Misteri Takdir
Tea Terina
Eryn menatap cermin untuk kesekian
kalinya. Wajah anggun gadis Jawa berkebaya hijau tosca, tampak berbunga-bunga.
Hari ini merupakan hari spesial bagi gadis bernama lengkap Dewi Eryna Wiranoto
yang biasa dipanggil Eryn. Dikenal
sebagai gadis tomboy. Kali ia harus memakai busana yang sedikit glamor
untuk acara pesta istimewanya.
Pesta ini rutin diadakan setiap bulan
oleh keluarga Wiranoto. Keluarga ini dikenal sebagai pengusaha sukses di
Bandung yang memiliki jaringan bisnis perhotelan dan factory outlet. Sejak
ibunya menikah lagi dengan rekan bisnis
ayahnya yang biasa dipanggilnya Papa
Aldi, acara ini semakin menampakkan kemeriahannya. Jika dulu yang diundang
adalah kerabat saja, kini rekan bisnis
perusahaan juga diundang.
Mata Eryn beralih ke pigura foto di
pojok meja rias. Ada ayah, ibu, dan dirinya saat masih SMP sedang berwisata ke
Lembang Bandung. Itu adalah foto terakhir bersama ayah kandungnya. Terbesit
rasa pilu mengalir menuju hatinya. Tangannya terulur, ujung jarinya menyentuh
potret wajah pria berwibawa yang begitu menyayangi dan memanjakannya.
“Ayah, kenapa takdir sang kuasa cepat
sekali memanggilmu.”
Ingatannya kembali saat dua hari setelah
ayahnya meninggal. Ketika itu sopir
pribadi keluarganya menjemputnya di sekolah, padahal belum saatnya pulang. Ia
keluar dari ruang kelas diikuti tatapan mata heran teman sekelasnya.
“Anak-anak silakan dilanjutkan
diskusinya. Hari ini Eryn izin pulang jam 10 karena ada kepentingan keluarga,”
kata wali kelasnya yang saat itu
mengajar.
Dalam perjalanan pulang ke rumah,
berkali-kali Eryn bertanya kepada Pak Ali, laki-laki bertubuh kurus dan
berkumis tipis yang berusia 50 tahun itu.
“Ada apa sih, aku kok dipanggil pulang?”
“Tahulah, Non. Ini perintah ibu Non
....” jawab laki-laki itu dengan wajah muram. Lalu kendaraan sedan putih itu
melaju kencang.
Eryn berdiri tertegun melihat sedan
merah hati terparkir di depan rumahnya. Bukan milik keluarganya, pokoknya
asing. Seketika itu ia melangkah masuk ke ruang tamu rumah bergaya Eropa
tersebut. Di sana ada ibunya dan 2 pria
berjas hitam tampak serius berbicara. Sesekali tangan ibunya menunjuk beberapa
kalimat pada map di meja. Sementara pria di sampingnya menjelaskan dengan wajah
serius.
“Assalamualaikum,” sapa Eryn.
Seketika mereka langsung menghentikan pembicaraannya.
“Waalaikumsalam. Untunglah kamu cepat
datang. Eryn, sini duduk dekat ibu.”
Salah satu pria berkepala setengah
botak dan bertubuh gemuk mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, tetapi
Eryn menolaknya. Ia langsung duduk di samping ibunya yang saat itu bergaun
hitam. Gaun yang sama dipakainya saat mengantar ke peristirahatan ayahnya untuk
terakhir kalinya.
“Eryn, ini adalah Om Barata dan Om
Pieter. Mereka notaris yang menangani harta warisan. Kamu harus mengetahui hal
ini karena kamu adalah pewaris tunggal dalam keluarga.”
“Benar Eryn, surat ini ditulis ayahmu
saat masih hidup. Ayahmu memiliki perusahaan besar dan kekayaan lainnya yang
akan diwariskan ke padamu karena kamu adalah anak tunggal dalam keluarga ini,”
kata Barata.
Notaris itu membacakan isi surat
wasiatnya dengan suara tegas. Isinya harta warisan akan diberikan apabila Eryn telah menikah. Namun, jika
terjadi sesuatu pada Eryn pewaris berikutnya adalah Ny. Teti Wiranoto, selaku
ibu kandungnya.
Eryn, yang saat itu berusia 15
tahun tak bereaksi apa-apa tatkala
notaris tersebut menunjukkan lembaran kertas tulisan ayahnya. Setelah notaris
itu pergi, ibunya tampak tersenyum menerima telepon dari seseorang.
Tok! Tok! Tok!
Suara itu membuyarkan lamunannya. Foto di tangannya
segera diletakkan di atas bantal.
“Eryn sayang, ada yang mau ketemu
kamu.”
Panggilan ibunya terdengar lembut
seperti biasa. Lalu, ia memutar gagang pintu dan menuju samping rumah yang digunakan untuk
pesta kebun. Dari sekian kerumunan orang yang berpakaian indah, pandangannya
hanya tersedot pada satu sosok pria bernama Dharka. Pria yang berpakaian batik
itu berdiri menatapnya dengan sorotan lembut meluluhkan hati. Rambut lurusnya
dipotong cepak rapi, membingkai garis wajah tegas bertulang pipi menonjol.
Garis abu-abu samar di sepanjang tulang rahang menandakan pria itu baru bercukur.
Eryn menahan napas. Lagi-lagi ia tak
sanggup menghentikan degup kencang jantung dan senyumnya sendiri. Yah, Dharka
adalah pria yang telah menaklukkan
hatinya di antara sekian banyak pria yang pernah dekat padanya.
