BANGKIT DARI TERSAKITI
Oleh Tea Terina
True
story …
Berapa lama waktu yang dibutuhkan agar
sembuh dari sakit hati? Barangkali tidak cukup dengan menghitung lamanya saja,
tetapi cara menyikapinya. Belum tentu sebulan,
enam bulan, setahun, atau bertahun-tahun, tergantung pribadi orang tersebut.
Seseorang yang menganggap persoalan rasa sakit hati secara enteng, dia tidak
butuh waktu lama agar sembuh dari lukanya. Berbeda dengan yang
sensitif, dia membutuhkan waktu untuk memulihkan rasa sakit hatinya.
Hampir setiap orang pernah mengalami sakit
hati, entah karena cinta yang bertepuk sebelah tangan, patah hati, akibat
kekerasan, perceraian, perselingkuhan,dan lain-lain. Tentu hal ini akan
memengaruhi kesehatan fisik dan mental. Tak jarang seseorang menghabisi nyawanya sendiri karena
tersakiti.
Cerita
perempuan yang tersakiti dalam rumah tangga, terkadang membuatku cemas. Rasanya
ada rasa takut menuju ke jenjang pernikahan. Memilih pendamping hidup yang tepat sangat
penting. Aku sudah melihat sendiri banyaknya pernikahan yang gagal di sekitarku
dan merasakan apa yang mereka sembunyikan. Benar-benar menyedihkan. Aku juga
perempuan seperti mereka dan bisa membayangkan apa yang dirasakan.
Di usiaku yang 29 tahun ini, aku mencoba
merenung dan belajar dari kisah perempuan yang tersakiti. Pengalaman dari dua
sahabatku ini akan menjadi pelajaran hidup agar berhati-hati dalam menuju
mahligai pernikahan.
Dua
sahabatku ini memiliki latar belakang berbeda. Yang pertama, sebut saja Della
sahabat SMK yang disukai banyak cowok. Dia tidak terlalu cantik, tetapi ramah
dan agak agresif pada cowok. Menikah menjelang
naik ke kelas 3 dengan teman sekelas. karena telanjur hamil dulu. Pendidikannya
terhenti dan pernikahan dilakukan secara sederhana. Semua temannya tidak
diundang, terkesan disembunyikan.
Aku membayangkan sahabatku telah bahagia
dengan pilihan hatinya. Apalagi setelah buah hati lahir, tentu mereka akan
merasakan kesempurnaan sebagai keluarga. Ternyata aku salah. Setahun setelah
menikah, Della datang dan menangis padaku. Dia tidak menduga Rio, suaminya
membuatnya sakit hati. Perlakuan kasar baik fisik maupun verbal, dia terima. Menu
masakan tidak enak atau baju tidak rapi, sudah keluar kata-kata kasar. Egonya
tinggi, segala kemauannya harus dituruti. Dia juga tidak berusaha mencari kerja
untuk membiayai keluarga kecilnya. Kebutuhan sehari-hari masih dicukupi orang
tua Della. Hal ini membuatnya ingin bercerai dari Rio. Namun, dia bingung harus
bagaimana karena suaminya mengancam akan mengambil hak asuh anaknya.
Jujur saat itu aku juga bingung, Della
meminta saranku. Setiap menemuiku matanya kelihatan sembab dan selalu mengeluh
nasibnya yang malang. Namun, aku tidak bisa memberikan solusi , hanya berucap
sabar bahwa ini ujian dari Sang Kuasa.
“Aku tak tahu harus bagaimana. Bayangkan
jika anakku tinggal dengan suami yang tidak mempunyai pekerjaan dan kondisi
orang tuanya yang memprihatinkan. Aku nggak mau pisah dengan Najwa!” teriaknya
menangis di depanku.
Beberapa bulan kemudian, proses perceraian
Della berakhir. Hak asuh anak di tangannya. Kemudian dia mencoba bangkit dengan melanjutkan pendidikannya yang sempat
terhenti dengan mengikuti ujian Paket C. Della tidak ingin berpangku tangan.
Berbekal ijazah tersebut, dia melamar pekerjaan sebagai karyawati dealer sepeda
motor.
Della yang masih muda dan ramah disukai
oleh rekan kerjanya. Bahkan, ada yang bermaksud menjadikan pacar. Namun, status
janda dengan satu anak yang disandangnya, membuatnya berpikir beribu kali untuk
menjalin hubungan dengan laki-laki. Della trauma. Dia masih belum percaya
dengan yang namanya laki-laki.
Perempuan yang kedua bernama Fany,
tetanggaku. Ayahnya merupakan orang terkaya di kampungku. Kisahnya hampir sama
dengan Della yaitu hamil di luar nikah. Bedanya Fany hamil di usia 23 tahun,
saat menjelang wisuda sarjananya. Fany hamil dengan pacarnya yang bekerja
sebagai sopir angkot. Cinta memang mengalahkan segalanya. Berbekal wajah
tampan, perhatian, dan romantis, pemuda asal Jawa Timur itu berhasil meluluhkan
hati Fany.
