MENJEMPUT BAYANG SURGA

Tea Terina

 

 

Perempuan bergincu merah itu membetulkan bulu matanya di depan cermin. Sesekali  melirik jam dinding. Pukul sepuluh lebih lima menit.  Makin jarum panjangnya bergeser, makin cepat pula perempuan itu mematut sambil mengedip-edipkan matanya. Sepuluh menit ia merapikan riasannya yang sedikit menor. Secepat mungkin ia harus pergi, tanpa berpamitan kepada gadis kecil berusia sembilan tahun yang sejak tadi berdiri di belakangnya.

Perempuan itu melangkah keluar, menutup daun pintu pelan-pelan sampai tak menimbulkan bunyi sedikitpun. Dari dalam rumah, Dhea  menyingkap tirai. Dari kaca ia  melihat ibunya dijemput seorang lelaki yang berbeda tiap malam.

Dhea tidak pernah  mendengar dongeng sebelum tidur sebagaimana kerap dituturkan oleh seorang ibu kepada anaknya. Ia  kesepian seorang diri di kamar. Dhea tidak pernah tahu siapa nama ayahnya, apalagi mengetahui seperti apa wajah  ayahnya. Semula Dhea mengira seorang lelaki yang datang menjemput ibunya ke rumah  adalah ayahnya sendiri.

Dhea tertidur.  Dalam pejam matanya mendadak ia ingat saat pertama kali bertanya kepada sang ibu perihal siapa ayahnya dan di mana keberadaaannya. Ia sungguh ingin menemui ayahnya itu di mana pun berada. Pertanyaan Dhea malah dijawab dengan tamparan keras yang mendarat di pipinya. Mata perempuan itu membelalak. Seolah tidak ingin anaknya menanyakan ayahnya.

Kemarahan Aninta, bukan tak beralasan. Saat itu ia  terbaring sakit selama sebulan setelah melahirkan Dhea. Sebelum itu juga, seorang  dukun beranak harus mengurut perutnya yang buncit sampai ia harus merasakan sakit yang teramat karena posisi bayinya sungsang. Jadi wajar saja jika Aninta murka dengan pertanyaan Dhea perihal lelaki yang menanamkan janin di rahimnya itu.

Sampai sekarang Aninta tidak pernah tahu sperma siapa yang berhasil membuahi rahimnya.  Perempuan itu tidak pernah menghitung berapa jumlah lelaki yang tidur dengannya dalam semalam. Ia tidak pernah mau ambil pusing soal itu. Baru setelah Aninta terlambat datang bulan, pikirannya mulai bercabang-cabang menduga-duga jika ada sesuatu yang tumbuh dalam perutnya.

Perempuan berusia 30 tahun itu  tak pernah berharap ada janin tumbuh dalam perutnya, terlebih ia sendiri tidak tahu siapa lelaki yang berhasil membuahi rahimnya tersebut. Dukun beranak yang biasa ia panggil Budhe itu  menggelengkan kepalanya. Ia menolak permintaan Aninta membantu menggugurkan kandungannya.

“Saya tidak mau menanggung dosa.”

“Ini aib. Bantulah saya membuang aib ini, Budhe. Sama sekali tidak berdosa, justru pahala bagi, Budhe,” katanya agak bingung.  Aninta terus membujuk, mencoba meluluhkan hati Budhe. Namun, perempuan yang biasa menolong orang melahirkan tetap teguh pendirian.

“Jaga kandunganmu sampai lahir. Semoga anak yang kau kandung itu menjadi penolongmu di surga.”

Sepanjang perjalanan pulang Aninta  memikirkan ucapan Budhe. Kata-katanya dahsyat hingga menyentuh ulu hatinya terdalam. Pikiran Aninta bercabang, antara mempertahankan bayi dalam kandungannya atau menggugurkannya.

Butuh waktu lama bagi Aninta  mengambil keputusan. Tidak mudah bagi perempuan seperti Aninta memutuskan persoalan rumit yang tengah ditimpakan Tuhan kepadanya. Berhari-hari Aninta berpikir keras, mencari keputusan yang pas sampai akhirnya mengambil sikap tetap merawat janin yang tumbuh dalam perutnya itu.

Selama sembilan bulan Aninta harus membiarkan dirinya dikutuk, dikata-katai oleh para tetangga. Selalu setiap pagi, gendang telinga Aninta mendengar orang-orang mengatainya sebagai pendosa, bahkan mengutuknya. Aninta hanya tersenyum menerima cibiran dan cacian itu apa adanya. Aninta  mengaku bukan perempuan suci.

“Jangan ulangi lagi pertanyaan, siapa ayahmu. Masih untung kau lahir ke dunia, masih untung kamu dirawat!”

Sejak itu, Dhea tidak  berani lagi bertanya soal siapa ayahnya. Ia  memahami cerita yang dituturkan ibunya. Tak terhitung berapa kali  air matanya  jatuh di atas bantal. Menangis bukan karena pekerjaan ibunya, tetapi ia merasa kenapa dirinya dilahirkan tanpa tahu siapa ayahnya.

 

***

 

Menjelang sore, entah malaikat dari mana yang mengetuk hati Dhea. Ia mulai memberanikan diri ikut mengaji di mushola bersama teman-teman seusianya. Meski terbata-bata, tetapi ia niatkan. Ia juga belajar salat pada Ning Agis, mahasiswi jurusan agama yang menjadi guru mengaji anak-anak kampung. Sampai akhirnya, ia diperkenalkan dengan Hajah Sawitri, ustadzah di kampungnya yang mempunyai jam tebang tinggi dalam berceramah.

