MISTERI HILANGNYA FAY
Tea Terina
Raja
Ampat, Papua
Fay merasakan dingin yang luar biasa di
bawah ke dalaman 17 meter air laut. Berkali-kali dia harus menggerakkan
jari-jari tangannya agar tidak kaku. Sebelum menyelam, instruktur selamnya
selalu mengingatkan agar saat berada di laut, perasaannya tidak boleh gugup
atau takut. Lalu Fay mencoba mengakrabkan dengan ikan berwarna-warni yang
lalu-lalang di depannya. Tangannya digerak-gerakkan layaknya penari. Matanya
takjub saat seekor ikan berwarna biru
keunguan melintas di depannya.
Konon ribuan spesies ikan dan biota lautnya
menjadi surga bagi fotografi bawah air. Warna-warni terumbu karang dan hutan
karang yang luas menciptakan pemandangan bawah air yang menakjubkan. Dia kini
membuktikan, bawah laut Raja Ampat memang surga bagi petualang seperti dirinya.
Entah berapa menit dia menghabiskan waktu
menyelam. Setelah puas, dengan pelan dia naik ke permukaan menuju posisi kapal.
Tiba-tiba saat menuju ke dekat lambung kapal kepalanya terasa sakit. Buliran
air mulai masuk ke pernapasannya. Tubuhnya terasa mengikuti arus laut yang tak
begitu deras. Tubuhnya seperti terseret dalam pusaran. Lalu semuanya tampak
gelap!
***
Sayup-sayup terdengar alunan musik lembut.
Tubuhnya yang lemah sulit untuk digerakkan.Pandangannya kabur. Dia baru sadar
pakaiannya telah berganti menjadi longdress putih dengan renda tile di dadanya.
Dia merasa asing.
Sebuah lukisan Monalisa dengan senyum
misteriusnya terpampang di depannya. Sebelah lukisan terlihat seperti akuarium
besar dengan panorama ikan berwarna-warni dan batu karang. Pelan-pelan dia
bangkit dari tempat tidur yang empuk itu.
“Sudah sadar,Sis?”
Suara lembut tiba-tiba muncul di ruangan
itu. Fay menoleh ke arah perempuan cantik berambut pirang yang berpakaian
seperti dirinya.
“Aku berada di mana?” tanya Fay yang mulai
merasakan keanehan.
“Di tempat yang aman. Kami menemukan kakak
terombang-ambing di dalam laut. Silakan istirahat dulu,” kata perempuan itu
dengan Bahasa Indonesia yang kurang fasih.
Perempuan itu lalu ke luar dari ruangan.
Dengan langkah yang tertatih , Fay menuju ke akuarium besar. Sebuah karang
besar dan ikan berwarna-warni dengan berbagai ukuran melintas di dalamnya.
Matanya semakin di dekatkan pada kaca untuk melihat lebih jauh.
“Ini pemandangan bawah laut. Ya Allah, ini
seperti kapal selam!”
Perasaan cemas mulai muncul. Bayangannya
sebuah penculikan.
“ Diculik? Ah … mana mungkin. Aku tak
punya musuh. Orang tuaku juga bukan orang kaya yang bisa membayar uang tebusan
untuk melepaskan sandera. Atau aku memang ditolong oleh sindikat rahasia yang
menolongku saat menyelam?” pikirnya.
Lagi-lagi dia membayangkan kisah dalam
novel yang minggu lalu selesai dibaca. Fay mulai memutar ingatannya dan mencoba
meruntut kejadian yang dialaminya. Tapi … tiba-tiba dia tak bisa mengingat
apa-apa. Ingatan terakhir saat berada di air laut.
Mimpikah aku?
Meski banyak pertanyaan di otaknya, tapi
rasa penasaran untuk mengetahui keberadaan tempat ini mulai muncul. Dengan
langkah hati-hati Fay melewati lorong berdinding besi. Langkahnya berhenti di
sebuah ruangan yang pintunya terbuka sedikit. Samar-samar terdengar pembicaraan
suara laki-laki. Dia lalu duduk bersimpuh dekat pintu besi tersebut.
“Apakah kamu yakin, perwira itu tidak
membocorkan lokasi ini?!”
“Tidak! Saya memerintahkan Jessen agar
selama perjalanan ke Desa Oxyvia nanti, semua jendela mobil ditutup.”
“Sekarang sudah ada 20 perwira yang siap
mengikuti latihan rahasia ini.”
