Setengah
Tubuhku Hilang
Oleh Tea Terina
“Segala rintangan
bukan untuk menghentikan langkah, tetapi untuk memanggil keberanian dan
kekuatan kita”
Entah,
ini sudah minggu ke berapa Zahra berada di desa neneknya. Ia sudah memutuskan
untuk berhenti kuliah. Yah, bagaimana mungkin
pergi kuliah dengan kaki satu dan wajah terluka, sedang jika ada orang
lewat depan rumah dan kebetulan sempat kepergok dengannya, orang itu lari
terbirit-birit!
Kemarin
ada anak laki-laki yang mengantar nasi kenduri, begitu pintu dibuka, ia melihat
Zahra. Ekspresi wajahnya terkejut, langsung dilemparkannya tas kresek hitam
yang berisikan nasi kotak , hingga isinya jatuh berserakan. Seperti ada yang
mencabik-cabik hatinya ketika anak laki-laki itu berlari kencang seraya
berteriak,”Ada hantu!!”
Akhirnya
Zahra hanya mengurung diri dalam kamarnya. Rebahan, buka google tentang berita
Palestina, info tahun baru 2025, motivasi hidup, menjadi tontonan rutinitas
kesehariannya. Sesekali ke kebun belakang rumah melihat pohon rambutan yang
mulai memerah. Kadang muncul rasa syukur karena Allah masih memberi cahaya mata
untuk bisa melihat kekuasaan-Nya.
Zahra
mengingat masa-masa sebelum derita yang dialaminya. Dulu ia selalu berada di
lingkungan aktivitas yang selalu menebar positif. Apa yang dilakukan selalu
membawa manfaat baik bagi orang lain. Kegiatan kampus, mulai penggalangan dana korban banjir,
Komunitas Dakwah Kampus, dan sesekali menjadi narasumber pelatihan di
sekolah-sekolah. Beberapa temannya mengatakan, Zahra cerdas, kreatif, dan
selalu peduli. Sekarang? rasanya Zahra ingin mengakhiri hidup jika pikirannya
sudah kalut.
Ingatannya
kembali saat tiga bulan yang lalu…
***
Hari
sudah menjelang maghrib. Zahra mengemudikan sedan Brio bersama Leni keluar dari
pintu gerbang kampus Universitas Islam Malang. Sambil menyetir, Zahra
membicarakan rapat yang baru saja diikutinya.
“Pokoknya
kegiatan bazar di jurusan kita harus disetujui oleh Pak Aziz.”
“Aku
yakin sekali. Apalagi Pak Aziz sudah mengetahui aktivitas kamu, Zah. Cuma kita
mungkin terkendala di sponsor. Tahu kan, anggarannya minim?” kata Leni sambil
membetulkan hijabnya.
Zahra
tersenyum,”Tenang Len! Ada beberapa tempat usaha di sekitar kampus kita yang
mau menjadi sponsor. Salah satunya Bu Aning, pemilik restoran terbesar di
Malang ini.”
“Alhamdullilah,
tidak salah teman-teman memilih kamu. Eh, cari lagu yang enak dong. Kok dari
tadi lagu nasyid terus…”
Zahra
mengganti lagu dengan suara Rossa lagu “Hijrah Cinta” kesukaannya. Ia bisa
memutar sampai 5 kali sekaligus saat mendengar lagu itu. Lirik lagunya seperti
ada di kehidupan Zahra.
“
….Hijrah cintaku menguatkan alasanku untuk menjadi manusia lebih baik. Namun,
saat sinar-Nya datang menjemputku, mana mungkin aku berlari…” Zahra menirukan
bagian lirik lagu yang paling disukainya.
Tiba-tiba
sebuah truk muncul dari tikungan depan mobil yang dikendarainya.
“Zahra!!
Truuuuuk!”teriak Leni.
Zahra
terperangah. Gamang. Ia banting setir menghindari truk yang mengambil jalan
mobilnya, tapi…
“Zahra
…! Awaaa…s!!!” teriak Leni histeris.