Mereka saling menatap dari jarak
dekat. Sorot mata pria yang memerangkap pandanganya itu membuat air matanya
menetes. Lalu tangan pria itu dengan lembut menyapu air matanya.
“Hey jangan menangis. Bukankah ini
hari bahagia kita?”
“Yah, aku tak mengira, hari ini keluarga besar kita bisa berkumpul di sini.”
Seulas senyum bahagia mengembangdi
bibir Eryn yang mungil. Eryn tidak menyangka bahwa dokter yang dikenalnya saat
aksi sosial donor darah yang diselenggarakan perusahaan keluarganya, kini melamarnya.
Saat itu Eryn sedang libur
kuliah. Dia mendapat tugas mendampingi
Dharka, seorang dokter yang saat itu dikenal paling cuek di antara dokter muda
sukarelawan. Tugas Eryn hanya mendata nama-nama pendonor darah.
Setelah acara itu selesai, Dharka
mendekatinya tetapi tidak langsung meminta Eryn menjadi kekasihnya. Setiap
pertemuan selalu diadakan beramai-ramai dengan temannya. Perkenalan mereka
memang cukup panjang hampir setahun. Eryn merasa dokter itu berupaya
mendekatinya, tetapi dengan cara yang halus.
Hingga Eryn pernah berpikir bahwa Dharka hanya menganggapnya sebagai
teman saja. Namun, suatu kejutan terjadi saat Dharka minta dipertemukan dengan
ibunya Eryn pada sore hari.Ternyata kedatangannya untuk meminta izin agar diperbolehkan
mengajak Eryn datang ke pernikahan sahabatnya.
“Terima kasih Tante membolehkan saya
mengajak Eryn besok. Selain itu saya ingin lebih serius dekat dengan Eryn,”
katanya saat itu.
“Jaga baik-baik Eryn, Dharka.”
Dharka bukan sosok laki-laki
romantis. Ia tidak pernah melakukan acara dinner atau memberi bunga mawar saat
memberi kejutan pada pacarnya. Ia akan langsung minta maaf secara lugas tanpa
disertai kalimat-kalimat indah agar dimaafkan. Ini yang membuat Eryn merasa
nyaman.
***
Eryn memegang undangan pernikahan
bergambar foto dirinya dan Dharka yang tergeletak di atas meja. Matanya
mengikuti lengkung rangkaian huruf nan indah bertinta emas yang menghias lembar
undangan beraroma bunga melati. Pernikahan akan dilaksanakan seminggu lagi.
Ibunya mendekatinya lalu duduk di sofa sambil mengelus rambut Eryn.
“Seluruh undangan sudah tersebar.
Wedding organizer telah mengurus semuanya mulai dari konsep, katering, foto,
sovenir, pakaian. Oh ya nanti desainer baju pengantin akan ke sini untuk fiting
terakhir. Usahakan Dharka datang pukul 4
sore.”
Eryn
mengangguk, lalu ia mengambil ponselnya.
“Papa Aldi kemana, Bu?” katanya
sambil menekan tombol digit nomor Dharka.
“Biasa, hari Minggu ia selalu
melewatkan waktu bersama teman-temannya di lapangan golf.”
“Akhir-akhir ini dia jarang pulang.”
“Itu karena perusahaan akan melakukan
ekspansi. Ia akan langsung ke daerah untuk melakukan survey. Kamu tidak perlu
khawatir apa yang dilakukannya. Ia sahabat ayahmu dulu. Mereka berjuang
bersama-sama mendirikan perusahaan ini.”
“Tapi saham terbesar milik keluarga
ini kan?”
“Benar, ayah tirimu hanya memiliki
saham di bawah 50%. Ayahmu, pemilik saham terbesar di perusahaan ini.”
Tepat pukul 4 sore Dharka datang.
Kedatangannya ke rumah Eryn ternyata bersamaan dengan ayah tirinya. Saat Dharka
membuka pintu mobil, ia melihat pria berpakaian montir berjalan di belakang
ayah tiri Eryn menuju garasi.
Selama Dharka berkunjung beberapa
kali ke rumah Eryn, ayah tirinya hanya
sekali menemuinya. Itu saja hanya menyapa lalu meninggalkannya. Sikapnya juga
kurang ramah dan jarang tersenyum jika Dharka datang ke rumah itu.
***
Menjelang pernikahan pun tiba. Dharka
dan Eryn tersenyum saat melihat ke cermin. Mereka memakai busana pengantin khas
Jawa yang dimodifikasi. Eryn mengamati kebaya warna putih tulang lengan panjang
yang diberi hiasan kristal Swaroski di bagian dada. Kelihatan indah dan pas
dipakai tapi dibalik itu ternyata bagian pinggang perlu dikecilkan lagi.
“Kok pinggangnya tambah kecil, Mbak
Eryn?” tanya perempuan yang mendisain busana itu.
“Ini gara-gara terlalu banyak mikir
sebelum acara nikah, Mbak he..he..he ....” canda Dharka.
“Ah, Kak Dharka ada-ada saja. Aku
agak nerves sih, sedikit. Makanya berat badanku turun.”
Meski masih fiting, Eryn tidak
melewatkan untuk berselfie. Ia minta Dharka mendekatkan wajahnya ke wajah
dirinya hingga berjarak satu cm. Lalu tangannya diminta melingkar ke
pinggangnya.
Sentuhan tangan Dharka ke pinggangnya
membuat Eryn membayangkan saat malam pertama nanti. Begitu juga saat Eryn
merasakan napas Dharka yang dekat dengan pipinya. Ia berharap Dharka adalah
sosok romantis.
