HARI KEEMPAT PULUH
Tea Terina
Sirine ambulans meraung-raung di
keheningan malam. Dua perawat yang bertugas jaga malam di IGD Rumah Sakit
Husada Nusantara, bergegas keluar sambil
mendorong brankar. Di dalam ambulans, Verny meraung kesakitan. Pangkal pahanya
keluar aliran darah.
Para perawat bergegas mendorong
brankar memasuki ruang rawat. Sebagian ada yang sibuk menyiapkan peralatan
medis dan yang lain berlari memanggil dokter.
Setelah menunggu beberapa lama,
seorang dokter muda bergegas menuju remaja yang tengah kesakitan itu. Terlihat
infus terpasang di punggung tangannya. Luka-luka sudah dibersihkan dan
pakaiannya sudah diganti. Setelah melalui pemeriksaan, dokter berkumis tipis
itu keluar dari ruang rawat. Ia menghampiri wanita setengah baya yang sejak
tadi berdiri di dekat pintu.
“Bagagaiman keadaan anak saya,Dok?”
tanyanya cemas.
“Maaf Bu, kondisinya agak parah. Ini
harus dilakukan kuretase.”
Wanita berhijab biru itu langsung
terduduk lunglai. Satu persatu air matanya jatuh di pipinya. Tidak ada isakan,
apalagi raungan. Hanya desah napas yang berulangkali terdengar megiringi air
mata yang semakin deras. Penyesalan perlahan menelusup ke dalam hatinya.
***
Beberapa bulan sebelum kejadian…
Verny memasuki rumah dengan mengendap-endap
malam itu. Terbayang wajah ibunya jika ia pulang selarut ini. Remaja bertubuh
agak sintal itu baru pulang setelah berkencan dengan Vadel kekasihnya.
Langkahnya mengendap-endap menuju ruang tamu. Tiba-tiba lampu menyala.
“Pulang malam lagi!”
Verny menoleh. Mendapati wajah
garang ibunya yang menatap tajam.
“Tugasnya banyak,Bu. Baru selesai
hari ini,” jawab Verny dengan malas seraya meneruskan langkahnya menuju kamar.
“Mengerjakan tugas sekolah sampai
hampir jam 12 malam?!” Ibunya semakin marah. Dengan langkah cepat, ia menyusul
Verny yang sudah berbaring di tempat tidurnya.
“Verny capek, Bu. Mau istirahat!”
Tanpa menunggu jawaban ibunya , ia
langsung menutup wajahnya dengan bantal. Ibunya hanya bisa menghela napas
panjang. Heran akhir-akhir ini putrinya makin susah diatur.
***
“Verny, bangun!! Kamu terlambat lagi
ke sekolah!” seru ibunya dari ruang makan.
Dengan malas, Verny langsung melihat
jam di ponselnya yang menunjukkan pukul 06.45. Lima belas menit lagi pintu gerbang sekolah akan ditutup. Dengan
cepat, dia menelepon temannya.
“Sil, hari ini aku nggak masuk
kurang enak badan. Suratnya menyusul.”
“Nggak masuk lagi. Bu Dini nanti
curiga lagi. Kenapa setiap hari Senin kamu nggak masuk sekolah,” jawab
temannya.
“Sudahlah, besok aku bawa surat
dokter,” jawab Verny mematikan ponselnya. Lalu melanjutkan tidur.
Ibunya yang mendengar percakapan
Verny dari balik pintu, hanya menghela napas. Matanya memanas seiring hatinya
yang terasa perih. Setiap hari yang dirasakan selalu sama. Kesal dan marah pada
putrinya.
Ibunya sudah menjadi single
parent sejak empat tahun lalu. Perpisahan dengan suaminya sangat
menyakitkan hatinya. Laki-laki berusia 40 tahun itu lebih memilih perempuan
yang berprofesi sebagai DJ di sebuah diskotik tempat suaminya bekerja daripada
istrinya yang sudah menemani hidupnya mulai dari nol. Sejak saat itu ibunya
bekerja keras menghidupi dirinya dan putrinya.
Kesibukannya mencari nafkah tidak
mengenal lelah. Semula dia hanya mencoba usaha menerima pesanan makanan
kecil-kecilan. Kini berkembang menjadi usaha catering dengan konsumen yang
berlimpah. Namun, kesibukannya itu membuat hubungan dengan putrinya menjadi
renggang. Dia sering tidak punya banyak waktu untuk memperhatikan putri semata
wayangnya.
Terkadang ada perasaan bersalah
karena harus membiarkan putrinya hidup tanpa kasih sayang seorang ayah. Namun,
apalagi yang bisa dia lakukan? Dia tidak sanggup bertahan menghadapi mantan
suaminya yang suka main perempuan, mabuk-mabukan, dan main tangan.
