Missed Call

Tea Terina

 

 

Vita baru tiba di kosnya. Tote bag berisi diktat kuliah langsung dilemparkan ke tempat tidur. Dengan cepat ia merebahkan diri. Hari yang cukup melelahkan setelah kerja kelompok dengan temannya hingga pukul 21.00.

Tiba-tiba ponselnya berdering. Antara sadar dan tidak karena sudah hampir terlelap. Vita melihat siapa yang menelepon. Ada panggilan masuk, tapi di layar ponsel tidak dikenal dan tanpa nomor.

“Siapa malam-malam iseng, seperti nggak ada kerjaan saja!” kata Vita dalam hati.

Sudah menjadi kebiasaannya jika Vita paling malas mengangkat telepon dari nomor asing atau nomor yang tidak dikenalnya. Tak jarang ia langsung mematikan panggilan masuk tersebut. Tak berselang lama, ponselnya berbunyi lagi dan untuk kedua kalinya Vita menolak panggilan itu. Lima menit berselang, ponsel berbunyi lagi. Masih dengan tulisan sama”tidak dikenal”. Kesabaran Vita mulai habis. Ia angkat teleponnya.

“Halo! Siapa ini?!” sapa Vita dengan suara ketus.

Di layar ponsel muncul warna hitam. Sekilas Vita teringat adegan film horor Korea yang pernah ditonton di lap topnya.

“Tapi … ah mana mungkin ada hantu. Itu kan cuma di film,” kata Vita dalam hati.

“Halo!! Siapa sih ini? Kurang kerjaan ya? Ganggu orang tidur saja!” Vita mulai emosi. Terdengar jawaban dari si penelepon, bersuara cowok  menyapa mesra.

“Halo sayang … kamu lagi apa? Aku kangen sama kamu,” katanya.

Vita berusaha mengingat siapa pemilik suara itu. Althaf, kah? Cowok keturunan Arab yang suka memperhatikannya tanpa berkedip jika ia presentasi? atau Axel, cowok tinggi kurus yang suka pinjam catatannya? Rasanya suara itu tidak dikenalnya. Apalagi pakai panggilan sayang-sayang pula. Hmm … mungkinkah Danish? Cowok jurusan Hukum yang sering ditemui di perpustakaan? Ah, nggak mungkin! Danish keturunan Cina, seleranya pasti sama etnis dan seiman.

“Sayanggg! Tolooong aku! Aku butuh bantuan kamu sekarang,” balas suara si penelepon makin mesra.

Tiba-tiba bulu kuduk Vita merinding. Ingatannya melayang pada telepon setan yang dua bulan lalu pernah heboh di kampusnya. Namun, setelah diselidik oleh pihak kampus, suara setan itu berasal dari hasil rekaman mailbox milik seseorang yang kurang kerjaan.

“Jangan kurang ajar ya! Kalau mau iseng, cari saja sana pacarmu! Jangan ganggu orang lain!” katanya dengan nada marah. Langsung ditutup ponselnya.

Esok malam, pukul 23.00 kejadian  sama terulang lagi. Ada panggilan dari nomor yang tidak dikenalnya. Kali ini Vita tidak menghiraukan.

“Pasti cowok gila yang semalam iseng mau ngerjain saya lagi!” kata Vita dalam hati.

Malam berikutnya, nomor yang tidak dikenal menelponnya lagi. Kali ini Vita penasaran. Lalu ia mengangkat ponselnya. Lagi-lagi di layar terpampang warna hitam.

“Hallo …” sapa Vita lirih.

“Sayang, kamu sedang apa? Aku kangen sekali.” Masih suara yang sama.

“Aku … aku …,” gumam Vita agak gemetar.

“Sayanggg, tolong aku. Aku butuh kamu ke sini sekarang,” lanjut suara itu semakin melemah.

Vita makin penasaran. “Baiklah, bagaimana aku bisa menolongmu? Siapa kamu? Mau minta tolong apa?” balas Vita memberanikan diri.

Dalam hati ia masih mencoba menebak-nebak siapa di antara temannya yang mungkin berbuat iseng.

“Hmm … kok seperti suara Arga, kakaknya Putri. Tapi nggak mungkin, ah! Arga selama ini tidak akrab denganku. Lagi pula ketemu baru sekali. Atau jangan-jangan Hanson yang terkenal cowok jahil itu? Masa sih? Dia kan tidak tahu nomorku?”

“Kamu datang saja ke kafe Atalia di Jalan Sumber Wuni nomor 25,” sambung si penelepon menyadarkan Vita.

“Nah kan? Kalau si penelepon hantu nggak mungkin memberikan alamatnya secara lengkap,” pikir Vita lagi.

“Eh, tunggu!! Tapi kamu siapa?” Vita mencoba lebih meyakinkan diri.

“Namaku Nizam,” balas si penelepon pelan.

