukku dari
jauh.
Beberapa minggu kemudian, ustazah pengajian
menghubungiku. Ia minta aku hadir pada acara pengajian rutin tiap minggu.
Akhirnya aku datang. Ustazah bercerita tentang Nabi Zakaria yang menunggu
puluhan tahun untuk memiliki anak, tapi tak pernah berhenti berharap. Tentang
sabar yang bukan berarti diam. Diam-diam aku menangis. Rasanya seperti
menemukan kembali sesuatu yang hilang. Bukan anakku, tapi imanku.
Malam itu aku membuka mushaf yang sudah lama tertutup
debu. Ayat pertama yang kulihat berbunyi: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu,
padahal itu baik bagimu.” (QS.Al-Baqarah:216). Aku membacanya berulang-ulang,
sampai air mataku berhenti di pipi. Mungkin kehilangan ini bukan hukuman,
melainkan cara Allah menyiapkan ruang di hatiku untuk belajar ikhlas.
Perlahan aku mulai tenang. Menjalankan kegiatan rutin
sebagai istri. Menyiapkan sarapan untuk suami. Terkadang membuat bekal makan
untuk dibawa ke tempatnya mengajar.
Suatu malam aku bermimpi berada di taman bunga yang luas
dan bercahaya. Seorang anak perempuan berlari ke arahku. Ia tersenyum memanggilku
“Ibu”.
Seketika aku terbangun dengan air mata di pipi. Kali ini
bukan perasaan sedih. Entah kenapa, aku merasa baru saja benar-benar memeluknya
walau hanya dalam mimpi.
Beberapa hari kemudian, aku mengajak suami ke makam kecil
belakang masjid, tempat janin bayiku dimakamkan. Rumput hijau tumbuh rapi di
sana. Aku menatap nisan kecil sembari berbisik,”Nak, Ibu belum sempat
menjagamu. Tapi Ibu tahu, Allah menjagamu dengan cara yang lebih indah.”
Tanganku digenggam terus oleh suami. Wajahnya juga basah
oleh air mata yang ia sembunyikan dengan senyum.
“Kau tahu,” katanya pelan, “Aku juga bermimpi tentangnya.
Dia datang padaku. Memelukku sebentar, lalu tersenyum.”
Aku menatap langit sore. Awan bergerak perlahan, seolah
membawa pesan dari langit. Untuk pertama kalinya sejak kehilangan itu, aku
benar-benar berkata, Alhamdulilah.
Kini setiap azan berkumandang, aku tidak menangis karena
kehilangan, tapi karena rasa syukur. Aku tahu, doa yang kupanjatkan selama
sepuluh tahun tidak pernah sia-sia. Mungkin jawabannya bukan anak di dunia,
tapi ketenangan hati yang akhirnya mampu berkata, “Aku ridha, ya Allah.”
Suatu hari nanti, ketika waktuku tiba. Aku yakin akan ada
seorang anak kecil berlari ke arahku di taman surga, memanggilku “Ibu”. Lalu
menggandeng tanganku. Hingga saat itu tiba, aku harus terus belajar mencintai
hidup meski tanpa pelukan kecil yang dulu kuimpikan. Aku sadar ternyata kehilangan
pun bisa menjadi bentuk cinta paling suci.
Kepanjen, 10 November 2025
Komentar
Posting Komentar