Malam menjelang Isya, ibunya baru saja
pulang kerja. Dia melihat kamar putrinya tertutup. Tidak ingin mengganggu
anaknya yang sedang belajar. Tiba-tiba terdengar panggilan masuk melalui
ponselnya.
“Selamat malam. Apakah benar ini
dengan ibunya Verny?” tanya suara di ponsel.
“Iya benar. Ini siapa? Kenapa
handphone anak saya ada di Anda?”
“Anak ibu baru saja dibawa ke rumah
sakit. Kondisi lukanya agak parah.”
“Hah!!”
Ibunya langsung membuka kamar
putrinya. Kosong. Seprei dan bantal tak beraturan. Buku-buku berserakan di
mana-mana.
“Bagaimana kondisi anak saya
sekarang? Ini rumah sakit mana?! Ibunya sangat panik.
Si penelepon memberi tahu alamat
rumah sakit tempat Verny dirujuk. Bergegas dia menaiki sepeda motornya menuju
rumah sakit.
Verny belum sadar. Tetesan air mata
membasahi pipi ibunya. Diusapnya punggung tangan putrinya. Detik berikutnya
ibunya terkejut saat jemari putrinya bergerak.
“Verny. Kamu sudah sadar, sayang?”
tanyanya saat melihat kelopak mata putrinya terbuka.
Verny mengangguk dan memaksakan diri
tersenyum. Seketika raut wajahnya terlihat penyesalan.
“Jelaskan pada ibu. Apa yang
terjadi? Kenapa Vadel tega melakukan ini padamu?”
“Maafkan Verny, Bu.”
“Vadel, laki-laki bajingan! Tidak
bertanggung jawab!!”
Air mata Verny menetes. Terlihat dia
menahan sakit. Pendarahan pada rahimnya sangat banyak. Terlihat noda darah
membekas di sprei.
“Doakan operasinya lancar ya,Bu.
Saya ingin sehat lagi,” lirihnya.
***
Setelah operasi, Verny bersama ibunya
pulang ke rumah. Verny hanya bisa berbaring di tempat tidur. Entah sampai kapan
semuanya kembali seperti semula. Kadang dia merindukan udara segar, matahari,
dan suasana kelas yang menyenangkan.
Di hari pertama kedatangan Verny dari
rumah sakit, hampir semua teman-temannya datang menjenguk. Begitu pula para
tetangga. Melihat kondisi Verny yang begitu memprihatinkan, tidak sedikit yang
menangis.
Beberapa hari kemudian, teman-teman Verny
kembali datang. Tidak sebanyak sebelumnya. Namun, itu bisa sedikit menghibur.
Ah, andai setiap hari temanku datang, pikirnya. Bibi dan paman dari ibunya juga
datang.
“Ah, mungkin semuanya sibuk, jadi tidak
bisa menjengukku,” pikir Verny.
Seharian berbaring di dalam kamar
membuatnya merasa ada sesuatu yang berbeda. Awalnya Verny tidak memikirkannya.
Namun, semakin hari Verny mulai ketakutan.
Setiap hari menjelang magrib, Verny
melihat sekelabat bayangan. Mulanya hanya sekilas, tapi semakin lama bayangan
itu mulai jelas. Sosok berpakaian putih panjang menebarkan bau amis yang
menusuk hidung berdiri di sudut kamar. Matanya merah menatap melalui lubang
ventilasi jendela.
Entah mengapa, Verny merasa terus didekati
sosok berambut panjang itu. Malam itu dia berteriak memanggil ibunya.
“Bu..Bu… tolong ke kamar Bu!”
Beberapa saat ibunya datang dan duduk di
tepian ranjang. Menemani hingga pagi.
***
Verny membuka matanya. Jam menunjukkan
pukul satu dini hari. Angin dingin mulai terasa. Seperti ada perasaan kuat yang
memaksanya untuk melihat ke sudut kamar. Lalu matanya beralih ke ventilasi
udara. Gelap. Begitu pun dengan jendela kamar, tak ada apa-apa.
Terdengar suara garukan dari jendela kamar
seperti kuku yang mencakar kaca. Suaranya berdecit. Saat Verny menoleh, ada
bayangan hitam di sana. Jika pada malam sebelumnya, sosok itu hanya berdiri,
kali ini kedua tangannya menggaruk-garuk kaca jendela.
“Ibu,” desisnya ketakutan.
Dilihatnya ventilasi udara. Ada sepasang
mata merah di situ. Menatap Verny tanpa berkedip. Tiba-tiba , kuku-kuku hitam
terlihat memaksa masuk ke celah-celah ventilasi.
