PEMBALASANKU
Tea Terina
Aku harus membuat keputusan setelah lama
terpendam. Namun, lagi-lagi ibuku menghalanginya. Nasihat sama berulang kali
keluar dari perempuan yang 15 tahun membesarkanku seorang diri.
“Apa kata tetangga, jika kamu memutuskan
pergi dari rumah. Apa sudah kamu pikirkan matang-matang! Anakmu masih kecil,
butuh sosok ayah yang menyayangi. Opo wis dipikir mateng tho, Ndhuk?!”
Aku terdiam, membiarkan air hangat
merembes ke pipi. Kutatap ibu dengan wajah penuh harap. Lagi-lagi perempuan itu
meneteskan air mata lebih banyak dariku. Perempuan 54 tahun itu selalu membuatku lemah. Ibu
selalu mengharapkan aku seperti dirinya menjadi “konco wingking” suami artinya
perempuan harus di belakang suami. Apapun yang dilakukan suami harus ikut dan
tunduk.
“Aku minta maaf, Bu. Lebih baik
membawa anak-anak pergi dari rumah. Mas Soni sering bicara kasar sama mereka,
bahkan … “ Ah, tiba-tiba bibirku kelu saat akan mengungkapkan hal ini. Dadaku
sesak, bayangan malam itu seolah muncul mengingatkanku lagi. Aku tidak tega
jika ibu mengetahui menantunya yang
jarang pulang dan temperamen.
Seringkali pukulan mendarat di tubuhku hanya masalah sepele. Pipi
lebam dan paha memar sudah biasa. Dan itu dilihat anakku. Sosok ayah sebagai pelindung sudah tidak ada.
Kejadian malam itu, tatkala anak-anak
sudah lelap. Mas Soni pulang membawa perempuan berbaju seksi dan bermake up
tebal, usianya jauh lebih muda. Bau rokok tercium di ruang tamu. Entah kenapa, aku hanya bisa mengintip dari celah pintu kamar
saja. Ada perasaan takut jika bertanya
siapa perempuan itu. Sampai kini aku masih takut dengan Mas Soni. Sepertinya
dia orang lain bagiku.
“Istrimu tidak marah, Mas?” ujar perempuan
itu. Tangannya merangkul ke leher suamiku yang bertubuh tinggi. Desahan napas
beraroma nafsu terdengar dari kamarku. Dalam keremangan lampu di ruang sofa,
peristiwa menjijikkan itu terlihat di mata. Muak sekali! Tak ada keberanian untuk marah, yang ada pasrah!
“Soni sekarang ada di mana?” Ibu
mengagetkanku.
“Mas Soni sudah dua bulan pergi dari
rumah, Bu. Mungkin ada urusan pekerjaan.” Aku tidak mungkin jujur karena akan
membebani pikiran ibu. Namun, naluri seorang ibu instingnya kuat. Ia terus mendesakku.
Menatapku dengan wajah sedih.
Peristiwa
saat perempuan itu mengirimkan fotonya bersama Mas Soni di ranjang, masih terus
membekas di ingatan. Apalagi disertai kalimat yang menyindirku.
( Mbak, ternyata Mas Soni butuh sentuhan
yang lebih muda he… he …) disertai emoji wajah mengejek di ponselku. Duh, siapa
perempuan ini? Apakah rekan kerja Mas Soni atau perempuan yang dikenal di cafe,
tempat suamiku melepas lelah setelah seharian bekerja? Dadaku terasa sesak.
Sampai hari ini aku belum tahu sosok perempuan penggoda imannya.
“Itu alasanmu untuk pergi dari rumah?
Hanya karena ia pergi tanpa memberi kabar?”tanya ibu.
Aku mengangguk. Wajah polos kedua anakku
terdiam. Sudah biasa anakku berwajah sendu. Sandi, anak sulungku memegang
jemari tanganku. Anakku yang masih kelas 1 SD itu selalu bisa menenangkan hati.
“Bu, Nova pamit. Tiga hari lagi saya akan
ke sini bersama anak-anak.”
“Rumah ini selalu terbuka untukmu, Nduk.”
Pagi ini, aku dan anakku bersiap-siap
pulang ke kampung. Ketika akan mengangkat koper, Sandi masih saja duduk, enggan
beranjak. Matanya menatap pintu sambil memegang mobil plastik merah, hadiah
dari sahabatku, Anya. Benda itu menjadi satu-satunya
mainan selama aku mengontrak rumah di kota ini.
“Sandi, nanti di rumah eyang putri, banyak
teman seusiamu. Ada anaknya Bulik Risa. Kamu bisa main dengannya. Di sana
mainannya juga banyak. Kamu bisa bermain bola
di tempat yang luas.”
“Ayah kejam! Sandi benci ayah!!
Bruk!! Mobil plastik merah dilemparkan ke
arah pintu. Hingga tangispun meledak. Kupeluk dia untuk menenangkan. Anak
seusia dia sudah merasakan penderitaanku. Kuusap rambut ikalnya yang mirip Mas
Soni.
“Sandi, doakan ayah segera pulang. Kamu
harus ingat ayah mencari uang untuk kita, untuk sekolah Sandi. Nanti ayah menyusul
kita di kampung. Kita kan hanya
sementara tinggal di rumah nenek.”
