BERTAHAN DALAM BAYANGAN

Oleh Tea Terina

 

 

Kaujadikan aku kekasih bayangan

Untuk menemani saat kau merasa sepi

Bertahun lamanya kujalani kisah

Cinta sendiri

 

            Tiap kali mendengar lirik lagu yang dinyanyikan Cakra Khan, aku merasa seperti itulah diriku. Pikiranku tak bisa lepas dari sosok perempuan anggun yang enerjik.

Siang ini  aku harus menemuinya di suatu café dekat Alun-alun Kota Malang. Halamannya cukup luas. Terpaan angin sejuk menyapa ketika kakiku masuk ke sebuah ruangan yang bernuansa alam. Ada kolam kecil yang dikelilingi bunga amarilis. Bagian tembok belakangnya berbentuk batu cadas buatan. Tidak terlalu ramai, hanya beberapa anak muda yang serius dengan laptopnya sambil makan kentang goreng.

Sebenarnya aku enggan memenuhi permintaan Dzamira mengingat masih banyak orderan barang yang harus segera terkirim. Namun, demi dia apa pun akan kulakukan. Entahlah, mungkin aku termasuk laki-laki bodoh di dunia ini.

Untuk menarik perhatiannya, hari ini aku memakai topi merah, kaos polo hitam, dan celana jeans.

“Sudahlah, pokoknya kamu mesti datang! Demi aku Alan!” Suara di telepon pagi itu masih terngiang di telingaku. Seperti biasanya Dzamira tidak mau mendengar jawabanku, bisa datang atau tidak. Lagi-lagi aku luluh dengan permintaannya.

Seperti kali ini, ternyata dia sudah menungguku. Roman mukanya agak cemberut. Aku tergopoh menggapai meja, lalu duduk dengan nafas tersengal.

“Maafkan aku terlambat.” Dzamira terdiam. Kutatap matanya seperti menyimpan luka. Mata yang menjebakku pada rasa iba. Beberapa bulir air mata menetes di pipinya.

“Kenapa Mira?” tanyaku hati-hati. Dzamira menunduk.

“Sepertinya aku akan bercerai dari Robby.”

“Lalu?”

Rasanya aku tak begitu senang ketika mendengar kata cerai. Mungkin sudah beberapa kali dia mengatakannya, tetapi tidak jadi karena dia seorang perempuan pemaaf.

“Sepertinya, ini akhir dari semuanya. Aku tidak sanggup lagi. Aku lelah.  Aku tampaknya akan menyerah!”

Air matanya semakin tertumpah hingga mengenai rambut yang selalu tergerai di dadanya. Seketika aku merasa terpukau. Kenapa dia begitu cantik jika menangis? Aku seperti melihat rinai hujan di balik jendela kamarku.

“Oh ya? Benarkah?” tanyaku lagi dengan nada sinis.  Mata Dzamira tertuju ke bola mataku dengan tajam.

“Apakah kamu pikir aku bercanda?” katanya sambil membelalakkan matanya.

Aku berharap dia tidak bercanda. Namun, perempuan bermata indah itu, selalu mengatakan hal sama, berkali-kali. Jadi aku sudah bosan dan tak mempercayainya.

Seperti kali ini, apa yang mesti aku percaya? Ia lelah? Toh dia akan kembali dan kembali. Robby cinta sejatinya sedangkan dia cinta sejatiku. Aku dan Dzamira tidak jauh berbeda. Aku sangat tahu itu.

“Apa lagi yang Robby lakukan padamu, Mira? Sakit apa lagi yang kamu rasakan?” tanyaku setengah geram.

“Tak ada yang melebihi rasa sakit di sini!” katanya sambil menunjuk dadanya. Ada kesedihan yang sama di dadaku, yang kusediakan seluas lautan tempat melarungkan air mata dan segala kepahitan hidupnya.

“Lalu kenapa kamu masih bertahan?”

