Ibu Rindu Kamu, Nak!
Tea Terina
Sekiranya
boleh berandai-andai, Bu Anggi ingin anaknya ada yang laki-laki. Kalau bisa
yang bungsu. Bayangannya jika kelak sudah sudah waktunya berumah tangga, anak
laki-lakinya tidak akan tega meninggalkan dirinya. Apalagi di rumah sebesar
ini. Rumah peninggalan almarhum suaminya yang berpulang enam bulan lalu. Namun,
Allah berkehendak lain, tiga anak perempuan lahir dari rahimnya.
Dulu
bersama suaminya, dia membesarkan mereka
dengan suka duka. Hingga waktu beranjak dewasa, ketiga anaknya meninggalkannya
selepas menikah. Tinggallah dia sendirian Sunyi selalu dia rasakan setiap hari.
Selepas salat subuh, memasak,
membersihkan ruangan, dan memberi pakan ayam. Jenuh? Pastilah.
Berita-berita atau acara hiburan di televisi tidak membuatnya terhibur.
Hape canggih pemberian anaknya hanya untuk
menelepon, melepas rindu. Sebenarnya Bik Sari tetangganya yang usianya lebih
muda 5 tahun darinya, pernah menyuruhnya buka konten-konten di youtube. Tentang
kisah hidup perempuan, acara memasak atau tausiyah agama agar tidak jenuh.
Namun, Bu Anggi tetap tidak tertarik. Baginya suara anaknya di telepon dan
kehadiran anak-anaknya lebih membahagiakan.
“Akhir-akhir
ini jangankan menengok, sekadar menghubungi lewat WA anak-anak sudah tidak
sempat. Selalu aku yang menelepon dulu. Apa tidak ingat ya kalau mereka punya
ibu yang sudah tua ini,” keluhnya pada Bik Sari siang itu.
“Mereka
masih punya anak-anak kecil. Apalagi si Elsa anakmu yang jadi guru itu, baru
saja melahirkan. Terus Diana yang rumahnya di Jakarta, tentu mikir jika ke Malang. Berat di ongkos,
Buk…”hibur Bik Sari.
Menjelang
bulan Ramadhan dia menginginkan anak-anaknya pulang. Setidaknya ziarah ke makam
ayahnya.
“Maaf,
Bu. Kali ini Elsa tidak bisa. Mertua lagi di rumah, Dia punya rencana beli baju
untuk persiapan lebaran.”
Bu
Anggi langsung paham. Perempuan usia 65 tahun itu perasaannya tersayat-sayat.
Dia membatin, haruskah menanggung rindu terus?
“Bu,
aku nggak bisa pulang sekarang. Mungkin pas lebaran saja. Coba hubungi Mbak
Elsa dan Mbak Diana? Siapa tahu, bisa menemani ibu selama Ramadhan,” jawab Ayu,
anaknya nomor tiga yang rumahnya di Jogja.
Bu
Anggi berusaha tegar atas penolakan itu. Masih berharap ketiga anaknya bisa
mengunjungi saat Ramadhan. Tak lupa doa-doa dipanjatkan agar Allah melembutkan
hati mereka dan mampu menangkap isyarat kerinduan seorang ibu.
Malam
itu selepas salat Isya, dia menghubungi Elsa, putri sulungnya.
“Assalamu’alaikum.
Elsa. Ibu harap kamu sekeluarga baik-baik saja. Kapan kamu menyempatkan
menengok ibu? Eh, mertuamu bisa lho kamu ajak ke sini. Ibu ingin semua
anak-anak ibu bisa ke sini semua. Merasakan berpuasa di rumah peninggalan ayah
kalian …”
Belum
lagi perkataan ibunya selesai, Elsa telah menyela. Serentetan kalimat memaksa
perempuan berambut putih itu menghela nafas panjang.
“Duuuh,
maaf Bu. Kayak ibu tidak tahu kesibukanku di rumah saja. Mertuaku nggak mau Bu
diajak ke Malang. Meskipun cuti kerja, aku di rumah nggak pernah istirahat.
Mana bayiku masih satu bulan. Nggak mungkin, kan Ramadhan ini aku harus
meninggalkan Mas Wisnu sendirian. Siapa nanti yang menyiapkan makanannya dan
beres-beres rumah jika aku ke sana?!”
“Oh
… kalau sibuk sekali tidak jadi saja. Kasihan suamimu. Tidak apa-apa. Ibu akan
baik-baik saja. Ibu akan menghubungi Diana. Siapa tahu dia bisa mengunjungi
ibu.”
Nada
dering masuk. Hatinya gamang. Dadanya dirayapi getar-getar aneh. Dia tidak
yakin Diana akan menjawab panggilannya. Ternyata benar, berkali-kali dihubungi
tapi tidak ada yang menjawab. Akhirnya ia menutup panggilan teleponnya.