Entahlah harus menjelaskan apalagi, aku
tak ingin kedua anakku mempunyai sifat
dendam kepada ayahnya. Pikiranku berkecamuk! Pergi selamanya atau sementara.
Terus terang meski temperamen, Mas Soni masih memberi uang bulanan untuk
keluarga yang ditransfer ke rekening pribadiku meski jumlahnya sedikit sehingga
tiap bulan harus ada sisa. Namun, 2 bulan ini tidak ada uang masuk ke
rekeningku. Lupakah dia? Atau ada sesuatu yang terjadi padanya? Beberapa kali
kuhubungi lewat ponsel, selalu tidak diangkat. SMS juga tidak pernah dibalas.
Sebelum pergi aku mengecek kamarku.
Sengaja kutinggalkan beberapa pakaian di lemari agar Mas Soni tidak curiga.
Tiba-tiba mataku tertuju sebuah buku tabungan dan kartu ATM dibungkus plastik yang terselip di antara
tumpukan baju Mas Soni.
Oh, apa ini yang dicari Mas Soni sebelum
dia pergi dari rumah? Pikirku.
“Kamu pasti telah mengambil kartu ATM ku!
Cepat kamu kembalikan!”
“Kartu ATM yang mana,Mas? Aku tidak pernah
memegangnya, apalagi melihatnya.”
“Ah, kamu kan biasa merapikan baju-baju di
lemari. Aku taruh di situ. Kamu pasti telah mengambilnya!”
“Demi Tuhan, Mas. Aku tidak pernah
melihatnya.”
Waktu itu ia menyuruh mencari lagi di
lemari pakaian. Hampir setengah jam aku mengobrak-abriknya, lalu merapikan
lagi. Namun, benda kecil itu memang tidak ada.
“Awas, ATM
itu harus ketemu!” katanya sambil berlalu. Mobil Brio merah itu melaju
dengan kecepatan tinggi.
Buku tabungan warna biru kubuka. Saldo
terakhir ada 100 juta. Hmm, makanya Mas Soni marah. Haruskah kuhubungi Mas
Soni? Ia pasti gembira menemukan yang dicarinya. Barangkali ia akan menjadi
lebih sabar.
Tiba-tiba mataku tertuju pada deretan
angka yang tertulis dengan spidol di ATM. Ini pasti kode pin, pikirku.
Prang! Terdengar seperti piring jatuh.
“Bu, piringnya pecah.” Suara Sandi dari
ruang tamu. Kutengok Sandi mengambil pecahan piring. Sementara anakku yang
bungsu masih memegang sendoknya. Ah, biarlah.
“Bantu adikmu ambil sarapan lagi. Masih
ada telur dadar di meja.”
Terdengar nada ponsel. Ada pesan masuk
dari Anya. Tumben, padahal jarang sekali ia menghubungiku. Pasti ada sesuatu
yang penting.
( Nova, aku harus mengatakannya padamu.
Sebetulnya aku tidak percaya, tapi ini kebenaran yang harus aku sampaikan…
tentang suamimu. Sudah satu bulan ini aku melihat suamimu tinggal bersama
perempuan lain. Mereka mengaku suami istri, menyewa di kamar kontrakan yang
sama denganku)
Degh!! Dadaku berkecamuk tidak karuan.
Anya menunjukkan tiga foto kebersamaan suamiku dengan perempuan berwajah seperti yang pernah dibawa ke rumah tempo
hari.
( Kebetulan perempuan itu juga satu kantor
denganku, tetapi beda divisi. Dia lebih banyak di lapangan. Aku tidak tahu
apakah kejadian ini sudah kamu ketahui. Aku berharap kamu baik-baik)
( Makasih Anya! )
Allah Mahakuasa. Allah mendengar doa-doa
yang kupanjatkan setiap malam. Aku hanya minta Allah menunjukkan hal yang
terbaik dalam kehidupanku. Mungkin ini adalah jawaban-Nya.
Sebelum pergi, aku mengunci rumah
kontrakan yang sudah kutinggali selama 4 tahun. Beruntung pemilik rumah ini
tidak curiga karena aku membawa dua koper besar.
“Bu, jika Mas Soni tanya, bilang saja
anak-anak dibawa ibunya liburan ke rumah neneknya.” Perempuan sebaya dengan
ibuku itu hanya tersenyum. Aku menyuruh Sandi dan adiknya salim ( mencium
tangan) ibu pemilik kontrakan rumah. Betapa pun ia sangat baik, suka memberi
jajanan untuk kedua anakku.
Di dalam angkot pikiranku masih tidak
tenang. Berkali-kali kulihat foto yang dikirim Anya di ponselku. Kusembunyikan
air mata ini dari tatapan Sandi. Kubiarkan hijabku basah oleh tetesan air
hangat.
“Bang, berhenti di sini!”
“Bukannya kita turun ke terminal, Bu?”
tanya Sandi.
Aku menuju ke ruang ATM sebuah bank.
Dengan hati-hati kumasukkan kartu itu dan kutekan angka-angka sesuai yang
tertera di kartu tersebut. Tampilan layar menunjukkan hal tak terduga. Saldo ternyata
masih utuh, 100 juta!
Hmm … ini akan menjadi milikku semuanya.
Aku sudah tahu apa yang harus kulakukan. Uang ini sebagai balasan sakit hatiku
selama ini!
Komentar
Posting Komentar