***
Pesta pernikahan yang dilaksanakan di
Sheraton Bandung Hotel & Towers dihadiri banyak tamu. Acaranya dikemas
dengan tema pesta kebun bernuansa Jawa. Jalan utama menuju tempat duduk pengantin
diberi semacam lorong yang bagian atasnya berhiaskan bunga warna putih.
Sedangkan di tempat duduk pengantin dihias perpaduan bunga melati yang
menjuntai dan daun yang ditata sangat artistik. Semua tamu memakai dresscode
putih. Panorama yang asri, hawa sejuk, dan lantunan instrumentalia lagu-lagu
lembut membuat para tamu betah agak lama berada di sana.
Ibunya Eryn dan ayah tirinya tampak
serasi dengan pakaian yang hampir senada dengan pakaian pengantin. Suasana
pesta yang penuh kekeluargaan memberikan kesan di hati Eryn. Setelah acara
selesai, Eryn dan Dharka akan berbulan madu ke sebuah villa di Bandung.
“Kami ingin melihat keindahan
matahari terbit pagi hari di sebuah pegunungan,” kata Eryn saat salah satu
kerabatnya menanyakan kepergiannya ke luar kota.
“Sebetulnya di sekitar sini banyak
hotel yang menawarkan paket menarik untuk bulan madu.”
“Ini bagian paket pernikahan dari
Wedding Organization, Bu. Villa itu ada di luar kota. Katanya panorama di situ
paling indah,” kata Eryn yang sejak tadi tangannya terus menggandeng Dharka.
“Yah, untuk menuju ke vila itu
jalannya cukup berliku. Kalian pakai mobil ayah saja untuk ke sana. Mobil ini
sangat kuat jika dipakai untuk tanjakan yang naik turun,” katanya meyakinkan.
“Wah, terima kasih, Yah! Sebetulnya saya sudah menyiapkan sedan untuk
ke sana. Tapi .... baiklah kami akan memakainya. Kamu setuju kan, Ryn?’
“Sebetulnya aku lebih suka kendaraan
Kak Dharka, tapi memang jalan menuju ke villa itu banyak tanjakannya, sebaiknya
kita pakai mobil Papa Aldi saja.”
Senyum menyeringai sinis terlihat di
wajah ayah tirinya.
Orang tua Eryn, Dharka, dan para
kerabat melepas keberangkatan mereka dengan penuh suka cita. Peluk cium dari
kerabat dan teman-teman Eryn mewarnai sebelum keberangkatannya. Beberapa
temannya ada yang menggodanya hingga mereka tertawa lepas bersama.
“Jangan lupa suamimu harus minum jamu
supaya lebih perkasa.”
“Ah, kamu rupanya pengalaman ya?”
tanya Eryn digoda temannya yang saat itu sedang menggendong bayi.
Mobil sport warna putih yang
disiapkan ayah tiri Eryn sudah ada di depan. Kabarnya mobil itu keluaran
terbaru dan sudah melalui sejumlah pengetesan di sejumlah medan yang lebih
ekstrem. Sebelum berangkat Eryn akan melempar bunga buket pengantin.
“Ayo siap-siap! Siapa yang mendapat
bunga ini akan segera ketemu jodohnya !” teriak Eryn.
Sejumlah pemuda dan remaja putri
saling berdesakan mengatur posisi agar bisa mendapat lemparan bunga.
“Awas ... satu! ... dua! ... tiga!”
Bunga dilempar . Suara riuh teriakan
dan saling berebut terdengar sangat keras. Saat itu juga Eryn dan Dharka
menggunakan kesempatan untuk berpamitan dengan kedua orang tuanya.
***
Selama di perjalanan pengantin baru
itu tak henti-hentinya bercanda. Berkali-kali ciuman mendarat di pipi dan dahi
Eryn sehingga ia agak tersipu malu. Tangan Dharka juga sesekali merengkuh tubuh
Eryn agar bersandar di bahunya. Aroma parfum laki-laki yang sering dioleskan
Dharka pada tubuhnya seolah-olah membius Eryn untuk tetap berada di bahunya.
“Aku belum pernah ke villa itu, Kak
Dharka.”
“Tenang saja, kan ada google map.
Wedding Organizer itu tak mungkin salah memberikan fasilitas romantis untuk
kita.”
Hari menjelang sore, mobil yang
dikemudikan Dharka mulai melewati tebing Gunung Hawu. Konon, di sini akan
terlihat pemandangan indah saat matahari terbit menjelang pagi.
“Apakah villanya di sekitar sini?”
“Masih jauh. Tidurlah jika
mengantuk.”
Eryn kembali menyandarkan kepalanya
pada bahu Dharka. Tiba-tiba wajahnya berubah muram.
“Kak Dharka, ada sesuatu yang saya
tanyakan. Tapi saya takut jika kakak tersinggung.”
“Kamu sudah jadi istriku. Jika ada
masalah tentu itu masalahku juga.”
“Tentang perjanjian pranikah yang
dibuat ibu.”
“Aku paham. Itu bentuk kasih sayang
ibu pada putrinya yang khawatir suaminya menguras harta istrinya. Aku tidak
menyesal menandatanganinya. Aku tidak akan mengambil harta kekayaanmu. Aku
mencintaimu.”
Jawaban Dharka yang singkat dan lugas
melegakan hati Eryn.
“Hey ... jangan melamun. Meski kamu
kaya, aku mempunyai kewajiban memberikan nafkah dengan hasil keringatku
sendiri.”
Saat melewati jalan berkelok-kelok
tiba-tiba mobil itu tidak bisa dikendalikan diri. Ternyata rem nya blong.
“Oh tidak!! Kenapa remnya tidak
berfungsi?”