Ibu
Fany menangis sampai berhari-hari saat mengetahui anaknya hamil. Ia tidak
percaya karena anaknya mendapat didikan agama yang kuat. Ibunya tidak rela jika
anaknya yang lulusan sarjana menikah dengan laki-laki yang tidak lulus SMA dan
tidak sederajat dengan keluarganya. Maklumlah, ayah Fany adalah direktur bank
swasta yang cukup kaya. Namun, apalah daya mereka sebagai orang tua. Bayi
anaknya harus memiliki ayah. Pernikahan harus dilaksanakan untuk menutupi malu
sebelum aib itu tersebar ke mana-mana. Acara pernikahan dirayakan di rumah
secara mewah.
Saat anak Fany lahir, mereka bagai
pasangan muda yang berbahagia. Suami Fani tidak lagi menjadi sopir angkot,
tetapi menjadi karyawan travel besar milik sahabat ayah Fany. Meskipun masih
sopir, tetapi sudah beda kelas sehingga derajat keluarganya masih terangkat.
Begitu menurut pandangan masyarakat di kampungku.
Ternyata menjadi menantu keluarga kaya dan
istri yang cantik, tidak disyukuri oleh suami Fany. Pekerjaannya yang sering ke
luar kota dimanfaatkan untuk bersenang-senang dengan perempuan lain yang tak
lain karyawati mertuanya sendiri. Dan yang menjadi hati Fany hancur
berkeping-keping, perempuan itu sudah dinikahi siri oleh suaminya. Indahnya
pernikahan yang dijalani Fany berakhir. Tidak ada jalan lain, Fany langsung menggugat
cerai.
Setelah kejadian itu, hal yang dipikirkan
Fany adalah anaknya sering mencari ayahnya. Dia dan orang tuanya telanjur
memendam rasa benci, usaha mempertemukan anak dengan ayahnya hanya dalam angan.
Fany harus bisa mengarang cerita dan menghibur putri kecilnya agar melupakan
sosok ayahnya. Ia berniat akan menceritakan peristiwa yang sesungguhnya jika
putrinya sudah dewasa.
Tak ada gunanya larut dalam kesedihan.
Berbekal ijazah sarjananya, dia bekerja sebagai karyawati di salah satu perusahaan kenalan
ayahnya. Dua tahun kemudian, dia menikah lagi dengan teman SD nya yang
berprofesi sebagai guru Madrasah Aliyah. Laki-laki ini memberikan kebahagian
pada Fany dan putri kecilnya.
Della dan Fany adalah dua perempuan yang tersakiti.
Bisa jadi memberikan pelajaran bagi gadis-gadis lajang yang kini sedang
berpacaran. Perempuan berhak menentukan untuk menikah atau tidak, kapan
menikah, dan dengan siapa. Kita mempunyai hak untuk menentukan jalan hidup masa
depan karena kita ingin bahagia. Jangan sampai kita meraih kebahagiaan, tetapi
ada air mata kesedihan yang mengiringinya.
Menurutku, menjadi perempuan harus punya
harga diri. Jangan sampai menjadi murah demi cinta suci. Kesucian hanya untuk
laki-laki halal yang berkomitmen dan serius membina pernikahan. Bukan untuk
kekasih pendamba nafsu kemudian menyakiti.
Aku percaya pernikahan adalah saat
terindah bagi perempuan, jika terjadi dengan laki-laki yang tepat dan di saat
yang tepat. Mencintai seseorang memang tanpa syarat. Bukan karena harta,
jabatan, atau rayuan saja.
Terkadang seorang perempuan merasa
tertekan, jika sudah memasuki usia “rentan” di atas 25 tahun, kepanikan mulai
melanda. Keluarga dan orang-orang di sekitar akan bertanya “kapan menikah?”
hingga tidak sadar satu demi satu tertinggal oleh sahabat yang sudah”laku”
duluan. Keadaan tambah parah dengan seringnya perempuan pergi ke acara
pernikahan karena pertanyaan seperti itu berulang terjadi.
Sejatinya, perihal jodoh itu hanya akan
datang jika sudah sampai pada ketentuan-Nya. Mirip halnya dengan kematian yang
tak terduga kapan sampainya. Berharap pada manusia akan menjadi bencana. Memang
terasa sakit jika tidak berjodoh, tetapi kita harus percaya pada takdir Allah
karena rencana-Nya lebih indah dari rencana manusia.
Sadar atau
tidak, jodoh itu cerminan dari diri kita sendiri. Kita tidak perlu
memaksakan diri. Apalagi dalam Islam juga menegaskan bahwa laki-laki yang baik
hanya untuk perempuan yang baik, dan perempuan yang baik hanya untuk laki-laki
yang baik (QS An-Nuur:26).
Semoga kita bisa memetik kisah yang
dialami Della dan Fany yang mencoba bangkit dari rasa tersakiti sehingga bisa
melanjutkan kehidupan.
Profil
penulis
Tea
Terina, lahir 13 Juli di Malang, saat ini bekerja sebagai guru bahasa Indonesia
di SMPN 2 Pagak, Kabupaten Malang dan SMK Budi Utomo Kepanjen, Malang. Sarjana
S2 Unisma Malang ini sudah menulis 8 karya fiksi kumpulan cerpen dan 8 nonfiksi berupa
kumpulan artikel opini pendidikan kolaborasi guru se-Indonesia. Baginya
menulis tidak sekedar menuangkan ide, tetapi untuk menginspirasi siswa-siswanya
agar bisa meniru jejaknya.
Komentar
Posting Komentar