Langkah Kecil dari Bu Haira
Tea Terina
Dengan langkah tenang tapi pasti, Bu Haira menuju gerbang
SMP swasta. Sekolah yang dikelilingi sawah dan perkebunan ini, jauh dari
perkampungan. Terlihat bangunan satu lantai dengan empat ruang kelas berjajar. Dinding- dindingnya terbuat dari
batako yang catnya mulai pudar dan terkelupas karena cuaca. Ini hari pertama Bu
Haira mengajar setelah satu bulan lalu diwisuda di perguruan tinggi. Meski
ijazah belum keluar, ia memberanikan diri melamar bekerja sebagai guru.
Beruntung permohonan sebagai tenaga guru langsung disetujui kepala sekolah.
Sebelum masuk kelas, Bu Haira berpapasan dengan Pak
Sholeh, guru olahraga yang baru saja keluar kelas.
“Ibu
akan masuk kelas ini? Ibu harus kuat
mental ya? Kelas ini paling nakal. Guru-guru yang pernah mengajar banyak yang menyerah.
Jika sekarang terjadwal di kelas ini, itu karena terpaksa. Rata-rata mereka tutup
telinga jika kondisi tak terkendali,” katanya tersenyum.
Bu Haira membuka pintu kelas 8. Suara gaduh menyambutnya.
Beberapa siswa berdiri di atas meja. Satu kelompok bermain kelereng di pojok
belakang. Seorang anak melempar kertas ke arah temannya. Terlihat papan tulis
hitam penuh dengan coretan kata-kata umpatan dan gambar tengkorak.
“Selamat pagi,” ucap Bu Haira sambil tersenyum.
Tak ada respon. Hanya dengusan dan tawa. Bu Haira
memperhatikan wajah-wajah di hadapannya. Ada siswi di barisan depan yang
menatapnya dengan waspada. Di
belakangnya siswa bertubuh besar yang tangannya tak lepas dari korek api. Deret
belakang pojok tampak anak laki-laki tinggi
kurus duduk sambil terus berbicara dengan temannya.
“Bu
guru baru ya?” tanya anak itu menyeringai. “biasanya cuma tahan dua minggu.
Rekor saya bikin guru cabut cuma empat hari.”
Tawa pun pecah. Bu Haira berusaha tersenyum ramah.
Setelah itu ia melakukan presensi nama siswa satu persatu. Saat menyebut nama
Elgha Saputra. Siswa itu meletakkan kedua kakinya di atas meja. Tak merespon
panggilan Bu Haira.
“Hmm … jadi anak itu namanya Elgha.” Ia manandai nama itu
dengan bulatan tinta merah di bukunya.
Bu Haira menatap Elgha. Lalu berjalan ke papan tulis dan
menghapus tulisan. Ia menuliskan namanya: BU HAIRA. Di bawahnya, ia menulis
kalimat : Bahasa adalah jendela untuk melihat hati.
“Hari ini, kita belajar membuka jendela ilmu.” Bu Haira
menatap ke isi ruangan. Antara percaya diri dan cemas menghadapi siswa di kelas
ini.
Hari-hari
berikutnya dijalani Bu Haira dengan penuh tantangan. Tidak hanya masalah
kelakuan, tapi tugas bahasa Indonesia juga sering tidak dikumpulkan. Paling
parah setiap kali masuk kelas, selalu ada tulisan kata-kata jorok di papan
tulis. Bahkan sepatunya pernah disembunyikan saat cuaca hujan.
Malam hari sebelum tidur, ia menulis tentang kegagalannya
dalam mengajar di buku harian. Kadang meragukan pilihannya sebagai guru. Namun,
setiap kali hendak menyerah, Bu Haira teringat sorot mata siswi yang duduk
paling depan. Ia mencoba mengingat namanya. Gadis itu satu-satunya yang paling
bersemangat belajar. Ada sesuatu harapan yang ingin diraihnya. Yah, namanya
Intan.
Esok
hari Bu Haira ingin mengubah strategi mengajarnya. Pikirannya mulai tersusun
strategi agar siswa di kelas 8 serius belajar dan berubah sikapnya.
Pagi itu Bu Haira menyuruh siswa kelas 8 menuju halaman
belakang sekolah. Gemericik sungai kecil dekat sekolah menjadi irama yang
menyenangkan. Semua diminta duduk di bawah pohon randu besar dekat Sungai.
“Anak-anak, hari ini kita belajar sambil duduk di alam
terbuka,” kata Bu Haira dengan senyum lebar. Beberapa siswa yang biasanya ramai
seketika terdiam.
“Kita akan membuat puisi dengan tema
pengalaman pribadi. Isi puisi boleh berisi kisah yang menyedihkan,
membahagiakan atau yang menakutkan. Terserah kalian.”
