Tea Terina
Gedoran dari ruang kantor Desa
Plaosan kembali terdengar, ditimpali
suara teriakan orang- orang di halaman. Pak Khori yang sejak tadi
gelisah, dengan paksa membuka ruangan Pak Sudarwo.
“Maaf, Pak Dar… di sini masyarakat
punya pantangan untuk melebarkan tanah makam. Sejak dulu nenek moyang kami
sudah memperingatkan secara turun-temurun kepada sesepuh desa ini,” jelas Pak
Khoiri yang menjabat sebagai sekretaris desa.
Hanya Pak Khoiri yang menentang
keputusan Pak Sudarwo. Perangkat desa lain
menyetujuinya. Andi pemuda yang
baru diterima bekerja di desa itu paling sering menyuarakan pelebaran tanah
kuburan.
“Bayangkan, kalau tidak ada
perubahan di desa ini, pasti selamanya tidak akan maju. Desa sebelah sudah
punya desa wisata. Kita?! hanya program
melebarkan tanah makam saja diributkan,” geram pemuda berusia 25 tahun itu.
“Tenang Mas Andi, suara masyarakat
harus didengarkan juga,” kata Pak Khoiri.
“Maaf, Pak Khoiri. Bukan saya menentang
kepercayaan masyarakat desa ini. Hanya saja tujuan kami melebarkan makam kan baik, terlepas dari
ini itu. Ini kan sudah zaman modern. Masa Pak Khoiri masih percaya sama mitos?”
kata Pak Sudarwo.
“Pak Dar, meskipun ini sudah modern.
Kita harus bisa mendengarkan aspirasi warga. Bagaimana jika ada hal buruk menimpa desa ini? Siapa yang paling
bertanggung jawab?”
“Panjenengan masih protes? Seluruh
perangkat desa di sini setuju! Kalau masih tidak setuju, panjenengan berarti
menghambat program Pak Bupati!” ucap Pak Sudarwo dengan mata melotot.
Andi dan perangkat desa yang lain
segera ke luar dari ruangan. Pak Khoiri hanya menunduk. Tak berdaya
berargumentasi dengan atasannya. Apalagi jika sudah membawa nama Pak Bupati.
Bisa-bisa dia diberhentikan.
Di luar orang-orang yang menentang
keputusan kepala desa mulai terdiam tatkala berkali-kali kepala desa mengatakan
tanah yang akan dijadikan lahan itu milik negara. Siapa yang menentang akan
berurusan dengan pihak berwajib.
Pak Khoiri yang kecewa teringat dengan pagebluk yang pernah terjadi
di desa ini. Tatkala masih penduduk
biasa dan menjadi tokoh yang dituakan oleh masyarakat desa.
Kala itu ada harimau masuk desa. Padahal
tidak ada habitat harimau di sekitar desa ini. Penduduk mempercayai itu pertanda kurang baik atau pagebluk. Semua
takut ke luar rumah. Beberapa hari mengunci diri di dalam rumah. Ada warga yang
tidak percaya. Dia memaksakan diri ke luar rumah. Sorenya terdengar kabar,
orang itu meninggal dunia.
“Ini tanah kuburan yang dilindungi
masyarakat. Melebarkan tanah makam, berarti melanggar kepercayaan adat
masyarakat sini. Bagaimana nanti jika terjadi sesuatu.” Pikirnya.
Pak Khoiri hanya merenung. Ia tak ingin
kehilangan jabatannya sebagai sekretaris desa yang membuat bangga istri dan
anak-anaknya.
***
Kerja bakti perluasan lahan pemakaman
telah berjalan selama seminggu. Sebagian warga merasa was-was, berharap
pantangan yang dilanggar tidak akan memberi dampak apa-apa, seperti ucapan Pak
Sudarwo, selaku kades yang baru menjabat enam bulan. Masyarakat mulai terpengaruh
bahwa mitos tidak perlu dipercaya.
“Wan! Kemarin kamu ikut kerja bakti di
kuburan, kan?” tanya Saidi, tetangga Wawan. Keduanya sedang mendapat jadwal
ronda bersama.
“Iya, memang kenapa?” Wawan bertanya
balik, seolah tahu arah pembicaraan Saidi, pemuda yang setiap hari menjual ayam
potong.
“Kamu masih mikir ya? Memang sejak
musyawarah di balai desa dua minggu lalu, warga terpecah menjadi dua kubu. Kubu
Pak Kades yang menyetujui rencana pelebaran lahan pemakaman dan kubu Pak Khoiri
yang menentang,” lanjut Wawan sambil memegang bahu Saidi.
“Nggak diganggu sama Simbah, nanti?” bisik
Saidi sambil menengok kanan kiri. Tentu saja tak ada siapa pun, kecuali
rimbunnya pohon bambu yang sejak tadi berderit. Simbah yang dimaksud Saidi
adalah penunggu makam.
“Ya, ndak, to? Simbah malah seneng kok
rumahnya tambah lebar,” canda Wawan yang memecah keheningan malam. Wawan
tertawa terbahak-bahak.