“Tiga minggu ini dia tidak pulang. Tak ada kabar. Berkali-kali aku telepon tak ada jawaban. Padahal hapenya aktif. Ibu mertua sudah kuhubungi, tapi malah menyuruhku bersabar karena itu tuntutan pekerjaan Mas Robby. Bayangkan harusnya dia memberi kabar. Di mana sekarang berada!”

“Sudah kau hubungi tempat kerjanya?”

“Sudah. Hanya pemberitahuan ke luar kota bersama Pak Bos.”

“Jangan-jangan …”

“Itulah yang Aku khawatirkan. Jangan-jangan dia sengaja tidak menghubungiku karena ada perempuan lain.”

Terkadang firasat perempuan selalu tepat. Aku mencoba menghibur kegalauan hatinya.

“Yakin?”

“Entahlah, kadang sulit menebak hati dan kelakuannya. Dia sosok temperamen, tapi bertanggung jawab dan melindungi anak dan istri.”

“Oke, buang jauh rasa curigamu.”

“Lalu, apa yang harus saya lakukan? Menunggunya sampai satu bulan? Rasanya aku ingin berpisah dengannya.”

“Secepat itu? Tidakkah kamu mencari informasi keberadaan Bosnya Robby. Barangkali ke istrinya?”

“Tidak, aku tak ingin orang lain tahu urusan keluargaku. Aku akan menunggunya sampai akhir bulan ini.” Rupanya dia menemukan jawaban permasalahannya

“Berarti kamu yakin tidak akan berpisah dengannya, kan?”

Sebenarnya ini pertanyaan paling bodoh karena aku sudah tahu jawabannya. Cinta yang membelenggu jiwanya, jiwaku. Jiwa kami!.

Aku semakin gerah. Tiba-tiba dadaku terasa sesak. Putaran kipas angin tepat di atas kepala sedikit membuatku pusing.

Bibir perempuan yang kukenal sejak SMA itu masih melontarkan kata-kata kepedihan, kekecewaan, sekaligus kemarahan. Telingaku masih setia menampung keluhannya. Entah sampai kapan aku setia menemaninya dalam duka, larut ke dalam rasa sakitnya. Tikaman yang berulang berubah menjadi candu.

Terkadang untuk waktu yang lama, Dzamira tidak menghubungiku hingga aku dilanda rindu. Mungkin saat itu Robby tengah menanamkan harapan-harapan untuk mengikatnya. Tentang hidup yang manis, tentang kebahagiaan, juga kehidupan yang lebih mapan.

Perempuan yang kucintai dengan sepenuh jiwa dan raga itu akan mencariku, jika merasa butuh untuk ketenangan jiwanya. Aku hanya laki-laki bayangan baginya yang dia butuhkan saat hatinya terluka. Sementara aku laki-laki yang tak pernah berhenti mencintainya, yang selalu berharap, dia benar-benar pergi dari kehidupan. Robby sahabatku sendiri yang selalu menikamkan luka bertubi-tubi, tapi tak cukup menghentikan cinta Dzamira kepadanya.

Dua jam kami berbincang, seperti biasa aku menjadi pendengar yang baik, menyediakan bahuku untuk sandaran kepalanya. Aku dengan sabar memberi nasihat padanya agar dia menjadi seorang istri yang tegar. Bertahan demi anaknya, bertahan demi sebuah harapan untuk masa depan.

Meski hatiku terluka seolah tersayat oleh sayatan yang paling tajam. Aku tetap memberikan suntikan semangat. Padahal jauh dalam hati, aku lebih membutuhkan suntikan semangat itu bahwa aku jangan lelah mencintainya. Bukankah cinta tak harus memiliki?

Ah, omong kosong bukan? Nyatanya aku tetap patah hati berkali-kali!

Sebenarnya aku lelah. Sialnya, apalah dayaku!

Senja mulai terlihat, setelah Dzamira pergi. Kutinggalkan café itu dengan nada gontai. Mencari bayanganku sendiri.

Di depan jalan daun-daun akasia berguguran, aku kembali mengeja kesunyian. Entah sampai kapan aku menjadi laki-laki bayangan untuknya.


Kepanjen, 10 Februari 2024

 

                                   

Komentar

Postingan Populer