Esoknya
setelah sarapan, dia menghungi Diana lagi. Berharap di jam-jam seperti ini,
anaknya tidak sibuk di tokonya. Ternyata sahutan Diana justru terdengar keras. Hal
ini membuat dadanya terguncang. Seketika perempuan kurus itu seperti ditikam
sebilah belati. Sakit sekali! Suara Diana di hape membuat matanya berurai.
Sejak kapan putrinya berani membantah dan bicara ketus pada ibunya sendiri.
“Aduh,
Bu! Mana bisa aku pulang? Selama puasa, tokoku pasti ramai. Apalagi pas
lebaran. Jadi aku masih ragu, nanti bisa pulang atau tidak! Kenapa tidak ibu
minta pada Mbak Elsa dan Ayu saja untuk menemani?”
“Sudah
Nak! Tak perlu kau suruh, ibu sudah menghubungi mereka!” Namun, kata-kata
itu tak keluar dari lisannya. Bu Anggi sibuk menyeka air mata yang memenuhi
pelupuk matanya. Sebisa mungkin menahan isakan agar tak terdengar.
“Baiklah
kalau begitu. Biarkan ibu sendirian di rumah. Sudah bisa, kok. Kamu teruskan
saja jualan. Semoga rezekimu sekeluarga berlimpah.” Hatinya seperti teriris.
Perih rasanya. Kemudian, dia tumpahkan tangisnya di ruang tamu.
Dulu,
saat suaminya masih ada, Bu Anggi merasakan bahagia bersama putrinya. Kini,
ketiganya sudah menikah. Dia mencoba memahami situasi ini. Bagaimanapun juga,
anak-anaknya sudah menjadi istri yang harus berbakti kepada suaminya. Kesibukan
berumah tangga sedikit demi sedikit mengubah perangai mereka.
Bulan
Ramadhan tahun lalu, Bu Anggi masih bisa menjalani bersama suaminya sehingga
tidak kesepian. Tapi sejak suaminya dipanggil Sang Kuasa, puasa Ramadhannya
penuh dengan kesepian. Barangkali lantaran usianya sudah semakin senja.
Kesedihan begitu mudah menghampirinya.
Matanya
menerawang. Tatapannya kosong. Bayang masa lalu muncul. Saat putrinya membantu
menyiapkan takjil kolak pisang dan dawet. Elsa bagian memarut kelapa, kedua
adiknya mengiris pisang dan buah labu. Ayu paling suka mencetak dawet. Diana
lebih sering membuat adonannya. Elsa bagian mencicipi rasa.
Elsa
yang pendiam dengan tubuh tinggi terlihat begitu cantik. Diana yang cekatan
dengan tubuh sedikit berisi. Ayu bertubuh mungil dengan karakter suka ngambek.
Mereka bertiga mampu menghangatkan suasana hari-harinya bersama suami. Rumah
selalu riuh dengan keceriaan, tawa, canda, dan perdebatan ketiganya.
Sore
menjelang magrib tiba-tiba getaran hape menggugahnya. Dia menatap layar ponsel.
Tiga pesan berantai dikirim hampir
bersamaan. Pesan pendek dari ketiga putrinya.
Ibu
sudah kutransfer. Minta Bik Sari mengambilkan!
Uang
sudah dikirim Bu. Maaf ya Bu tidak bisa ke rumah
Bu,
uangnya sudah saya transfer. Kalau kurang, bilang ya
Hidup
Bu Anggi bergantung pada kiriman uang anak-anaknya sejak suaminya meninggal. Padahal,
warisan sawah yang ditinggalkan suaminya sangat luas. Namun, sawah itu sebagian
dijual untuk membiayai kuliah anak-anaknya. Yang terakhir dengan berat hati,
dia harus merelakan sawah yang satunya dijual untuk modal toko sembako Ayu.
“Nanti
kalau usahaku berjalan lancar, akan kukembalikan semua modal dari ibu,” rayu
Ayu agar ibunya mau menjual sawahnya, tepat 40 hari setelah kepergian ayahnya.
“Tapi,Nak.
Sawah itu peninggalan ayahmu yang rencananya akan disewa.”
“Tolonglah,
Bu. Ibu kan sudah tua. Tak perlu sawah lagi. Lagian Mas Agus baru di-PHK. Apa
ibu mau melihat keluarga Ayu kelaparan?” bujuk Ayu.
Perempuan
itu terpaksa merelakan sawahnya dijual. Rupanya Ayu sudah menawarkan kepada
orang lain sebelum minta persetujuan ibunya. Meski harganya terlalu murah. Tapi
itu demi kebahagiaan anaknya.
Senja
terus merangkak. Bu Anggi akan salat di masjid. Seketika hatinya terasa kosong.