Tiba-tiba Saidi merasakan ada keanehan di
wajah Wawan yang matanya agak kemerahan. Kepalanya menggeleng-nggeleng ke
sana-sini. Di sentuhnya badan temannya.
“Kok, badanmu dingin dan lembek? Kulitmu
kayak nggak nempel ke tulang? Mirip orang hmm…orang mati!” Saidi berbicara
dengan hati-hati. Anehnya malah disambut dengan gelak tawa Wawan.
“Ada-ada saja kamu. Aku memang lagi nggak
enak badan. Sudah seminggu ini badan seperti ada yang gebukin. Mungkin
kecapekan saja,” dalihnya.
Tetap pandangan pemuda bertubuh gemuk itu
tak lepas dari wajah Wawan yang tampak pucat, seolah tanpa darah.
“Besok kamu masih melanjutkan kerja bakti
lagi?”
Wawan yang tampak tak bertenaga hanya
mengangguk. Matanya yang tadi memerah seketika tampak sayu.
“Kalau capek, besok istirahat saja.
Kasihan Mbah Janiti kalau kamu sakit.”
Mbah Janiti adalah nenek Wawan, keluarga
satu-satunya yang ia miliki. Kedua orang tua Wawan sudah lama meninggal saat
ia SMP.
“Kalau saya tidak membantu kerja bakti,
kasihan yang lain. Soalnya tidak banyak warga yang mau membantu. Entah kenapa,
bapak-bapak yang ikut kerja pada mengeluh sesak napas. Kadang panas lalu
menggigil,” jawab Wawan, pandangannya menerawang.
Wajahnya lesu. Jika berbicara agak
panjang, napasnya ngos-ngosan seperti orang yang baru berjalan jarak jauh.
Saidi tampak berfikir, terlihat dari
matanya yang menyipit. Teringat kata-kata sesepuh desa ketika berada di balai
desa.
“Di desa kita tidak diperbolehkan
melebarkan tanah kuburan. Begitulah wasiat leluhur dulu. Pesan itu disampaikan
kepada sesepuh desa yang menjabat. Jika larangan itu dilanggar akan terjadi
pagebluk seperti yang sudah-sudah.”
Saidi hanya bisa menghela napas panjang.
Dilihatnya Wawan sudah terlelap di gardu ronda.
***
Keesokan harinya orang-orang yang masih
loyal kepada Pak Kades meneruskan pekerjaannya. Tanah urukan semakin banyak.
Sudah terlihat pelebaran makam. Sebuah kendaraan bak terbuka yang mengangkut
semen mulai datang. Di belakangnya sebuah truk pasir siap diletakkan di bagian
tepi makam.
Tak ada yang menggerutu. Tak ada bisik-bisik celaan masalah pelebaran makam
itu. Malah ibu-ibu istri perangkat desa menyuguhkan hidangan yang membuat
orang-orang semangat bekerja.
Di dekat tumpukan batu bata sudah tertata
nasi sebakul, ayam goreng, urap sayur, tempe goreng, dan sayur lodeh pepaya
muda. Siapa yang tak tergoda dengan hidangan itu. Orang yang sekadar lewat
menyaksikan pelebaran tanah makam, seketika langsung ikut kerja bakti. Tentu
tujuan utamanya apalagi kalau bukan santapan yang lezat.
Wawan membasuh keringat di dahinya,
padahal hanya mengangkat batu bata yang tidak terlalu banyak. Kaos hitam kusam
yang dikenakan seketika basah dengan keringat. Pak Khoiri menghampirinya.
“Sudah kamu istirahat saja. Biar yang lain
mengerjakan.”
“Ndak, Pak. Saya masih kuat.”
Wawan melanjutkan lagi mengangkat batu
bata. Baru tiga langkah, tiba-tiba tubuhnya sempoyongan. Bata merah jatuh berceceran.
Dengan sigap Pak Khoiri membantu Wawan berdiri. Lalu menuntunnya ke sebuah
warung dekat makam. Tubuh Wawan semakin lemah. Lalu Pak Khoiri membawanya
pulang.
***
Menjelang subuh terdengar bunyi kentongan
bertalu-talu. Seakan dikomando, lampu rumah warga menyala bersamaan. Hampir
seluruh warga ke luar dari dalam rumah masing-masing. Wajah kusut mereka
diliputi penasaran. Lalu saling melempar pertanyaan satu sama lain.
“Ada apa ini?” tanya Saidi pada warga.
Seorang warga yang ditanya malah menguap dan hanya menggeleng.
Tak lama mereka bergabung dengan rombongan
warga lain menuju pos ronda. Belum sampai di tempat tujuan, mereka dikejutkan
oleh teriakan dari salah satu rumah warga.
“Tolooong! Tolooong!”
Warga berhamburan menuju rumah Mbah
Janiti, nenek berumur sekitar 70 tahun yang tinggal dengan Wawan, cucunya.