Dharka panik.
Tiba-tiba mobil itu melaju terus
tanpa kendali. Eryn cemas.
“Kak Dharka !! “ teriaknya kaget.
Dharka juga kaget. Ia mencoba
mengalihkan setir dan berharap kendaraan bisa berhenti.
Mereka
panik dan terbelalak karena mobil itu terus meluncur tanpa terkendali.
Suara
benturan keras terdengar. Eryn terpental ke jurang yang dipenuhi pepohonan. Terlihat darah
mengucur dari kening dan wajah Dharka. Dengan kekuatan yang tersisa ia ke luar
dari pintu mobil. Lalu dengan tertatih-tatih ia berjalan mencari Eryn.
“Eryn ! ... Eryn! ...!”
Teriakan Dharka menggema di sekitar
lokasi kecelakaan yang penuh dengan batu-batu cadas. Setengah sadar ia mencari
ponselnya dan menghubungi seseorang. Setelah itu ia tak sadarkan diri,
***
Sementara itu kepanikan terjadi di
rumah Eryn. Rupanya ibu Eryn baru menerima telepon dari kepolisian.
“Ya Allah, sekarang keadaan anak saya
bagaimana, Pak?!” tanya ibu Eryn dengan suara keras hingga terdengar dari kamar
tidur. Aldi, suaminya yang saat itu tidur nyenyak lalu tergopoh-gopoh menuju
istrinya.
“Ada apa, Ma?”
“Eryn ... Eryn dan Dharka kecelakaan,
Pa !”
“Siapa yang memberitahu!?”
“Polisi barusan menelepon. Kita harus
segera ke rumah sakit melihat keadaan mereka!”
Dalam perjalanan ke rumah sakit, ibu
Eryn tak henti-hentinya menangis. Beberapa tissue berserakan di kursi mobil
yang melaju dengan kencang.
“Sudahlah, Ma ... jangan menangis
terus. Mama harus yakin mereka dalam keadaan baik-baik saja,” hibur Aldi,
suaminya.
Mereka tiba pukul 22.00 di rumah
sakit. Bukan hal mudah untuk langsung menuju ke tempat Dharka dirawat karena saat itu pasien di UGD cukup banyak.
“Maaf, apa ada pasien bernama Dharka.
Ia mungkin dibawa ke sini 1 jam yang
lalu. Ia kecelakaan.”
Perawat yang berjaga langsung melihat
pada catatan pasien yang masuk hari ini.
“Oh ada, Bu. Silakan ibu ke ruang
sebelah ujung itu. Ada pasien yang bernama Dharka.”
Tidak lama kemudian mereka sampai di
sana. Seorang laki-laki tua dan anak muda berada di tempat dr. Dharka dirawat.
“Maaf, benarkah Dharka dirawat di
sini?”
“Benar, apa Anda ibunya? Aku
kebetulan kenalan dr. Dharka yang dihubungi lebih dulu lalu saya bawa ke rumah
sakit ini.”
Wanita itu mengamati sosok tubuh yang
terbaring sedang tidur. Bagian kepala dan lengannya diperban. Seperti luka
ringan.
“Bagaimana dengan kondisi Eryn, Pak?”
“Eryn siapa, Bu? Saat aku berada di
lokasi kecelakaan yang saya temui hanya laki-laki ini?”
“Eryn istri dr. Dharka, Pak! Dia anak
saya. Mereka sedang berbulan madu menuju ke villa,” kata wanita itu dengan
cemas.
Anak muda di samping laki-laki tua
seketika menjawab.
“Saat kami tolong, ia memanggil nama
Eryn berkali-kali. Tapi maaf saat itu kami tidak melihatnya sama sekali. Lagi
pula suasananya menjelang maghrib.”
Tak ayal jawaban anak muda itu
membuat wanita itu menangis histeris. Kemudian Aldy membawa ke luar dari
ruangan itu.
“Tenang, Ma. Kita harus lapor ke
polisi sekarang juga agar keberadaan Eryn segera ditemukan.”
Hasil pencarian Eryn di lokasi
kecelakaan, tidak menunjukkan hasil. Berbagai upaya telah dilakukan termasuk
minta bantuan kepada tim SAR dengan menggunakan pesawat helikopter. Bahkan,
Aldi dan ibu Eryn sempat ikut menyusuri daerah pegunungan tersebut dengan pesawat helikopter pribadi. Selama dua minggu
pencarian yang tiada henti tetap tidak ada hasilnya sehingga pihak kepolisian
memutuskan bahwa Eryn tewas dalam kecelakaan itu.
***
Suasana di perusahaan Grup Wiranoto
dipenuhi ucapan duka cita atas hilangnya Eryn. Ny. Wiranoto yang biasanya dua
hari sekali datang ke kantor pusat, kini lebih suka menyendiri di kamar. Ia
tidak mau ditemui oleh orang lain kecuali kerabatnya. Hal ini membuat Aldi,
suami keduanya bebas menentukaan kebijakan-kebijakan perusahaan tanpa seizin
istrinya.
Brakkh ....!!
“Maafkan kami, Pak. Memang terjadi
penurunan laba pada bulan ini di semua sektor. Tingkat hunian hotel juga
menurun meskipun kita sudah membuat diskon. Jadi untuk membuka cabang baru
rasanya tidak mungkin.”
Wajah laki-laki yang berambut ikal
dan berkumis tipis itu kelihatan takut. Ia menghindari sorot mata tajam Aldi
yang tadi memukul meja.
“Rendy!!” sentak Aldi. “Ketika kamu
bergabung di perusahaan ini empat bulan lalu, aku mengangkatmu sebagai manajer.