Lewat celah kecil, Fay melihat dua orang
berpakaian militer meski hanya tampak punggung. Tiba-tiba ada seseorang menarik
tangannya. Ternyata perempuan muda yang berada di ruangan tadi. Dia
mengisyaratkan agar Fay segera berlalu. Perempuan itu mengajaknya menuju tangga
bawah. Sebuah ruangan yang agak gelap, tapi masih ada cahaya lampu sekitar 5
watt yang tergantung di ruang tersebut.
“Duduklah Sis, … namaku Maria. Kakakku
salah satu staf Angkatan Laut yang bekerja di sini. Sudah dua bulan aku disuruh
mengikuti misi rahasia ini. Sebetulnya aku tidak mau. Dia sengaja memisahkan
aku, suami, dan anakku karena ia tidak setuju atas pernikahanku.”
Wajah Maria kelihatan sedih dan pucat.
Buliran air mata terlihat pada bola matanya yang kecokelatan.
“Kenapa kakakmu tidak setuju?” tanya Fay
lirih.
“Katanya … suamiku seorang agen rahasia
yang mempunyai 2 kewarganegaraan. Aku tidak tahu kenapa kakakku mengatakan hal
ini. Ini sulit dipercaya! Selama ini yang aku tahu suamiku bekerja di sebuah
restoran dekat pelabuhan. Dia juga suami yang baik.”
Lalu perempuan berusia sekitar 30 tahun
itu, menunjukkan sebuah foto hitam putih yang sudah usang. Foto itu bergambar
dirinya, suami, dan putrinya yang masih kecil dengan pakaian mirip orang zaman
dulu.
“Nama suamiku Jovan dan anakku Theresa.
Aku mencintai mereka. Kabarnya suamiku ada di penjara. Kamu tahu … penjara bagi
seseorang yang diketahui sebagai mata-mata,….sangat menyiksa!”
“Jika aku di posisimu, aku pasti juga
bersedih,” kata Fay lirih.
“Dan anakku Theresa … aku tidak tahu
bagaimana nasibnya.”
Perempuan itu kembali terisak. Beberapa
kali dia mengusap air matanya dengan syal rajut putih di lehernya. Wajahnya
sebenarnya cantik, tapi kesedihan telah menutupi kecantikannya.
“Semoga dia berada di tempat yang aman.
Tapi aku yakin kakakmu tidak membiarkan seorang anak kecil berada dalam
pengasuhan yang salah,” hibur Fay.
Dugg!!! Dug!!!
Tiba-tiba terjadi guncangan. Ruangan
sempit itu bergetar. Benturan keras membuat Fay dan perempuan itu jatuh
terduduk. Lalu terdengar alarm di seluruh ruangan. Dari luar terdengar teriakan
berkali-kali.
“Maria!! Cepat keluar!!”
Teriakan dari atas mengagetkan mereka.
Perempuan itu dengan sigap menarik tangan Fay. Dengan langkah cepat dan napas
terengah-engah, Fay mengikuti perempuan itu menuju ke sebuah ruangan yang agak
luas. Ruangan berdinding besi yang dipenuhi senjata di sekitarnya.
Fay kaget. Di situ berkumpul sekitar 20
laki-laki berwajah Asia. Fay tidak bisa memastikan apakah wajah itu
berkebangsaan Indonesia, Malaysia, atau Filipina. Semuanya berpakaian kaos
hijau lumut dan celana warna senada. Tak lama kemudia guncangan berhenti.
Fay dan Maria bersembunyi di sebuah ruang
yang sempit. Menurut Maria, kakaknya melarang dirinya menampakkan diri di depan
orang-orang yang sedang latihan.
“Latihan akan dilaksanakan 10 menit lagi!
Masing-masing segera memakai peralatan selam!” teriak laki-laki bule bertubuh
gempal.
Dengan reflek kedua puluh laki-laki itu
memakai pakaian selam, masker, snorkel, fins, sabuk pemberat, pisau selam,
sarung tangan, dan scuba. Lalu satu persatu ke-20 laki-laki tersebut ke luar
dari pintu selam. Dari kaca bulat di dinding besi terlihat mereka menyelam
dengan sangat terampil.
Tubuh Fay bergidik melihat peristiwa
itu. Dia mulai membayangkan keselamatan dirinya. Apakah dia bisa lari dari
tempat ini. Dilihatnya Maria yang berada di sebelahnya tertidur bersandar pada setumpuk
karung.
Saat keadaan sepi, Fay memberanikan
diri melihat seragam yang berjejer rapi di tempat itu. Ada sesuatu yang menarik
perhatiannya. Sebuah seragam bertuliskan
nama Handoyo tergantung di hanger. Warnanya
usang dan tekstur kainnya menunjukkan baju yang sudah lama.
