PETAKA TANAH WARISAN

Tea Terina

 

 

            Laki-laki tinggi kurus itu berdiam tepat di depan Hasiyah. Tatapan matanya penuh iba seakan mengharap belas kasihan. Hasiyah seperti bermimpi. Beberapa kali ia mencubit pergelangan tangan dan merasakan sakit. Itu artinya ia tidak berhalusinasi.

            “Apa ini alamatnya?” tanya  anak muda berkaos merah yang memapah laki-laki itu. Beberapa menit berlalu, laki-laki itu tak kunjung mengeluarkan sepatah kata.

            “Ibu kenal dengan bapak ini?” tanya pria berkumis yang juga memapah. Jika dilihat dari penampilan, usianya sekitar lebih dari setengah abad. Suaranya terdengar begitu lantang di telinga Hasiyah.

            “Kami menemukan di daerah Batu arah ke Pujon. Sepertinya bapak ini mengalami masalah kesehatan. Awalnya kami beranggapan ia orang Batu dan kami berniat mengantarkan ke rumah keluarganya, tapi sepertinya ia lebih memilih diantarkan ke sini,” lanjut pria tersebut sambil memperlihatkan tanda pengenal.

            “Kami tidak salah alamat kan,Bu?” tanya anak muda itu seolah meyakinkan Hasiyah.

            Perempuan berdaster batik dan berhijab hitam itu masih terdiam. Pandangannya masih fokus pada kedua pria itu ketimbang pria yang dipapah. Beberapa kali Hasiyah melihat mereka mengusap peluh yang mengucur di pelipis. Kelelahan jelas tergambar di raut wajah mereka. Belum lagi jarak tempuh sekitar 30 km dari Batu ke Pagak, Kabupaten Malang hingga sampai di pelosok desa ini.

            “Kami tidak mengenal bapak ini. Tadi pagi, saya menemukannya tergeletak di depan warung saya. Ia mengalami kesulitan bicara. Waktu berdiri dan berjalan juga tidak kuat. Sepertinya mengalami kelumpuhan.”

            Hasiyah hanya bisa menghela napas panjang. Kepahitan hidup selama bertahun-tahun masih membekas pikirannya. Terbayang bagaimana sakitnya perjuangan membesarkan anak-anaknya.

            “Kami bingung bagaimana cara menghubungi keluarganya. Saya juga tidak tahu bagaimana ia sampai berada di depan warung saya. Untung saya menemukan KTP dalam dompet bapak ini. Akhirnya saya dan anak saya mengantarkan ke sini,” ujar pria yang mengenalkan dirinya bernama Suladi.

            Pria lemah itu dibaringkan di kursi panjang ruang tamu. Mereka duduk di atas karpet hijau yang agak kusam. Sesekali keduanya memperhatikan keadaan ruang tamu. Ruang yang sempit itu hanya ada lemari kayu berisi gelas piring, kursi panjang ,dan karpet. Terlihat tirai pembatas ruang tamu dan ruang dalam sedikit terbuka. Ada tempat tidur dari papan kayu yang di atasnya tumpukan pakaian.

Hasiyah masih mendengarkan penuturan laki-laki itu. Namun, memori otaknya sudah dipenuhi rasa benci pada sosok yang kini terbaring lemah di depannya. Seribu tanya berkecamuk di benaknya. Anehnya tak sepatah kata pun  keluar dari bibirnya.

Setelah mobil yang dikendarai laki-laki itu berlalu, Hasiyah bergeming. Sebenarnya ia enggan bertemu lagi dengan pria yang telah menelantarkan hidupnya dan tiga anaknya bertahun-tahun itu. Kaki perempuan berusia 36 tahun itu enggan bergerak seolah terpahat di depan halaman.

***

 

Sepuluh tahun yang lalu …

“Aku tidak tahan ditagih hutang terus di sini. Aku ingin merantau mencari pekerjaan yang lebih baik. Dengan begitu, hutang-hutang kita bisa ku cicil!”  teriak Doni pada Hasiyah sore itu. Rambut gondrongnya yang selalu dikucir, makin awut-awutan.

Hasiyah yang sedang menyusui anak ketiganya terkejut. Di satu sisi, ia tak bisa berjuang sendirian membesarkan ketiga anaknya yang masih membutuhkan perhatian dan kasih sayangnya. Namun, kondisi ekonomi keluarganya sangat terpuruk. Ia juga tidak kuat menerima makian dari warga kampung. Setiap hari pasti ada yang menagih uang ke rumahnya.

Semuanya berawal saat Doni menjual tanah warisan untuk membayar uang muka mobil pick up baru karena yang lama rusak. Untuk memperbaiki butuh jutaan rupiah sehingga ia jual. Hasil penjualannya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Ternyata mobil itu tidak menghasilkan uang. Tidak sesuai dengan harapannya. Biasanya banyak orang menyewa kendaraanya untuk antar material bangunan, kini hanya satu dua orang saja dalam tiap bulan. Alhasil kredit tiap bulan yang harus dikeluarkan mengalami kemacetan.