Di hadapan Bu Hajah, Dhea menceritakan siapa dirinya. Sesekali Ning Agis membantu menjelaskan keberadaannya.

“Dhea ingin belajar agama, Bu Hajah. Beberapa hari ia ikut pengajian bersama anak-anak lainnya. Ia juga ingin belajar salat. Maklumlah di rumah tidak ada yang mengajari salat,” kata Ning Agis sambil membetulkan jilbab gadis kecil itu.

“Ibu tidak pernah mengizinkan saya pergi ke masjid. Ibu takut saya diolok-olok,” katanya sambil menunduk.

“Mulai sekarang kamu niatkan terus mengaji di mushola ya?  Insya Allah nanti saya dan Ning Agis membantumu.”

Hari berikutnya Dhea sudah agak terbuka dengan teman mengajinya. Ia juga sudah berani  membuka siapa sesungguhnya dirinya.  Ia disambut baik oleh anak-anak yang lain. Mereka menerima Dhea apa adanya. Meskipun terkadang masih ada ucapan yang  menyinggung perasaannya. Hajah Sawitri   mengagumi kepandaian Dhea dalam belajar mengaji. Sangat cepat ia menangkap pelajaran mengaji dari Hajah Sawitri dan Ning Agis.

Hampir satu bulan Dhea belajar mengaji di masjid. Aninta tidak memperhatikan gelagat mencurigakan dari anak gadisnya. Tiga bulan ini, ibunya selalu berangkat bersamaan dengan adzan Magrib dan saat itu pula Dhea melangkah kakinya  ke mushola. Pernah Dhea terlambat datang karena ibunya mengunci pintu rumah dan membawa serta kunci itu. Dengan susah payah Dhea terpaksa lewat jendela.

Setiap selesai mengaji, Hajah Sawitri  sering menceritakan kisah para nabi. Tidak hanya itu, Hajah Sawitri juga membuka pertanyaan pada mereka mengenai apa pun. Mata Dhea berbinar-binar ketika Hajah Sawitri menuturkan  mukjizat yang dimiliki para nabi.

“Apa ada nabi yang dilahirkan tanpa seorang ayah?” tanya Dhea sambil menatap Bu Hajah Sawitri. Perempuan berhijab hijau  itu tersenyum. Ia tahu ke mana maksud pertanyaan Dhea.

“Ada. Dia adalah putera Maryam. Nabi Isa.”

“Saya tak tahu siapa ayah saya. Apa ibu saya itu seperti Maryam?”

“Hanya ada satu Maryam di dunia ini. Selebihnya Wallahu A’lam.”

“Apakah seorang anak bisa menyelamatkan ibu dari ancaman api neraka?” tanya Dhea.

“Terputuslah semua amal manusia ketika ia meninggal, kecuali tiga hal, pertama sedekah, kedua ilmu yang bermanfaat, ketiga doa anak saleh yang senantiasa mengalir kepada orang tuanya. Itulah sebabnya seorang anak harus selalu mendoakan orang tuanya.”

Dhea menghela napas, melegakan tenggorokannya yang terasa tersumbat sejak tadi.

Dhea pun terobsesi menyelamatkan ibunya dari ancaman api neraka.

“Ibu, jangan keluar malam lagi ya?” tanya Dhea dengan hati-hati. Ia bahkan mulai punya nyali menegur ibunya agar berhenti pergi dengan laki-laki. Dhea  juga sering mengingatkan kematian. Namun, hal itu dibalas ibunya dengan cubitan di paha dan lengan.

 

***

 

Sudah tiga hari Aninta tidak pulang ke rumah. Barangkali karena Dhea kerap berbicara kematian. Hal ini membuatnya sedih. Ia terus memikirkan ibunya. Dengan mata sembab, ia  berdoa memohon agar Tuhan memanggil ibunya pulang ke rumah.

 Esok hari terdengar suara ambulans meraung-raung di sepanjang kampung. Berhenti di depan mushola. Dua orang laki-laki mengeluarkan keranda. Lalu menuju rumah salah satu warga. Ternyata itu jasad Aninta yang ditemukan tewas di salah satu hotel.

Hajah Sawitri datang menguatkan Dhea. Gadis itu terus dalam dekapannya. Kematian ibunya dengan cara tragis  membuat matanya menerawang, membayangkan ibunya berada di tepi jurang neraka. Tubuhnya diseret, lalu dilempar ke dalam api telaga. Sekejap api telaga itu mampu mengelupas seluruh kulit Aninta, sekejap pula tubuh itu hancur seperti sediakala dan begitulah terus menerus yang akan terjadi. Alangkah menakutkan bayangan itu di mata Dhea.

Penguburan dilakukan setelah asar . Saat jasad Aninta dibaringkan di liang lahat,  Dhea menabur bunga-bunga di atas pusara. Terus-menerus mulut Dhea membaca doa dengan mata menengadah ke langit petang yang temaram. Dhea melihat doa-doa itu bertarung di atas langit sebelum akhirnya sampai ke hadirat Tuhan.

 

Malang, 30 September 2021

 

 

Profil Penulis

Tea Terina, lahir 13 Juli di Malang, saat ini bekerja sebagai guru bahasa Indonesia di SMPN 2 Pagak, Kabupaten Malang dan SMK Budi Utomo Kepanjen, Malang. Sarjana S2 Unisma Malang ini sudah menulis 10 karya fiksi kumpulan cerpen dan 10 nonfiksi  berupa   kumpulan artikel opini pendidikan kolaborasi guru se-Indonesia. Baginya menulis tidak sekedar menuangkan ide, tetapi untuk menginspirasi siswa-siswanya agar bisa meniru jejaknya.

 

 

 

Komentar

Postingan Populer