Setelah
itu Bu Haira membagikan selembar kertas folio bergaris kepada setiap siswa
dibantu Intan. Elgha menggigit ujung pulpen, menatap sepeda motor yang
terparkir di belakang tembok kelas. Lalu menuliskan kalimat demi kalimat. Tiba-tiba
ia mencoretnya dan membuang kertas ke sungai kecil. Hal itu dilihat Bu Haira. Ia
memberikan selembar kertas lagi.
“Kamu
pasti bisa menulis puisi lebih baik lagi.
Yang paling penting kamu harus jujur dengan perasaanmu,”kata Bu Haira.
Perempuan usia 26 tahun itu duduk di samping Elgha. Diliriknya bait-bait puisi
yang ditulis anak itu. Sontak ia menutup tulisannya dengan tangan kirinya.
Beberapa
siswa ada yang tidak mengerjakan tugasnya.
Ada yang membiarkan kertas itu kosong. Bahkan ada yang sengaja membuat
gambar sungai. Melihat kejadian itu sebenarnya Bu Haira ingin marah. Tapi
tekadnya untuk menyadarkan siswa agar serius belajar, membuatnya meredam
emosinya. Dari duapuluh siswa, yang mengumpulkan hanya sepuluh.
Saat
mengoreksi hasil puisi siswa, ada satu yang menarik perhatiannya. Ternyata
milik Elgha. Sebagian bait puisi dibacanya.
Rumah itu suara
motor di depan gang
Yang kutunggu tapi
tak pernah datang
Rumah itu suara
nenek memanggilku makan
Tanpa tanya
bagaimana hariku berjalan.
Hari-hariku penuh
dengan kegalauan
Ada yang memisahkan
tak sesuai harapan
Aku ingin pergi
meninggalkan kenangan
Aku ingin pergi tapi
tak ingin ada penderitaan
Aku ingin pergi
dengan kedamaian
Tapi haruskah aku pergi dalam keadaan tertekan?
Bu Haira membaca pusi itu berkali-kali. Kata-katanya
sederhana, tapi mengandung kesedihan yang dalam. Ia menyimpannya diam-diam.
Lalu ia ketik dan mengirim puisi itu ke Festifal Literasi Sekolah Tingkat SMP.
Saat pengumuman lomba, seluruh warga sekolah terkejut.
Puisi Elgha memenangkan juara kedua. Kepala sekolah memanggil ke depan untuk
menerima penghargaan, tapi Elgha menolak. Ia berdiri di depan kelas menatap Bu Haira.
“Saya nggak butuh pujian,”katanya pelan. “Saya nulis itu
karena Bu Haira menyuruh jujur. Tapi saya nggak mau orang tahu saya lemah.”
Bu Haira menatapnya, tak membalas kata. Ia hanya
mengangguk. Perubahan sikap anak laki-laki itu, datang perlahan. Elgha mulai bisa
menghargai guru. Anehnya, apa yang
dilakukan Elgha diikuti teman-temannya. Apakah karena Elgha menang lomba puisi?
Lalu seluruh guru kini mengakui kehebatan Elgha? pikir Bu Haira.
Kelas 8 yang dulu dijauhi, kini mulai menjadi contoh
dengan cara mereka sendiri. Bukan jadi siswa paling rajin, tapi siswa yang
mulai peduli dan saling menghargai.
Ketika
Bu Haira sakit selama seminggu dan digantikan guru lain, suasana kembali kacau.
Guru pengganti sering marah. Sampai akhirnya Elgha berdiri.
“Pak,
Bu Haira nggak pernah teriak. Tapi kami dengerin dia. Karena dia nggak pernah
ninggalin kami.”
Guru
pengganti terdiam. Keesokan harinya, kepala sekolah beserta beberapa guru
berkunjung ke tempat kos Bu Haira.
“Bu
Haira tidak hanya mengajar, tapi menyentuh hati mereka,” kata kepala sekolah.
Saat
kenaikan kelas Bu Haira menulis catatan untuk setiap murid kelas 8. Catatan
kecil berisi satu kalimat yang ia pelajari tentang mereka. Untuk Elgha, ia
menulis: Kamu tidak nakal. Kamu hanya menunggu seseorang melihat kamu utuh.
Haira
tidak tahu, apakah mereka membacanya. Tapi seminggu kemudian, ada surat kecil di
atas mejanya. Tulisannya rapi.
Bu
Haira
Saya
masih bingung dengan hidup. Tapi sekarang saya tahu. Saya nggak sendiri. Terima
kasih sudah bisa mengubah hidup saya
dari-E-
Bu Haira
menatap papan tulis yang kosong hari itu. Ia tahu jejak pelajaran bisa hilang.
Tapi jejak yang tertinggal di hati, itulah yang abadi.
Kepanjen, 20 Mei 2025
Komentar
Posting Komentar