Doni dan istrinya berusaha mencari hutangan kepada saudara agar mobil tidak ditarik dealer. Pada cicilan tahun ketiga, mimpi buruk itu terjadi. Mobil ditarik dealer karena sudah nunggak beberapa bulan sementara hutang mereka semakin menumpuk. Mobil lebih banyak diam di rumah daripada mengangkut barang.

Tiga hari kemudian, setelah magrib, Doni tiba-tiba menghilang. Ia pergi tanpa meninggalkan pesan apa-apa. Hasiyah tidak tahu ke mana perginya pria yang usianya 10 tahun lebih tua darinya. Sementara itu, setiap hari telinganya harus kuat menerima cemohan dan makian. Bahkan umpatan warga yang memiliki piutang padanya. Tidak sampai di situ, kesulitan demi kesulitan hidup ia lalui seorang diri. Puncaknya, anak sulungnya terpaksa berhenti kelas 6 karena tak kuat menanggung biaya hidup.

Bertahun-tahun Doni tidak ada kabar. Jangankan mengirim uang, memberi kabar saja tidak pernah. Hilang seperti ditelan bumi. Tak seorang warga mengetahui keberadaannya, meski pernah ada warga yang menelusuri beberapa tempat untuk mencarinya. Lama kelamaan, warga tidak berani menagih hutang ke Hasiyah. Hampir semuanya merasa iba. Meski ada juga yang mencibir.

Setiap tahun, tak sedikit zakat fitrah diterimanya. Beberapa warga desa lain juga menawarkan pekerjaan untuknya agar bertahan hidup. Paling banyak menawarkan sebagai pembantu rumah tangga. Hampir setiap hari ada yang menawarkan pekerjaan. Namun, semua ditolaknya. Ia memutuskan berjualan gorengan semacam pisang goreng, weci, pastel, dan tahu berontak. Semua dikerjakan sendiri dibantu putri sulungnya. Kue itu dititipkan ke warung-warung. Meski hasilnya tidak seberapa, tapi bisa mencukupi makan sehari-hari.

Mumtaz, putri sulungnya terkadang diminta menjaga anak tetangganya. Hanya sekadar menemani bermain dan menjaga balita.  Ia mendapat upah yang lumayan untuk meringankan beban ibunya. Anak keduanya bernama Sani. Usianya masih 7 tahun, tapi sudah bisa disuruh berbelanja ke pasar.

Anaknya tumbuh menjadi sosok pekerja keras dan pantang bersedih karena ibunya mengharapkan mereka memiliki jiwa yang kuat. Hasiyah juga mengajarkan agar tidak membenci ayahnya. Meskipun dalam hati Hasiyah rasa kebencian itu selalu muncul dan sulit  dihilangkan. Sosok pria tak bertanggung jawab melekat dalam pikirannya.

“Tak ada gunanya kamu memikirkan suamimu. Laki-laki itu sudah tidak peduli lagi denganmu dan anak-anakmu. Lagian, kamu juga harus memikirkan masa depan ketiga anakmu. Cepat kok mengurus surat cerai. Bukankah ia sudah tidak memberi nafkah lagi? Kamu punya hak untuk menikah lagi, Hasiyah,” tegas ibunya yang tinggal di desa yang berbeda.

Mendengar kata menikah, Hasiyah merasa pilu. Baginya menikah lagi bukan keputusan yang tepat. Khawatir pasangannya tidak lebih baik dan akan membuatnya menderita.

“Sudahlah, kamu tinggalkan desa ini. Kamu tinggal bersama ibu dan adikmu. Lahan kita masih luas untuk ditanami. Itu bisa dikelola untuk masa depan anak-anakmu,” lanjut ibunya.

Hasiyah selalu diam jika ibunya berbicara seperti itu. Belum lagi Bu Narmi, tetangga sebelah yang kenal betul dengan keluarga Hasiyah. Sekalipun sering membantu Hasiyah jika perlu uang, ucapan perempuan itu cukup menyakitkan hatinya.

“Itu akibatnya jika menjual harta warisan. Jika dulu Doni dan kakaknya tidak bersikeras menjual tanah, mungkin nasibmu tidak begini. Coba kamu lihat, si Agus kakak Doni. Hidupnya juga tidak jauh berbeda. Sama menderitanya. Harta warisan itu tidak boleh dijual. Tidak akan berkah uangnya.”

“Keadaannya mendesak, Bu Narmi,” kata Hasiyah lirih.

“Mendesak? Coba diingat? Kenapa Doni sampai beli kendaraan baru segala. Harusnya cari yang bekas. Harga bisa murah. Kendaraan dibuat usaha dulu, sampai dapat uang banyak.”