“Ibu… aku takut!” teriak Verny.
Tiba-tiba terdengar suara perempuan
tertawa nyaring memenuhi kamar. Aroma mawar yang menusuk. Arahnya dari sudut
kamar. Sosok berpakaian putih seperti merangkak di dinding kamar. Posisinya
aneh. Tubuhnya terbalik.
Kepalanya menoleh ke arah Verny. Tawanya
melengking lagi.
Verny mulai histeris memanggil ibunya.
Verny memejamkan mata sambil menutup kedua telinga dengan tangannya.
“Verny …” Pintu terbuka bersamaan dengan
suara ibunya.
Sejenak ibunya berhenti di pintu kamar.
Memandang ke setiap sudut lalu menghela napas. Verny sadar, ibunya tidak
melihat seperti apa yang dilihatnya. Seperti hari-hari yang lalu ibunya duduk
di tepi ranjang. Menenangkannya, menunggu sampai Verny tertidur hingga pagi.
***
Hari ini, setelah sekian lama tidak ada
yang datang, beberapa temannya mulai menjenguk. Mereka masuk ke kamar dan
menghibur Verny. Seperti biasa mereka meluapkan rasa rindu. Salah satu
sahabatnya yang setiap datang berhijab hitam, menanyakan kabar Vadel.
Vadel, sosok yang dulu dicintai, sekarang
menjadi benci.
“Dia tidak pernah ke sini,” kata Verny
lirih.
“Memang dasar playboy. Ternyata pacarnya
tidak hanya Verny,” kata temannya yang berkaca mata.
“Harusnya kamu lapor ke polisi Verny. Dia
sudah menghancurkan masa depanmu.”
Verny hanya terdiam. Pembicaraan tentang
kejelekan Vadel, cukup melegakan Verny. Setidaknya dia tahu siapa sosok Vadel
yang dikenalnya di diskotik saat itu.
Teman-temannya berpamitan pulang pada
ibunya dengan wajah sedih. Suasana kembali sepi. Verny sendirian di kamar lagi.
***
Mata Verny terbuka. Desis angin dingin
sangat terasa. Entah kenapa ada perasaan aneh yang tidak biasa.
Krekk! Krek!!
Terdengar garukan di jendela kamar lebih
keras dari sebelumnya. Verny mengawasi jendela dengan tegang seolah-olah di
luar ada sosok yang akan memaksa masuk. Kaca jendela bergetar. Ada suara
berdecak, tapi tidak sekeras suara garukan kuku di jendela.
Pandangan Verny beralih ke atas ventilasi
udara. Suara tawa terkekeh-kekeh menggema seisi ruangan. Aroma mawar muncul
lagi. Ada sosok yang merangkak lagi di dinding. Sekarang ke luar menuju
ventilasi.
“Pergi! Pergi!” teriak Verny sambil
menutup wajahnya dengan selimut.
Garukan di jendela berubah menjadi decitan
keras. Suaranya membuatnya terengah-engah. Terlintas di pikirannya perbuatan
yang dilakukannya bersama Vadel. Perbuatan dosa yang tidak layak dilakukan.
Kenikmatan yang dirasakan saat cinta pertama. Verny yang masih polos harus
kehilangan mahkotanya.
Tiba-tiba suara dentuman terdengar. Asap
putih memenuhi ruang kamar.
“Ibuuu…!” Verny memanggil dengan
ketakutan.
Pintu kamar terbuka. Sosok bayangan
menghilang bersamaan dengan kedatangan ibunya, sama seperti malam-malam lalu.
Kali ini ibunya terlihat berbeda. Dia berpakaian hitam sambil membawa buku
kecil di tangan.
Rupanya ibunya ingin menenangkan Verny
dengan membaca ayat suci Al Qur’an. Verny heran dengan sikap ibunya.
“Untuk apa ibu baca ayat suci? Memangnya
aku kesurupan? Apa ibu mulai percaya , di rumah ini ada makhuk gaib yang
menggangguku,” pikir Verny.
Ibunya terlihat sedih. Duduk di tepi
ranjang. Menghela napas, lalu menepuk-nepuk selimut yang terlipat rapi. Verny
melihat air matai bunya yang terus-menerus mengalir. Perlahan dia mengusap
dengan ujung hijab hitam yang dikenakannya.
“Verny … ini sudah 40 hari. Ibu sudah
tidak bisa menemanimu di sini,” bisiknya. Lalu bibirnya mulai melantunkan Surat
Yasin. Bersamaan dengan itu muncul asap tipis yang satang menyelimuti Verny.
“Tenanglah di alam sana ya, Nak.”
Tamat
Kepanjen,
10 September 2024
Komentar
Posting Komentar