“Nizam? Nizam siapa ya?” sela Vita.

Tut … tut … telepon terputus. Vita kesal, “Ah, ngapain juga aku pikirin,” gumamnya sambil berusaha memejamkan mata bersiap tidur. Kali ini ia sudah bisa tidur nyenyak.

 

***

Keesokan harinya saat mata kuliah Pengantar Psikologi, Vita  tidak bisa fokus menyimak materi yang dijelaskan dosennya. Pikirannya menerawang pada peristiwa semalam. Mata kuliah yang disukainya  sudah tidak menarik perhatiannya.

Selesai kuliah, Vita menceritakan peristiwa yang dialaminya beberapa malam pada Eleny. Eleny salah satu sahabatnya yang paling akrab dengannya. Ia hampir tidak percaya mendengar cerita Vita.

Untuk membuktikan, mereka mendatangi alamat yang dimaksud si penelepon misterius itu. Eleny rupanya tahu arah menuju Kafe Atalia, tapi tidak pernah berkunjung ke sana. Apalagi Vita, semenjak kos di Kota Malang selama satu tahun ini, hanya satu kafe yang pernah dikunjunginya. Itu saja karena diajak Eleny.

Satu jam perjalanan, mereka tiba di Kafe Atalia. Dari halaman parkir terlihat beberapa mobil mewah yang berjejer rapi. Sebelah pintu masuk tampak tanaman yang menjalar ke dinding. Di bawahnya bunga amarilis merah dan gladiol berbunga sangat indah. Vita berdecak kagum.

“Kita ngapain dulu di sini?” tanya Vita lirih. Matanya tak lepas dari interior kafe yang terlihat mewah. Eleny bersikap agak tenang.

“Ssst … kita pesan minuman dulu saja,” bisik Eleny.

Beberapa pelayan kafe berlalu lalang. Rata-rata cowok dengan tuxedo hitam dan ada inisial nama di dadanya. Vita memperhatikan nama-nama itu. Ia berharap menemukan nama Nizam. Mereka pesan 2 minuman cappuccino yang harganya Rp 18.000. Minuman  paling murah pada daftar menu. Ada lagi French Friest toping keju harganya Rp 25.000. Harga yang sesuai dengan kantong mahasiswa perantauan yang kondisinya tidak terlalu kaya seperti mereka.

Vita menuju kasir menyerahkan daftar pesanannya. Kasir berhijab ungu itu sangat ramah dan selalu tersenyum pada pengunjung kafe. Vita memberanikan diri untuk bertanya.

“Mbak, apa di sini ada karyawan bernama Nizam?” tanya Vita lirih.

“Maaf, Kakak siapa?” tanya kasir itu dengan ekspresi kaget.

“Vita. Nizam menyuruhku datang ke sini,” jawab Vita lirih.

“Kapan dia menyuruh Kakak ke sini?” Ekspresi gadis itu terlihat muram.

“Dua hari yang lalu. Maaf, dia … dia …sebetulnya baru aku kenal. Dia menyuruhku datang ke kafe ini.”

Seketika wajah gadis itu kaget. Lalu dia menulis sesuatu di balik kartu nama dan diberikan ke Vita.

“Kak, ini nomor hape aku. Hubungi di atas jam 8 malam setelah aku selesai kerja.”

Sebetulnya ada yang ingin ditanyakan Vita, tetapi gadis itu tidak memedulikannya. Dia lebih mengutamakan pelanggan yang antre di belakang Vita.

Saat meninggalkan kafe, Vita masih sempat melirik ke bagian kasir. Namun, kerumunan pengunjung kafe yang antre membayar di kasir, menghalangi Vita melihat gadis itu.

“Nizam kerja di sini ya?” tanya Eleny saat berada di parkir kafe.

“Belum tahu. Tapi gadis kasir itu sepertinya mengetahui sosok Nizam. Ia memberikan nomor hapenya,” bisik Vita.

Malamnya Vita mencoba menghubungi nomor yang diberikan gadis kasir. Lalu muncul  jawaban “nomor sedang berada di luar jangkauan. Vita mencoba mengirim WhatsApp dengan mengetik “Saya Vita yang menemui Kakak di kafe tadi siang”. Setelah itu ia mematikan hapenya.

Pagi hari saat membuka hape, ada pesan masuk dari nomor yang diberikan gadis kasir. “kak silakan  datang ke rumah bercat kuning sebelah stasiun kereta api.”

Vita segera mengirim pesan ke Eleny tentang hal ini. Mereka sepakat ke rumah itu selesai kuliah sekitar pukul 4 sore.

 

***

 

Stasiun kereta api hanya berjarak 1 kilometer dari kampus. Tidak begitu sulit mencarinya. Alamat itu menunjukkan sebuah rumah sederhana dengan pekarangan yang luas, ada pohon mangga yang sedang berbuah. Rumah itu terawat dengan baik.