Zahra
panik. Suara benturan terdengar sangat keras. Zahra merasakan sakit yang luar
biasa. Tubuhnya terjepit dalam mobil! Darah mengucur dari kening, wajah, dan
entah dari mana lagi. Zahra masih sempat melihat tubuh Leni yang bersimbah
darah di sampingnya. Lehernya terkulai seolah patah. Hijab putih pun berubah
merah! Semua begitu mengerikan!
Api!
Zahra melihat percikan api semakin membesar. Ia mencoba menggerakkan tubuh.
Sia-sia. Tenaganya lemah dan nyaris punah!
“Apiiii!!
Tarik! Cepaaat!”
Setengah
sadar Zahra melihat beberapa orang mendekat, mencoba mengeluarkan tubuhnya. Api
kian menjalar cepat ke arahnya. Jilbabnya seketika terbakar!
“Cepat
tariiik!”
Zahra
merasakan panas yang luar biasa di wajahnya. Orang-orang berteriak! Leni mana?!
“Ya
Allah …, Leni!!!” Zahra menjerit histeris . Lalu ia tak ingat apa-apa lagi.
***
Ketika
sadar, Zahra sudah berada di ruangan asing. Semuanya serba putih.
“Zahra
…”
Perlahan
ia membuka mata. Bau segala jenis obat tercium keras.
“Ssst,
jangan bergerak dulu …”
Samar
matanya menangkap raut wajah ibunya yang terlihat sedih. Ibunya mencoba
tersenyum. Zahra mencoba memanggil, tapi sia-sia. Bibir dan wajah tak mampu
digerakkan. Sangat perih.
Seorang
perawat tersenyum ramah menghampiri. Menyapa sambil memeriksa infus yang
terpasang di tangan Zahra. Sebentar kemudian, ia menyingkap selimut dan
memeriksa bagian kaki.
Tiba-tiba
Zahra merasakan keanehan di kakinya. Dengan tenaga tersisa, ia mencoba untuk
duduk. Seketika tangan kanannya menyibakkan selimut. Ibunya mencoba mencegah.
Dan
… Zahra ternganga. Terbelalak tanpa mampu mengucap sepatah kata pun. Hanya dada
yang turun naik. Kepalanya berdenyut-denyut.
“Allahu
Robbi!” ucap Zahra lirih tapi membuatnya terguncang. Kaki kanannya kini hanya
sebatas paha! Sebatas paha!
Zahra
menggigit bibirnya dengan keras hingga keluar setitik darah. Nafasnya sesak.
Terasa sulit bernafas! Panik!
“Zikir
sayang … zikir … Allah … Allah,” bisik ibunya.
“Laa
haula walaa quwwata illaa billaah,” bisik ibunya lagi. Getaran suara diiringi
lelehan air mata ibunya, mulai tak terbendung.
“Allah
…” Pelan sekali nama Sang Maha Agung itu keluar dari mulut Zahra. Namun, selalu
tersekat di kerongkongan.
Perawat
segera berlalu, menyongsong pasien terbaring yang didorong dua rekannya menuju
ke tempat Zahra.
Zahra
tersentak. Wajah pasien itu sosok yang tidak asing. Ia menjerit keras.
“Suster,
jangan … di kamar ini. Aku tidak mau! Takuuu …t! Muka orang itu …hiii ….!
Keluarkan saya cepaaat!” teriak Zahra tanpa memedulikan orang-orang di
sekitarnya.
“Kamar
yang lain sudah penuh,” jawab perawat satunya.
“Kamar
lain … tolong suster …,” bujuk ibunya. Ibunya mencoba menutupi wajah Zahra dari
pandangan orang di sekitarnya.
“Bu
…” lirih Zahra seolah tidak percaya pada kejadian yang dialaminya.
Perempuan
bergamis hijau itu kian terisak. Menutup wajah basah dengan hijab cokelatnya.
Tak lama perawat itu kembali. Ia membawa kain putih panjang. Kain itu dijadikan
batas antara Zahra dan pasien lain yang mungkin akan masuk. Tempat tidurnya
didorong hingga ke pojok ruangan.
Zahra
miris. Ia meraba wajah dengan tangan kanannya. Sakit. Ada yang aneh dengan
bentuk hidung, pipi … juga bibir. Seolah semua kasar. Melepuh …, meleleh … ya
seperti itu!