“Dia pasti orang Indonesia,” pikir Fay.
Dia mulai merencanakan sesuatu di otaknya.
***
Sementara itu di ruang depan nakhoda
kapal. Ada 4 orang yang tampak serius berbicara.
“Misi rahasia sudah dilaksanakan,” kata
laki-laki bule dengan senyum liciknya.
“Kita harus memastikan ke duapuluh orang
itu tidak pulang ke negaranya. Mereka sudah terlatih dan bisa menjadi andalan
kita di sini!”
Pria botak berkumis tipis seraya
terbahak-bahak. Di tangannya sebuah cerutu yang masih setengah diletakkan dekat
tumpukan kertas.
Di tempat Fay menyelinap, matanya menatap
sosok laki-laki yang baru saja latihan selam. Anehnya dia hanya sendiri masuk
ke ruangan itu. Tatapan matanya kosong, tak ada kelelahan di tubuhnya yang
biasanya terjadi pada orang selesai latihan. Setelah meletakkan tabung scuba,
laki-laki itu mengambil baju bertuliskan
nama HANDOYO.
“Ssst…Bapak Handoyo,” bisik Fay.
Laki-laki itu menoleh ke arah Fay. Raut
wajah orang Indonesia, berusia sekitar 40 tahunan. Tubuhnya kurus tapi dadanya
bidang.
“Bapak Handoyo… aku Fay Indonesia.”
Laki-laki itu hanya menatap dengan tatapan
kosong tidak berkedip. Wajahnya kelihatan pucat. Fay agak sedikit takut untuk
mendekat.
“Aku Handoyo, perwira Angkatan Laut
Indonesia,” jawabnya datar. Belum sempat Fay bertanya lebih lanjut, tiba-tiba
terdengar bunyi alarm.
Kepulan asap keluar dari balik pintu ruang
dekat nakhoda. Beberapa orang sibuk mematikan api yang bersumber dari meja
ruangan tersebut. Rupanya api cerutu yang secara tidak sengaja membakar
tumpukan kertas di situ. Suasana bertambah panik ketika listrik menjadi padam.
Duuuuar!!!
Kapal selam itu menabrak sebuah benda
seperti gundukan batu besar di dalam laut. Maria tersentak dan terbangun. Fay
menarik tangan Maria berlari menuju ke tempat peralatan selam. Di ruang itu
semua sibuk memakai pakaian selam. Namun, tidak bagi Maria. Seketika dia
memeluk Fay dan memberikan foto keluarganya. Dia membiarkan dirinya berada di
kapal meskipun Fay memaksanya memakai masker dan snorkel.
“Ayo Maria, cepat kamu pakai ini. Sebentar
lagi kapal ini bisa hancur!” teriak Fay.
Maria hanya menggeleng. Dengan cepat
tangannya mendorong Fay keluar dari pintu besi. Semua menyelamatkan diri lewat
pintu bagian atas kapal selam. Tak lama kemudian kapal selam terbalik dan
membentur batu di dasar laut.
***
Tubuh Fay tampak lunglai di tepi pantai.
Butiran pasir menempel di wajah dan sekujur pakaian selamnya. Pelan-pelan dia
membuka matanya. Mentari pagi cukup menyilaukan. Di sekelilingnya beberapa anak
laki-laki berseragam SD dengan rambut rata-rata keriting dan berkulit
kehitaman, melihat dirinya.
“Kakak tidak sakit?” tanya anak kecil yang
kelihatan paling berani berbicara dengan orang asing. Belum sempat dia
menjawab, muncul seorang Perempuan berpakaian training kuning berlari menuju ke
arahnya.
“Fay …Fay…apa yang terjadi?! Tiga hari
kami mencari di pantai ini!” teriak perempuan itu dengan cemas
“Kak Sofie?” tanya Fay menatap instruktur
selamnya.
“Tim SAR mencari hingga larut malam. Kami
takut Fay tenggelam.”
“Tolong aku bawa kamu ke tempat yang
nyaman. Nanti aku ceritakan. Ini seperti mimpi,tapi saya merasakan hal yang
nyata,” kata Fay dengan suara lemah.
Banyak kejadian aneh yang Fay ceritakan
kepada Sofie, perempuan asli Papua yang terpaksa memilih pekerjaan sebagai
instruktur selam selepas SMA.
“Ini kejadian kedua kalinya di perairan
ini. Satu tahun lalu, pengalaman misterius ini juga dialami oleh penyelam lain.