“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un,” ucap
Mbah Janiti, diikuti teriakan histeris.
“Kenapa le…kok cepat sekali kamu
tinggalkan Mbahmu ini.”
Tangis perempuan berkebaya lurik itu
semakin menjadi-jadi. Ibu-ibu yang tiba di rumahnya berusaha menenangkannya.
Warga lain bergotong royong menyiapkan semua hal yang diperlukan untuk jenazah
Wawan.
“Mas Andi, cepat kamu umumkan kematian
Wawan lewat Toa masjid!” perintah Pak Kyai.
Belum sempat Andi menuju halaman masjid
terdengar teriakan keras dari berbagai penjuru. Rupanya warga berlarian sambil
berteriak. Orang-orang menuju rumah Pak Sudarwo.
“Ada apa ini? Kenapa semua pada menjerit
histeris?” tanya Sudarwo dari balik tirai jendela rumahnya.
Suara gedoran di pintu rumahnya memaksa
Pak Sudarwo membuka pintu. Di hadapannya orang-orang terlihat ketakutan.
“Ada apa Bapak Ibu? Kenapa semua ke sini?”
Pak Sudarwo yang saat itu hanya memakai kaos singlet dan sarung batik juga
tampak gelisah.
“Pagebluk Pak Sudarwo!! Pageblug sudah
mulai datang!” jawab Pak Khoiri dengan ngos-ngosan.
Terdengar lagi teriakan yang memecah
suasana. Warga melaporkan ada sepuluh orang yang meninggal bersamaan. Tumbang
satu demi satu. Melihat kekacauan yang tak mungkin ditangani sendiri, Pak
Sudarwo langsung menghubungi perangkat desa lain.
Pak Sudarwo dan perangkat lain terlihat
menunduk menyaksikan sepuluh mayat laki-laki yang sudah dikafani di depannya.
Isakan keluarga yang ditinggalkan menambah kepiluan pagi buta.
Menurut sesepuh desa, warga yang terenggut
nyawanya disebabkan oleh pagebluk. Ini akibat perluasan tanah makam. Setelah
peristiwa tersebut, Desa Plaosan diisolasi. Warga dilarang keluar masuk desa
itu. Tim dokter dikerahkan untuk mencari tahu penyebab pasti pagebluk atau
wabah yang menimpa desa itu.
***
“Ternyata setelah dilakukan proses visum
pada jenazah tersebut, juga sampel darah dari beberapa warga yang selamat, bisa
disimpulkan bahwa terdapat virus yang merusak fungsi organ pernapasan mereka.
Jadi, jaringan tubuh tidak bisa mengikat fungsi oksigen. Hal itu menyebabkan
saturasi oksigen turun. Akhirnya berhenti bernapas. Itulah penyebab warga
meninggal dalam keadaan kebiru-biruan. Mereka kekurangan oksigen,” jelas dokter
yang diminta meneliti kasus itu, di balai desa.
“Lalu, dari mana asal virus itu Pak
Dokter?” tanya salah satu warga.
“Begini, tidak semua virus bisa musnah
jika dikubur di dalam tanah, Virus orang yang meniggal karena virus ganas yang
berpotensi menular, bisa keluar dari
organ dalam mereka lalu mencari inang yang baru agar bisa bertahan hidup dan
berkembang biak.”
“Kemungkinan, saat warga melakukan
perluasan lahan makam, tanpa sengaja membuka jalan bagi mereka ke luar dari
dalam tanah,” lanjut dokter berkaca mata itu.
Tatapan semua warga tertuju pada Pak
Sudarwo, kepala desa. Bukan lagi tatapan hormat, tetapi tatapan kekecewaan.
***
Sesepuh desa beserta warga berinisiatif
membuat tumpeng tolak bala. Untuk keperluan ritual ini, nasi tumpeng dibentuk
kerucut yang melambangkan gunung. Lalu ada sego golong yaitu nasi putih
dibentuk seperti bola. Sajian lauknya berupa ayam, telur, dan sayuran. Menurut
kepercayaan warga, ini salah satu upaya untuk menghilangkan pagebluk.
Setelah dilakukan sterilisasi di setiap
penjuru, Desa Plaosan dinyatakan bebas dari pagebluk. Meski demikian duka
akibat kehilangan masih mereka rasakan.
Pak Sudarwo yang merasa bertanggung jawab
akan pagebluk yang terjadi di desa, akhirnya mengundurkan diri dari jabatan.
Sambil berurai air mata, ia meminta maaf secara pribadi ke rumah-rumah warga.
Dari apa yang dialami, ia belajar bahwa di manapun berada, harus menghargai
adat dan kebiasaan setempat.
Catatan
:
Pagebluk
(bhs Jawa) : wabah, pandemi
Saturasi
: persen dari total oksigen darah yang terikat pada protein plasma dalam suatu
kompartemen (ruang atau bagian terpisah)
Tamat
Kepanjen,
3 September 2024
Komentar
Posting Komentar