“Lagian keputusan itu tidak dari Mas Doni saja. Mas Agus juga butuh uang untuk angsuran rumah,” jawab Hasiyah tenang. Wajahnya  lesu kelelahan karena baru saja membersihkan dapur.

Hasiyah tahu persis jika uang muka untuk membeli mobil berasal dari tanah warisan. Berbagai cara dilakukan suaminya agar tanah warisan itu dijual. Sempat terjadi perselisihan dengan Ustad Dzaki, kyai desa yang dihormati warga. Ia menjadi penengah perselisihan keluarga Doni. Pasalnya Nova, adik bungsu mereka yang masih SMK tidak setuju tanah warisan dijual.

Nova mempunyai cita-cita bisa kuliah karena ingin menjadi guru. Ia minta tolong Ustad Dzaki sahabat almarhum ayahnya.

“Mas Doni dan Mas Agus kemauannya keras sekali. Sejak masih sekolah, kalau punya keinginan harus segera dituruti. Saya minta bantuan ustad untuk menasihati mereka agar tidak menjual tanah,” kata Nova usai pulang sekolah.

Nova minta bantuan Hasiyah untuk mempertemukan kakaknya dengan Ustad Dzaki.

“Untuk apa Pak Kyai menemuiku. Aku ada urusan!”

“Mas, ini menyangkut Nova adikmu,” kata Hasiyah.

“Kamu jangan turut campur dengan keluargaku.”

“Kasihan Nova … ia tidak setuju tanah warisan dijual. Di situ ada bangunan yang bisa dibuat usaha. Mas, kata ustad orang yang menguasai harta warisan yang bukan haknya akan menerima azab dari Allah.”

“Azab? itu ucapan omong kosong! Kamu ingin aku celaka, hah!”

“Mas, aku hanya mengingatkan. Aku tak ingin terjadi apa-apa pada keluarga kita.”

“Heh!! Sekali lagi kamu ikut campur urusan keluargaku, tahu sendiri nanti!” ujarmya segera berlalu.

***

 

Suatu hari Hasiyah kedatangan tamu. Hampir saja ia tak mengenali perempuan bertubuh sintal dan berambut cokelat itu. Ia datang berkendara sepeda motor besar.

Hasiyah yang baru menidurkan anaknya tampak heran.

“Aku Diana… temanmu SMP.” Senyum mengembang terlihat di wajah Hasiyah. Keduanya berangkulan.

“Lama sekali kita tidak ketemu. Katanya kamu kerja di Surabaya,” kata Hasiyah.

“Yah, di salah satu konter hape. Sudah dua tahun ini. Oh ya, apa benar suamimu sudah jarang pulang?”

“Tahu dari mana?” selidik Hasiyah.

“Ada saja yang memberi tahu. Aku pernah melihatnya  dengan perempuan lain di tempatku bekerja.”

Ucapan Diana membuatnya terkejut. Tiba-tiba dadanya sesak. Pikiran-pikiran buruk menghantuinya. Sebelumnya ia mendengar selentingan dari tetangganya jika suaminya menikah lagi. Namun, ia tidak percaya sebelum menyaksikan sendiri kebenarannya.

Kini berita itu datang dari temannya yang membuatnya lebih percaya

“Haruskah aku mencarinya di Surabaya?” pikirnya. Minta bantuan temannya untuk mencari keberadaan suaminya, sangatlah tidak mungkin.

“Ya Allah, jika benar Mas Doni sudah menikah lagi. Hamba mohon pertemukanlah dengannya. Meski ada hati terluka. Kuatkan hamba menerima ujian ini.”

Hingga waktu terus berlalu …

 

***

 

Suara azan pertanda masuk waktu ashar membuyarkan lamunan Hasiyah. Ia sadar, Allah telah mengabulkan doanya. Laki-laki itu sudah ada di depannya. Kata orang yang mengantarkan tadi, penyakit yang dialami Doni seperti gejala stroke. Apakah ini azab dari Sang Kuasa karena menjual tanah warisan? Apakah ini akan lebih parah? Pertanyaan itu terus menguasai pikirannya.

Hasiyah semakin yakin jika suaminya sudah menikah lagi. Bisa jadi istri barunya telah menelantarkannya. Mampukah ia memaafkan suaminya? Sementara rasa sakit yang dirasakannya selama bertahun-tahun sulit dihilangkan.

Tak ada pilihan lain, Hasiyah segera  menuju mushola depan rumahnya. Di sanalah tempat yang nyaman  saat ini. Memohon pertolongan kepada pemilik kehidupan.

“Ya Allah, jika memaafkan dan merawat suamiku mampu menjamin surga untukku, berilah hamba kekuatan dan kesabaran untuk menerimanya kembali. Namun, jika kehadirannya hanya menambah beban hidup keluarga kami, maka berikanlah hamba petunjuk-Mu,” doa Hasiyah dengan linangan air mata.

 

Tamat

 

Kepanjen, 5 September 2024

 

 

 

 

Komentar

Postingan Populer