Tapi setelah berhasil selamat dari kapal selam itu, jiwanya tidak bisa ditolong
setelah dirawat 5 hari di rumah sakit. Untung Fay masih selamat. Besok aku
antar Fay ke perpustakaan. Ada sebuah buku yang perlu Fay baca.”
Perempuan itu lalu meninggalkan Fay di
losmen tempatnya menginap sejak berkunjung di kawasan Raja Ampat. Malam harinya
Fay sulit memejamkan matanya. Bayang-bayang Maria yang dia termui di kapal
selam, misi rahasia warga asing kepada 20 warga Indonesia, perpisahan Maria
dengan suami dan anaknya, pertemuan dengan Bapak Handoyo masih melekat dalam
ingatannya.
Menjelang sore Fay dan Kak Sofie mengunjungi
perpustakaan di sekitar kawasan Raja Ampat. Suasana sepi, tapi tidak
menyurutkan rasa penasarannya untuk membaca buku yang diceritakan Kak Sofie.
Sebuah catatan di buku itu yang membuatnya merinding hingga harus mengulang
untuk membacanya.
//… Alih-alih menyerahkan Irian Barat.
Belanda malah terus mengirim tentaranya ke Papua. Kedatangan mesin-mesin tempur
dari Uni Soviet membuat pemerintah Indonesia makin percaya diri melayani
provokasi Belanda. Bahkan saat itu, armada Angkatan Laut sudah diperkuat dengan
beberapa kapal selam//
“Apakah aku berada di kapal selam
tersebut? Itu artinya aku masuk dalam putaran masa lau. Oh tidak!!... itu tidak
mungkin. Aku pasti hanya bermimpi saat aku tertidur di Pantai setelah
menyelam.”
Fay semakin kebingungan. Buku di tangannya
hampir terjatuh. Suasana di perpustakaan sangat sepi. Pegawai perpustakaan yang
sejak tadi berjaga minta izin keluar sebentar untuk membeli rokok. Sementara
itu Kak Sofie asyik memainkan hapenya dengan memasang earphone di telinganya.
Tiba-tiba melintas seorang perempuan bule
di hadapan Fay. Wajahnya tampak ceria dengan senyum mengembang. Baju putih
dengan renda di belahan dada menampakkan keanggunan tubuh langsingnya.
“Maria? Kamu ada di sini. Kapan datang?”
tanya Fay seperti baru bertemu dengan sahabat lamanya. Keduanya berpelukan.
“Oh, Sis Fay, perjalanan panjang membuatku
menemukanmu di sini. Kamu lihat betapa bahagianya aku. Aku sudah bertemu dengan
suami dan anakku. Kamu benar, ternyata Theresa diasuh istri kakakku. Aku
benar-benar bahagia bisa bisa berkumpul dengan keluargaku. Aku berpikir bisa
mengajakmu ke tempatku Sis Fay,” kata perempuan itu dengan logat Bahasa
Indonesia yang kurang lancar. Fay tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya.
Mereka saling bercerita dan tertawa.
Seketika itu Kak Sofie merasakan sesuatu yang aneh pada Fay. Dilihatnya Fay berbicara
sendiri. Sesekali tertawa sambil tangannya seperti merangkul seseorang. Lalu
mengusap sesuatu di depannya. Fay seperti berbicara dengan seseorang. Tapi Kak
Sofie tidak melihat siapa yang diajaknya bicara.
Perpustakaan yang semula sepi kini terdengar
suara tawa dan cekikikan yang aneh. Perempuan asal Papua itu lalu termenung.
“Semoga aku bisa menyelamatkanmu Fayla.”
TAMAT
Daftar
istilah :
Scuba
: ialah alat pernapasan yang digunakan saat berada di bawah laut (saat
menyelam).
Snorkel
: ialah peralatan selam berupa selang berbentuk huruf J dengan pelindung mulut
di bagian ujung sebelah bawah.
Fins
: ialah alat menyelam berbentuk seperti kaki katak.
BIO
NARASI
Tea
Terina, asal Malang Jawa Timur, PNS guru. Sarjana S2 Bahasa Indonesia mulai
menyukai kegiatan menulis sejak SMA. Jumlah karya yang sudah diterbitkan 12
buku fiksi dan 11 buku nonfiksi ( kolaborasi artikel Pendidikan ). Selain
menulis, dia juga pernah menjadi editor tiga buku kumpulan cerpen karya siswa
SMP Negeri Pagak Kabupaten Malang.
Komentar
Posting Komentar