Kerinduan kepada suaminya semakin membuncah. Biasanya mereka berangkat bersama
menuju masjid dekat jalan raya.
Selesai
salat Magrib, Bu Anggi masih berdiam diri sambil berdzikir. Menunggu sampai
Isya. Kedua kakinya cepat lelah jika harus bolak-balik ke masjid. Beberapa
perempuan ada yang masih duduk di
masjid. Di antaranya ada Bu Juanah tetangganya yang sudah dianggap seperti
keluarganya.
“Ramadhan
sebentar lagi. Anak-anak pasti pulang,” kata Bu Juanah.
“Tidak!
Mereka tak ada waktu berkunjung ke sini.”
“Wah,
suasana rumah pasti pasti sepi. Tapi jangan khawatir, nanti aku akan
sering-sering ke rumah,” hibur perempuan itu sembari memegang tangan Bu Anggi.
Terkadang
ada rasa iri pada perempuan seusianya itu yang setiap Ramadhan selalu
dikunjungi anak-anaknya.
Ramadhan
telah tiba. Bu Anggi berusaha bersemangat menjalani puasanya. Namun, hatinya
tak bisa berdusta. Dia masih merindukan kehadiran ketiga buah hatinya. Saat
sahur dan buka bersama dilakukan sendiri. Bu Juanah hanya sesekali datang
memberi takjil dan menemaninya ngobrol. Itu sedikit menghiburnya.
Seminggu
sebelum lebaran, Bu Anggi mulai sibuk dengan membuat kue lebaran. Dia membuat
kue kacang dan nastar agak banyak lantaran mengingat cucu-cucunya pasti segera
pulang.
Hari
berganti tak terasa akan memasuki bulan Syawal. Sebentar lagi takbir
berkumandang. Kenapa tak seorang anaknya belum juga menghubunginya? Kegelisahan
mulai melanda. Tangannya sibuk menekan nomor ponsel ketiga putrinya. Namun,
semuanya nihil. Mereka susah dihubugi. Rasa kecewa makin menyeruak. Tak berapa
lama, tiba-tiba kepalanya terasa pening. Badannya panas. Peluh dingin
bercucuran sekujur badan.
Kondisinya
makin melemah. Mau tak mau harus terus berbaring. Rasa nyeri, panas, dingin,
dan tak nyaman terus membelenggu.
Bu
Juanah curiga. Malam tarawih terakhir, dia tidak melihat Bu Anggi. Hatinya
tidak enak. Pintu rumahnya selalu tertutup. Mencoba mengetuk rumahnya. Beberapa
kali salam tidak ada yang menyahut. Lampu depan rumah belum juga menyala. Dia
membatin, kenapa rumah ini begitu sepi? Kemana Bu Anggi? Duh, jangan-jangan dia
kenapa-kenapa.
“Bu!
Aku Juanah. Apa ibu baik-baik saja?”
Di
kamar, Bu Anggi dengan lemah mencoba bangkit. Matanya berkunang-kunang.
Tubuhnya mendadak kaku. Dengan memaksa diri, dia berjalan tertatih. Begitu anak
kunci diputar, tiba-tiba tubuhnya terjatuh.
Bu
Juanah berteriak minta tolong. Beruntung Bik Sari dan beberapa tetangganya
segera datang. Mantri desa segera memeriksa tubuh yang semakin lemah itu. Bu
Juanah berusaha membangunkan.
Rupanya
detak jantung Bu Anggi telah berhenti. Air mata Bu Juanah seketika merebak.
“Innalillahi
wa inna ilaihi roji’un.”
Perempuan
itu sudah tidak tertolong lagi. Seiring takbir berkumandang, kabar meninggalnya
Bu Anggi disampaikan kepada masyarakat.
Pada
lebaran hari ketujuh, anak-anaknya baru datang. Mereka kaget rumah dalam
keadaan sepi. Ketukan di pintu terdengar seperti tidak sabar. Raut keheranan
mulai membayangi ketiga anaknya. Bik Sari yang melihat kedatangan mereka, lalu
menghampiri.
“Kami
mencoba menghubungi kalian. Tapi nomor kalian tidak aktif. Sebenarnya ada apa?
Kalian telah lupa dengan ibu? Kalian telah mencampakkan!”
Semuanya
termangu. Tangisan dan rasa sesal tak bisa dibendung lagi.
Tamat
Malang,
14 Juli 2025
BIONARASI
Tea Terina, guru Bahasa
Indonesia di SMPN 2 Pagak dan SMK Budi Utomo Kepanjen. Penyuka dunia literasi.
Karyanya berupa kumpulan cerpen sudah banyak diterbitkan. Harapannya melalui
tulisan dapat membagi ide-ide positif kepada pembaca.
Facebook : Tea Terina
Instagram : teaterina
Komentar
Posting Komentar