Itu karena aku tahu kelihaianmu dalam mengatur keuangan. Jadi aku ingin memakai
dana yang ada untuk ekspansi perusahaan ini.”
“Tapi Pak, bagaimana jika ibu
Wiranata tidak setuju?”
“Dia istriku. Dia saat ini lagi
sedih. Sekarang aku yang berkuasa di sini. Yang jelas, sekarang akulah yang
mengendalikan semuanya. Termasuk mengelola keuangan yang ada di sini ha.. ha
... ha...!!”
“Ingat ! ini rahasia kita berdua.
Semua keuangan yang ada, aku yang mengendalikan. Jadi jangan coba-coba melawan
atasanmu ini!!”
Wajah Rendy terdiam, dia tahu tabiat
atasannya yang ambisius itu. Jika kemauannya tidak dipenuhi, ia akan mudah
memecat karyawannya.
***
Enam
bulan setelah peristiwa itu.
Hujan deras mengguyur sejak pagi
hingga menjelang maghrib. Seorang gadis bertubuh agak kurus, menutup jendela
dengan hati-hati. Di rumah sederhana itu tinggal suami istri dan anak
angkatnya.
“Jangan lupa kamu tutup pintu
belakang, Dina,” kata Bu Widi sambil menyeterika baju.
Gadis itu melakukan seperti yang
diperintah wanita itu dengan hati-hati.
Seorang laki-laki masuk melalui pintu
belakang dengan basah kuyup.
“Ayah lupa ya nggak bawa mantel?”
tanya Dina.
“Ayah terburu-buru tadi.”
Handuk biru segera diberikan Dina
kepada laki-laki kurus itu. Laki-laki itu segera menyeka wajah dan tangannya.
“Untung Mang Yayat, tukang ojek
langganan kita besok tidak jadi pergi ke Jakarta, jadi dia bisa mengantarkan kamu ke rumah
sakit.”
“Alhamdulilah... semoga besok aku
segera sembuh. Obat yang dibelikan ayah tiga hari yang lalu hanya menyembuhkan
beberapa jam saja. Lalu sakit kepalaku kambuh lagi.”
“Maafkan kami, Nak. Yah, beginilah
kalau rumah di lereng gunung. Angkutan desa saja sekarang sudah jarang.
Rata-rata harus pakai ojek,” kata wanita itu.
“Tidak apa-apa, Bu. Yang penting Dina
segera sembuh,” kata Dina sambil memeluk bantal kursi tamu yang terbuat dari
rotan.
***
R.S
Hasan Sadikin Bandung
Setelah menuju ke bagian pendaftaran,
Dina diminta menuju ke dokter spesialis
syaraf. Pasien di tempat itu sangat banyak, Dina menunggu panggilan sambil
duduk di kursi paling pojok. Di pintu itu tertulis dr. Dharka, SpS(K)
“Saudara Dina.”
Panggilan suara perawat mengagetkan
Dina. Ia segera masuk ke ruangan. Begitu
melihat wajah perempuan itu, dokter tersebut sangat kaget.
“Nama Anda Dina?” tanya dr.Dharka
sambil membaca catatan yang diberikan perawat. Perempuan itu mengangguk dengan
tatapan mata polos.
“Sakit apa yang dirasakan?” tanya
dokter itu sambil menatap tajam wajah Dina.
“Sakit kepala yang tak kunjung
sembuh. Kadang sulit bernapas dan jantung berdebar-debar.Saya kadang sulit
tidur.”
“Sering kah itu ... Hmm maksudku
sudah berapa lama?”
“Kira-kira satu bulan lebih.”
“Kalau boleh tahu nama orang tua Anda
siapa?”
“Ayahku bernama Herman sedang ibuku
Bu Widi.”
Lama terjadi percakapan yang pada
akhirnya Dina diminta kembali lagi 5 hari kemudian. Dalam perjalanan pulang
setelah jam praktik berakhir dr.Dharka menyetir mobil sambil memikirkan pasien
yang bernama Dina tadi..
“Mirip benar perempuan itu dengan
Eryn. Tapi ia kelihatan lugu dan sederhana. Nama orang tuanya juga beda,”
pikirnya.
Malam itu beribu pertanyaan muncul
dalam pikirannya.
***
Ny.Teti Wiranoto membaca ulang isi
pernyataan yang ditulis suaminya sambil duduk di sofa empuk.
“Aku belum yakin ,Pa jika Eryn telah
meninggal dalam kecelakaan itu.”
“Ayolah Ma, bukankah pihak polisi
telah menyatakan bahwa Eryn telah meninggal. Jadi harta warisan itu akan
berpindah kepada Mama. Secepatnya aku akan memanggil notaris ,” kata Aldi
sambil membelai rambut istrinya.
“Tapi polisi tidak menemukan
jasadnya. Aku punya firasat bahwa Eryn masih hidup.”
Pria itu merengkuh tubuh istrinya
lalu dipeluknya dengan erat. Terlihat sinar mata licik di wajahnya.
“Kapan Mama menunggu peralihan harta
warisan itu? Kita punya rencana ekspansi ke Australia dalam waktu dekat ini.
Itu membutuhkan dana yang agak banyak.”
“Entahlah, Pa ... aku masih merasa
Eryn tidak meninggal. Saya mohon jangan bertanya itu lagi ya?”
“Aku mencintaimu sayang.”
Pria itu segera memeluk istrinya
lebih erat lagi tetapi seringai senyum licik
terlihat menghiasi wajahnya.
Lima
hari kemudian di ruang praktik rumah sakit.