Vita langsung menekan tombol bel. Tak ada sahutan dari dalam. Kring! Kali ini Eleny yang menekan bel. Tetap sepi, tak ada sahutan dari pemilik rumah.

Kring! Kring! Tangan Vita tak sadar menekan tombol bel itu lagi. Keluarlah seorang perempuan berpakaian gamis batik dengan langkah tergopoh-gopoh.

“Maaf, cari siapa ya?” tanya perempuan berusia sekitar 50 tahunan itu.

“Hmm …apa benar ini rumahnya Nizam?” tanya Vita.

“Iya, benar di sini rumahnya Nizam, tapi …” nada suara perempuan itu tercekat.

“Ada apa ya, Bu?” tanya Eleny.

“Oh, maaf! Mari silakan masuk dulu Nak! Sebentar, aku ambilkan minum dulu,” sambungnya.

Di ruang tamu, Vita melihat foto keluarga yang terpasang di dinding. Vita menduga, salah satu laki-laki di foto itu pasti Nizam.

Tak lama menunggu, perempuan itu keluar membawa dua gelas teh. Lalu  duduk di depan mereka. Ia mempersilakan minum.

“Maaf , ini temannya Nizam di kantor  ya?” tanya perempuan itu membuka percakapan.

“Hmm …bukan Bu.” jawab Eleny lirih.

“Lho, kalau begitu siapa? ada apa ke sini?” tanya perempuan itu dengan penuh selidik.

“Vita, Bu. Dan ini Eleny. Nizam ada di rumah, kan Bu?” tanya Vita mulai penasaran.

“Maaf, apa tidak tahu kalau Nizam sudah meninggal dunia. Kemarin 40 harinya,” jawab perempuan itu terlihat sedih.

Deg!! Keduanya kaget dan saling berpandangan.

Vita ingin memastikan jika perempuan itu berbicara jujur. Mana mungkin orang sudah meninggal bisa menelepon seseorang. Apalagi memberikan alamat dengan jelas.

“Maaf, Bu. Bisa diceritakan kejadiannya bagaimana?”  tanya Vita tidak percaya.

“Nizam itu putra kedua keluarga ini. Dia meninggal karena kecelakaan mobil. Saat kecelakaan itu, Nizam sedang menerima telepon dari pacarnya sambil menyetir mobil. Ia tidak sadar jika di depannya ada truk yang melaju kencang. Mobilnya ringsek parah. Tubuh Nizam tergencet dan hampir tidak dikenali lagi.” Mata perempuan itu berkaca-kaca.

Mendengar cerita itu, wajah Vita kelihatan pucat. Bulu kuduknya merinding. Eleny yang saat itu sedang minum, hampir menjatuhkan gelas . Lalu perempuan itu masuk ke kamar.  Tak lama keluar lagi dengan membawa sebuah foto.

“Ini foto Nizam.”

Foto seorang cowok berkaos polo putih, agak brewok, mirip aktor Reza Rahardian sedang merangkul seorang gadis berhijab. Mereka kaget, gadis itu mirip dengan kasir di Kafe Atalia.

“Ini pacarnya ya? Apa dia kerja di kafe, Bu?” tanya Vita.

“Benar. Ini Non Shafira yang kerja di kafe.”

Akhirnya keduanya pamit tanpa memberi tahu alasan datang ke rumah Nizam. Perempuan itu pasti tidak percaya jika ia dihubungi oleh Nizam yang ternyata sudah meninggal!

Ketika sampai di tempat kos, hari sudah menjelang maghrib. Tiba-tiba ponsel Vita yang ada di saku, bergetar. Vita membaca tulisan di layar “Tidak dikenal.” Seketika bulu kuduknya berdiri. Dengan hati-hati dia mengangkat ponselnya. Sayup-sayup terdengar suara cowok, “Terima kasih kamu telah datang ke rumah.”

Sontak Vita  melempar ponselnya. Eleny menenangkan Vita yang masih terkejut dan hampir pingsan.

Setelah ditelusuri, ponsel second yang baru beberapa hari dibeli Vita di toko dekat kampus, ternyata milik Nizam. Mungkin saat terjadi kecelakaan, ada orang yang memanfaatkan mengambil ponsel lalu menjualnya.

Vita memutuskan menjual ponselnya dan membeli yang baru. Mereknya sama dengan yang lama, hanya layarnya sedikit tergores.

Malam hari saat Vita hampir terlelap, tiba-tiba ponselnya berdering. Dengan sigap ia langsung mengangkatnya. Lagi-lagi di layar tidak bernama.

“Terima kasih kamu telah datang ke rumah,” bisik suara di ponsel.

Arwah Nizam!! Vita langsung tak sadarkan diri.

 

TAMAT

 

 

 

Kepanjen, 10 Januari 2025

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan Populer