“Apakah
api itu membakar wajahku? Ya Allah cobaan macam apa ini,” katanya dalam hati.
Setelah itu pingsan.
***
Semua
yang terjadi pada Zahra menjelma bayang-bayang yang selalu mengikutinya. Tidak
mudah menghapus peristiwa itu.
Ia
melangkah pelan dan memperhatikan tongkat penyangga. Dua kali teman-teman
kampusnya datang dengan wajah penuh kasihan. Pertama di Rumah Sakit Wava Husada
tempatnya dirawat. Kedua, rumahnya sambil membawa tongkat ini. Setelah itu tak
pernah lagi.
“Sabar
Nak, apalah artinya Zahra dibandingkan dengan masa depan teman-temanmu yang
saat ini berjuang untuk masa depannya. Mereka kuliah, … pasti orang tua berharap segera lulus.
Perlahan
Zahra menggerakkan tongkatnya dan berlalu dari pandangan ibunya. Sering
terpikirkan kenapa cobaan ini menimpanya. Kenapa tidak menimpa para koruptor,
pengedar narkoba, penzina atau siapa pun orang jahat. Mengapa harus ia yang
diberi cobaan seperti ini?
“Ya
Allah, apakah tidak cukup satu kaki yang kau ambil?! Mengapa kau ubah wajahku
jadi menyeramkan begini? Bagaimana aku akan menjalani hidupku bila kini aku
seperti ini?” keluhnya dengan tertatih-tatih.
Dugg!!
Zahra terjatuh tengkurap! Berusaha bangkit, tapi sia-sia. Yah, bahkan untuk
bangkit sendiri di atas kaki sendiri, ia tak mampu!
Tergopoh-gopoh
ibunya menghampiri,”Nak, kamu tidak apa-apa?”
“Ya
Allah, mengapa kau beri aku cobaan seperti ini?!” teriak Zahra sekeras-kerasnya
hingga tenggorokannya kering dan basah.
Di
depan tampak cermin yang sering membuatnya menjerit setiap saat. Bagian kening,
pipi, dan leher tampak menghitam. Mata sebelah kiri agak menyipit ketarik
otot atas sehingga tidak simetris. Bibir
mungil bagian atas agak membengkak.
“Zahra!
Zahra ! Astaghfirullaah, Nak! Istighfar!” Ibu menangis memeluknya erat-erat.
Hari
terus berlalu. Zahra masih seperti itu. Murung dan menghabiskan waktunya di kamarnya.
Sesekali ibunya mengajak ke taman kota atau super market, tapi semuanya
ditolak.
“Buat
apa ibu mengajakku jalan-jalan kalau semua orang memandang Zahra ngeri dan iba!
Buat apa ke rumah Tante Yati dan Paman Rudi kalau semenjak Zahra kecelakaan
mereka seolah tak mau kenal lagi pada kita,…” dalih Zahra.
“Asal
kamu tahu, Nak. Banyak orang di dunia ini yang bernasib lebih malang dari kamu,
tetapi mereka tetap tabah dan tegar. Kamu sering nonton berita aksi Genosida
Israel terhadap warga Gaza Palestina, kan? Lihat betapa banyak anak yang
terluka, menderita cacat akibat bom dari Amerika. Ibu tidak dapat membayangkan,
betapa lebih berat penderitaan mereka. Banyak orang tua di sana yang kehilangan
masa depan keluarganya. Mereka semua mengalami cobaan berat, Zahra…”
Air
mata Zahra mulai mengalir.
“Bila
tak mau dikasihani dan dicerca banyak orang, kita harus berani menghadap ke
depan. Bangkit dan melangkah. Buktikan bahwa Zahra seorang muslimah yang
tegar,” tutur ibunya.
Zahra
merenung. Kata-kata ibunya membuatnya merinding.
Malam
itu, tak biasanya Zahra mencoba menjadi yang dulu. Lama dia bermunajat pada
Allah. Ia mencoba mengambil hikmah perkataan ibunya dari hari ke hari.
“Segala
sesuatu pasti ada hikmahnya. Allah mempunyai rencana yang baik bagi hambanya.
Berpikir positiflah.” Ucapan itu selalu terngiang di pikirannya.