Perempuan bergamis hitam dan berhijab
hijau muda kini duduk di depan dr.Dharka. Dokter itu tak bisa menyembunyikan
perasaan rindunya.
“Eryn ... “ Perempuan di depannya
kaget.
“Maaf Dok, namaku Dina,” katanya
pelan.
“Suara itu mirip Eryn, aku harus bisa
mengetahui siapa perempuan ini sebenarnya,” kata dr. Dharka dalam hati.
Setelah pengobatan selesai, diam-diam
dr.Dharka menguntit Dina dari belakang. Dina dibonceng Mang Yayat dengan
kecepatan tinggi. Perjalanan menuju rumah Dina sangat jauh melewati tebing yang
berkelak-kelok. Memori dr.Dharka kembali muncul saat melintasi lokasi
kecelakaan di dekat jurang. Hingga sampailah mereka menuju ke sebuah desa kecil
yang tidak bisa dimasuki mobil karena sempitnya area. Untung di situ ada tempat
mangkal ojek. Dr.Dharka segera memarkir mobilnya.
“Kang, antar saya ke tempat Pak
Herman yang lokasinya di sekitar sini.”
“Ada apa ke tempat Pak Herman? Mau
pesan kopi asli Bandung?” tanya tukang
ojek dengan logat khas Jawa Barat.
Dr.Dharka mengangguk sambil tersenyum.
Sepuluh menit kemudian, mereka sampai
di rumah sederhana bercat hijau muda. Halamannya cukup luas dan di situ
terhampar biji kopi yang sedang dijemur. Seorang wanita sibuk memilah-milah
kopi.
“Assalamu’alaikum.”
Seorang pria muncul dari balik pintu.
Ia buru-buru memakai baju batik lalu mempersilakan masuk.
“Maaf, Anda siapa?” tanya Pak Herman.
“Saya Dharka, dokter yang menangani
penyakit Dina.”
Tiba-tiba saja mata ayah Dina menoleh
ke belakang sambil tangannya memberi isyarat ada sesuatu rahasia.
“Ayo kita berbicara di kebun saja.”
Mereka menuju kebun kopi yang
letaknya tidak jauh dari rumah. Di situ ada tempat duduk dari bambu yang
sederhana.
“Kenalkan dulu, saya ayah angkat Dina.”
“Oh, Bapak bukan orang tua kandung
Dina?”
“Nak Dharka, ini sebetulnya rahasia
keluarga. Sekitar setahun lalu, kami
menemukan seorang gadis yang pingsan dan terluka di kaki bukit. Kondisinya
tidak sadar tapi ia masih bisa bernapas. Selama beberapa hari saya dan istri
merawatnya. Saat itu ada keinginan untuk lapor ke polisi tetapi istri saya
melarang. Kami memutuskan untuk mengangkatnya sebagai anak. Untung di sekitar
sini agak jauh dari tetangga. Jadi tidak ada yang menanyakannya.”
“Perempuan itu menderita amnesia.”
“Amnesia? Itu sakit apa ?
Berbahayakah sakit kepalanya?”
“Pak Herman, keluhan anak angkat
Bapak itu gejalanya seperti amnesia. Ketika terjadi gangguan pada sebagian
sistem saraf, maka penderita bisa merasakan kesulitan bernapas dan .menelan.
Penderita juga bisa mengalami gangguan ingatan, indera, dan suasana hati.
Gejala itu tampak pada putri angkat Bapak.”
“Benar, ia tidak ingat sama sekali
asal-usulnya. Ngomong-ngomong ada apa dokter sampai berkunjung kemari?”
“Dari dua kunjungan dia ke rumah
sakit, aku yakin bahwa dia adalah istriku yang mengalami kecelakaan 6 bulan
yang lalu. Lokasinya tepat di sekitar sini.”
“Pak Herman, izinkan saya melakukan
terapi sendiri pada Dina. Ia belum ingat pada saya.” Laki-laki itu mengangguk.
***
Dina menjalani pemeriksaan fisik
serta scan otak untuk mengetahui penyebab sesungguhnya. Dr.Dharka berharap
amnesia yang diderita Dina tidak permanen sehingga dapat dipercepat
kesembuhannya.
Sepulang dari rumah sakit, Dharka
mengajak Dina ke sebuah cafe yang tempatnya sangat artistik dan dipenuhi
tanaman bunga anyelir. Saat mereka masuk ke ruangan, seketika Dina melangkah menuju tanaman anyelir. Dharka
mengikuti dari belakang.
“Ambilah Dina jika kamu menyukainya.”
“Apa tidak dimarahi oleh pemilik cafe
ini, Dok?”
Dharka menggeleng. Ingatannya kembali
saat dia mengajak Eryn ke tempat ini. Eryn juga melakukan hal yang sama seperti
yang dilakukan oleh Dina. Dina memetik tiga tangkai anyelir lalu meletakkan
pada vas di atas meja.
“Dokter, rasanya dulu aku pernah ke
tempat ini.”
“Oh ya? Coba kamu ingat kamu pesan
makanan apa di sini?”
Perempuan itu mencoba mengingat
dengan cara meletakkan tangannya pada ujung dahi dan menggosok-gosokkan.
“Aku dulu pesan nugget dan lemon tea.
Waktu itu aku dengan seseorang, ia hanya memesan kopi.”
“Seseorang itu siapa? Temanmu?”
“Dia ... dia ... dia pemuda yang
selalu ada dalam pikiranku selama ini.”
“Baiklah kita pesan nugget, lemon
tea, dan kopi.”
Hari itu mereka menikmati
kebersamaan. Dharka memutuskan untuk tidak praktik selama beberapa hari demi
mengembalikan ingatan Dina. Rupanya tanda-tanda ingatannya pulih akan terlihat.
Namun, Dina masih belum bisa mengenalinya.
Kali ini Dharka mengajaknya melewati
Sheraton Hotel tempat melangsungkan pernikahannya. Ia sengaja memperlambat
mobilnya. Dari kaca mobil yang dibiarkan terbuka, mata Dina tampak
berbinar-binar saat melihat hotel mewah itu.
“Wow ... indah sekali hotel ini. Di
situ dulu seperti ada orang yang menikah.”
Ingin rasanya Dharka mengatakan bahwa
tempat itu adalah lokasi pernikahan mereka, tetapi ia menahannya. Ia akan
berbicara yang sebenarnya jika perempuan itu ingat dirinya.
Kemudian
mobil dijalankan dengan agak kencang. Mobil itu melaju ke arah pegunungan
dengan jalan yang berliku-liku. Kecepatan yang tinggi membuat Dina agak tegang.
Tiba-tiba terdengar teriakan.
“Tolong... tolong jangan ngebut!!”
Lalu Dharka menghentikan mobilnya
dengan mengerem secara mendadak. Di sini lokasi kecelakan mereka dulu.
“Eryn ... Eryn ... kamu telah ingat
kembali.”
Belum sempat Dina menjawab, Dharka
memeluk tubuh perempuan itu. Meski Dina agak setengah meronta tapi Dharka tetap
tidak mau melepaskan pelukan itu. Ia genggam tangan Dina dan dengan lembut
diciumnya dahi dan pipinya seperti saat mereka akan berbulan madu dulu. Hingga
akhirnya perempuan itu pasrah.
“Kamu ... kamu istriku Eryn.”
Sorot mata tajam Dharka agaknya
meluluhkan perasaan Dina yang masih bingung. Tanpa disadari Dina berkata,”
Tolong kembalikan ingatanku lagi, Dokter.”
Terlihat
bulir air mata Dina menetes di pipinya.
“Eryn, aku yakin peristiwa kecelakaan
dulu disengaja oleh ayah tirimu. Aku tahu hal ini saat aku mencoba menyelidiki
sendiri. Ia sengaja merusak komponen rem itu. Kita harus menyusun rencana agar
kedok kejahatan ayah tirimu terbongkar.”
***
Di kantor polisi Dharka mencoba
mengumpulkan bukti dari pihak kepolisian tentang penyebab kecelakaannya dulu. Jawaban polisi membuatnya
terkejut karena penyebabnya adalah ada seseorang yang sengaja merusak komponen di
bagian rem sehingga pada jarak tertentu remnya tidak berfungsi. Itu seperti
yang ia duga.
“Kak Dharka, aku menduga ini terkait
dengan harta warisan itu. Selama ini ayah tiriku seperti mendominasi ibu. Aku
heran, ibu dengan mudah mengeluarkan uang untuk memenuhi permintaan Papa Aldi
dengan dalih untuk ekspansi perusahaan.”
“Eryn, besok lakukan sesuatu agar
ayah tirimu ketakutan. Kita tidak mungkin bisa langsung memasukkan dia ke
penjara karena buktinya masih kurang.”
“Baik Kak, besok aku mulai masuk ke
ruang rahasia yang tidak diketahui kecuali ibuku. Aku akan meneror hingga dia ketakutan!!”
Keesokan harinya secara
sembunyi-sembunyi, Eryn berhasil masuk ke ruang rahasia di rumahnya. Malam itu
ia mengintip ayah tirinya baru pulang kerja. Ibunya terlihat sudah nyenyak
tidur. Rupanya laki-laki itu tidak langsung tidur, ia menyalakan remote TV home
teater untuk menonton acara sepak bola luar negeri.
Eryn lalu mematikan lampu ruang dapur
yang semula menyala cukup terang. Lalu ia mengendap-endap mengambil makanan di
atas meja makan. Jika dilihat dari jauh akan terlihat seperti bayangan hitam.
Saat mengetahui lampu dapur padam,
laki-laki itu berjalan menuju dapur lalu menyalakan kembali lampunya. Namun,
tiba-tiba ia seperti curiga. Matanya menoleh ke mana-mana. Ia membuka pintu
kamar mandi lalu melongok ke arah jendela.
Betapa
kagetnya dia, saat ada kucing hitam melompat ke arahnya.
“Sialan, kok ada kucing di sini!”
Kucing itu berlari menuju ke luar
lewat pintu masuk ruang tamu. Saat kembali ke ruang ke ruang TV, tiba-tiba
lampunya mati.
Di tengah kepanikan pria itu mencari
tombol untuk menyalakan lampu, Eryn muncul sekelebat di depannya dengan pakaian
putih. Tak ayal hal itu mengagetkannya.
“Siapa kamu?!!”
Lampu berhasil dinyalakan tapi betapa
terkejutnya dia saat melihat ada ceceran darah di lantai dekat televisi.
Pagi hari, istrinya mendapati Aldi
tidur di karpet ruang tamu.
“Hey Pa, ada apa kok tidur di sini?”
Lalu laki-laki itu bangkit sambil
duduk berselimut. Wajahnya masih menunjukkan ketakutan tentang peristiwa tadi
malam.
“Ma, semalam aku seperti melihat
Eryn.”
“Eryn? Sampai sekarang kita masih
belum tahu kondisinya. Dia masih hidup atau meninggal.”
“Papa itu mungkin halusinasi saja.
Papa terlalu banyak pikiran untuk mengembangkan perusahaan sehingga terlintas
wajah Eryn,” kata wanita itu sambil berlalu.