Keesokan
harinya, ibunya yang sedang nonton Trans TV memanggilnya. Segera disangganya
kruk dan berjalan ke arah ibunya yang tampak serius menonton.
“Lihat
mereka …,” ujar ibunya dengan mata tak berkedip.
Masya
Allah … acara tentang kisah penyandang difabel dan disabilitas. Ada yang cacat
mental, lumpuh, tidak bisa bicara, dan semacamnya. Yang menarik dalam tayangan
itu, mereka sosok anak-anak dan remaja yang ceria dan enerjik, kreatif, dan
selalu berusaha mandiri.
“Lihatlah
… Subhanallah! Tidak punya tangan dan kaki, tapi bisa melukis dengan mulut.
Beberapa di antaranya ada yang berkecimpung di dunia bisnis, seni, dan olah
raga. Ada lagi yang tuli, tetapi bisa memahami ucapan lawan bicaranya.
Zahra
tertunduk. Entah mengapa saat itu ia merasa tak berarti bila dibandingkan
dengan mereka. Untuk lebih menenangkan diri, ibunya membawanya ke rumah
neneknya di sebuah pedesaan.
***
Di
desa memberikan ketenangan dari hiruk pikuknya kota. Tinggal bersama nenek dan
kakeknya sedikit menghibur. Kakeknya menunjukkan taman baca yang dikelola
remaja desa. Dengan penuh keyakinan, ia melangkah dengan kruknya. Tak lupa memakai kaca mata hitam untuk menutupi matanya
yang sedikit cacat.
“Buku
di sini terbatas, Kak. Taman baca ini masih perlu membutuhkan buku-buku
khususnya bacaan anak-anak,” kata pemuda berkaos hitam.
Rupanya ia yang piket hari itu. Zahra
tersenyum. Di rak itu ada buku yang menarik perhatiannya. Buku tentang Hellen
Keller. Perempuan tuli dan bisu, tetapi akhirnya bisa menjadi guru dan membuka
sekolah bagi anak cacat.
Buku
itu memotivasinya untuk lebih semangat menata masa depan. Tiba-tiba seorang
anak kecil usia sekitar 7 tahun masuk. Bocah laki-laki itu kelihatan dekil dan
kurus. Ia langsung mengambil buku di rak buku.
“Wah,
adik suka baca ya?” tanya Zahra hati-hati. Namun, bocah itu tidak menghiraukan.
“Maaf
Kak, dia tidak bisa mendengar,” kata pemuda itu. Zahra langsung mendekat. Bocah
itu membaca dengan mengeja. Suaranya agak nyaring.
“Anaknya
sering ke sini. Dia berusaha membaca dengan lancar. Dia sering diejek
teman-temannya karena belum bisa membaca.” Penjelasan pemuda itu membuat Zahra
sadar bahwa menyemangati diri itu sangat penting.
Minggu
pagi, tiba-tiba teman kampusnya datang. Ia masih tak percaya Mita dan Ayu
datang ke desa.
“Mbak,
kami kangen. Kami ingin Mbak mengisi acara keputrian di kampus,” kata Mita adik
kelasnya yang beda jurusan.
Zahra
tidak percaya. Betulkah itu mereka? Kenapa bisa tahu ia berada di sini.
“Kaget
ya… aku tanya ke ibu. Jangan terlalu lama di sini, Mbak? Mbak harus semangat
kuliah lagi.”
Tiba-tiba
Zahra merasa terlempar kembali ke masa lalu, saat semua orang memperhatikannya.
“Bisa
Mbak ya? Acaranya masih minggu depan. Nanti Mita akan menjemput ke sini.”
“Apa
nanti tidak kecewa para mahasiswa melihatku? Aku bukan Zahra yang dulu. Aku
sekarang gadis cacat,” kata Zahra lirih.
Tiba-tiba
mereka memeluknya. Air mata Zahra mengalir deras. Pelukan mereka erat sekali.
Lama tak pernah dirasakan Zahra. Ternyata Allah tidak meninggalkan hamba-Nya.
Kini ia harus bangkit menata masa depan. Zahra ingin apa yang dilakukannya bisa
memberikan manfaat bagi sesama.
Kepanjen, 23 Desember 2024
Komentar
Posting Komentar