Akhir-akhir ini Aldi sering
menunjukkan keanehan. Saat tidur malam hari, Aldi sering mengigau.
“Eryn ... Eryn jangan bunuh Papa!!.”
Lain waktu istrinya mendengar
keluhannya lagi. Aldi mengatakan Eryn sedang bermain ayunan di taman yang biasa
digunakan untuk pesta kebun. Tingkah laku yang tidak wajar ini membuat istrinya
secara diam-diam memasukkan obat penenang ke dalam minumannya.
Hingga
suatu hari sebelum laki-laki itu berangkat kerja, ibu Eryn mengingatkan
padanya.
“Pa, nanti aku jemput ke kantor
sekitar jam 10 .00. Nanti kita ke psikiater.”
“Untuk apa? Aku tidak apa-apa. Aku
masih normal.”
“Tidak, Papa harus ke psikiater. Saya
bosan dengan keanehan yang papa lakukan selama ini!”
Akhirnya laki-laki itu menyetujuinya.
Saat diperiksa, psikiater tersebut mengatakan bahwa ayah tiri Eryn mengalami
gangguan kejiwaan karena sering berhalusinasi. Ibu Eryn berharap hal itu bisa
disembuhkan.
Suatu hari tiba-tiba Aldi berlari terbirit-birit di taman. Katanya ia
melihat Eryn duduk di ruang tamu. Dengan banyaknya kejadian ganjil akhirnya
Aldi dilarang bekerja karena dianggap mengalami gangguan kejiwaan. Urusan
perusahaan ditangani oleh ibu Eryn.
***
Eryn yang selama ini berada di
apartemen Dharka menceritakan kejadian yang dialami ayah tirinya. Mereka
merencanakan untuk datang menemui ibu Eryn hari Minggu besok.
Eryn dan Dharka dengan hati-hati
mengetuk pintu rumah mewah bergaya Eropa tersebut. Seorang pembantu membukakan
pintu. Begitu melihat Eryn, ia lari terbirit-birit.
“Nya ...Nyonya ... lihat-lihat siapa
yang datang,” kata pembantu itu dengan napas terengah-engah. Ibu Eryn yang saat
itu sedang menyuapi ayah tirinya segera menuju ke ruang tamu.Eryn langsung
duduk di sofa ruang tamu bersebelahan dengan Dharka.
Tubuh Eryn terlihat dari belakang,
ibunya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Benarkah kamu Eryn anak saya?”
Seketika itu baik Eryn maupun Dharka
menunjukkan dirinya. Eryn melihat kekagetan di wajah ibunya.
“Kamu Eryn? Ya Allah ... !!”
Wanita itu kemudian pingsan. Saat
wanita itu sadar, Eryn dengan lancar menceritakan kronologis peristiwa
kecelakaan itu.
“Papa Aldi berusaha membunuh saya untuk menguasai harta warisan.
Bukankah dalam surat wasiat yang ditulis ayah dikatakan , jika terjadi sesuatu pada diri saya, harta
warisan akan jatuh ke tangan ibu? Nah, andai dalam peristiwa kecelakaan itu
saya tidak ditolong oleh seseorang maka aku tewas. Itu artinya harta itu
menjadi milik ibu yang akan dikuasai juga oleh Papa Aldi.”
“Haruskah kita melaporkan
kejahatannya ini pada pihak polisi?” tanya ibu Eryn.
Dharka yang saat itu sibuk mengetik
di ponselnya mengatakan,” Tidak Bu, saya dan Eryn sepakat tidak melaporkan.
Biarlah ia merasakan akibatnya seperti ini.”
“Maafkan ibu, Nak. Ibu bersalah atas
kejadian ini. Ibu semula percaya saja padanya karena ia sahabat ayahmu.”
Keesokan harinya mereka mengantar
Aldi ke rumah sakit jiwa. Untuk menutupi aib ini, ibu Eryn mengatakan kepada
karyawannya bahwa Aldi sedang dirawat di
rumah sakit luar negeri.
Akhirnya Eryn dan Dharka bisa
bernapas lega. Mereka bisa melanjutkan kehidupannya sebagai suami istri. Ibunya
Eryn merencanakan pesta agar teman-temannya tahu bahwa Eryn masih hidup. Namun,
Eryn menolaknya dengan alasan hari yang ditentukan ibunya itu bersamaan dengan
kegiatan Dharka mengikuti workshop kesehatan di Lembang.
Pagi-pagi
sekali ketika Eryn bangun tidur, ia membuka SMS .
Isi SMS : “Workshop berakhir pukul 12 . Jemput saya”
Siang begitu cerah, Eryn mengendarai
mobil sendiri menuju tempat pelaksanaan workshop yang diikuti Dharka. Dalam
perjalanan, ia tidak habis berpikir tentang perbuatan ayah tirinya yang ingin
menguasai harta warisan dan berusaha mencelakai dirinya. Ingin rasanya ia
menjebloskan ke penjara. Keputusannya tidak melaporkan ke polisi didasari karena ia melihat
kecintaan ibunya pada ayah tirinya. Hal itu dibuktikan dengan seringnya ibunya
berkunjung ke tempat Aldi sekarang.
Jalan menuju tempat workshop melewati
pegunungan saat ia kecelakaan dulu . Tiba-tiba wajah Eryn panik karena saat
berbelok di tikungan, remnya tidak berfungsi.
Brukkk!!
Akhirnya kendaraan itu masuk jurang. Takdir
seorang tidak ada yang tahu. Eryn meninggal dalam keadaan luka mengenaskan.
TAMAT
Komentar
Posting Komentar