SIAPA PEREMPUAN ITU?
Tea Terina
Aku mendadak linglung gara-gara
kejadian semalam. Apa sebenarnya yang terjadi? Aku menjadi ragu pada waktu dan
ingatan. Aku amati, bibir mayat gadis bertubuh sintal dalam foto di koran itu,
menyunggingkan senyuman.
Malam itu, malam pertemuan kami.
Hujan deras memaksa aku menepi di sebuah halte. Kupakai jas hujan dari bawah jok motor. Siap meluncur
kembali mencari penumpang. Tiba-tiba suara tangisan seseorang menghentikan sepedaku.
Tangisan itu ternyata milik sosok perempuan
berambut panjang yang duduk dalam gelap. Kuurungkan niatku pergi. Entah, kenapa
aku ingin menghampirinya. Rupanya dia
sudah berada di halte sebelum aku datang.
Tangisnya makin menjadi kala kudekati.
“Mbak, kenapa menangis?”
“Aku tidak tahu jalan pulang,Mas,”
katanya lirih. Rambutnya dibiarkan menutupi pipinya. Malam sudah semakin larut.
Muncul perasaan iba padanya. Mungkinkah dia perempuan yang baru pertama kali
datang ke kota ini?
Apa yang menimpa gadis itu membuatku
terus berpikir. Aku ingin tahu apa yang sesungguhnya terjadi.
“Mbak, rumahnya di mana? Jika tidak
terlalu jauh nanti saya antar.”
Dia hanya diam. Matanya menerawang ke
sudut pertokoan yang sudah tutup sejak tadi. Semua pertanyaan hanya mendapat
sebuah penegasan bahwa dia memang lupa segalanya. Bahkan keberadaannya di halte
itu pun tak dia ketahui pasti bagaimana bermula.
Di sela-sela percakapan, aku perhatikan
wajahnya. Dari jarak sedemikian dekatnya, aku berani memastikan bahwa gadis ini
sungguh rupawan. Paras cantik seperti milik perempuan-perempuan yang suka
merawat wajah ke salon.
Meski memiliki kecantikan penuh, ia justru tak
lagi punya ingatan. Dia lupa masa lalunya. Tak juga aku temukan tas atau dompet
yang biasanya memuat beberapa identitas diri pemiliknya. Demikianlah kini perempuan
hilang ingatan masih saja menangis.
Perempuan ini mengenakan atasan kaus hijau
lengan panjang, berleher rendah dan celana jins skinny donker yang seluruhnya
basah. Sambil berupaya menenangkan, aku segera mengenakan jaket dan
menghentikan tangisnya. Upayaku menenangkan cukup berhasil.
“Apakah Mas pengojek online?”
Perempuan itu bertanya sambil menyeka sisa-sisa air mata. Aku hanya tersenyum
mengiyakan. Dia mengetahui pekerjaanku pasti dari jaket seragam yang kini dia kenakan.
Hujan makin deras disertai tiupan
angin yang sangat kencang hingga menyebabkan sebagian atap halte tua itu
terangkat dan sepertinya tak lama lagi akan terlepas.
Aku
menawarkan diri mengantar perempuan itu ke pos polisi terdekat untuk
membuat laporan diri sebagai orang hilang. Dengan begitu polisi akan membantu
menyebarkan pengumuman keberadaan dirinya. Pihak keluarganya pasti akan mudah
menemukannya. Dia setuju. Kami pun bergegas menembus badai hujan menuju pos
polisi terdekat.
Di sebuah pos polisi aku bertemu
dengan seorang polisi muda yang justru mengarahkan untuk menuju kantor Polsek
terdekat. Rupanya pos yang aku datangi adalah pos lalu lintas yang tidak
melayani laporan orang hilang.
Akhirnya kuputuskan menuju tempat yang dimaksud yang jaraknya lumayan
agak jauh. Namun, di tengah perjalanan perempuan
itu mengusulkan agar melapor keesokan hari saja. Ku pikir benar
juga sebab malam semakin larut dan hujan
pun tak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Aku setuju saja.
Dalam perjalanan, aku menanyakan
bantuan apa lagi yang dapat kulakukan.
“Bagaimana jika sementara menginap ke
rumah sampeyan,Mas,” katanya tanpa sungkan. Hah! Permintaan itu tentu saja aku tolak. Bayangan
istriku yang cemburu muncul di pikiranku. Maklumlah pasangan muda. Kadang masih
terbawa ego masing-masing.
“Bagaimana jika aku antar ke
penginapan. Bermalam sehari saja. Jangan berpikir macam-macam. Nanti aku tidur
di ruang tamu. Kebetulan aku paham penginapan daerah sini.”
Mendengar tawaran ini, dia kembali menangis.
Pukulan lembut mengena punggungku.
“Jika Mas tidak mau mengajak ke
rumah. Turunkan saja aku di sini!” katanya setengah berteriak. Aneh sekali
perempuan ini. Ditolong malah cari enaknya, pikirku.
“Turunkan saja aku di sini Mas. Nanti
kalau ada apa-apa aku nggak peduli.”
Sepertinya perempuan yang hilang
ingatan ini sengaja melibatkan aku dalam masalahnya. Aku tetap tidak mau
mengajaknya pulang karena tidak ada siapa-siapa di rumah. Istriku sedang mudik
menjenguk ibunya yang tengah sakit di Pekalongan. Rencana pulang tidak
diketahui. jika ibunya sudah membaik, ia akan secepatnya pulang.
Muncul pikiran gila di benakku. Jika
seorang lelaki sudah tak seminggu
bersama istri, tiba-tiba berduaan bersama seorang perempuan muda cantik dan
sintal , dapat dipastikan akan membawa
masalah. Ah, pikiran ini benar-benar menghantuiku.
Tidak ingin mengambil risiko, aku memutuskan
menurunkannya di tepi jalan.
“Mbak silakan turun di sini saja.”
Motor sudah berjalan beberapa meter
sampai kemudian aku hentikan.
“Oh, laki-laki nggak bertanggung
jawab! Mas tega ya menurunkan saya malam-malam begini!” teriaknya. “Laki-laki
tak punya belas kasih. Dalam situasi seperti ini, harusnya Mas menolong saya,”
lanjutnya sambil menangis.
Seketika ada keraguan di benakku. Aku
mencoba berpikir keras, apa yang sebaiknya yang kulakukan. Terlintas di pikiran
sepertinya tak mengapa mengajaknya pulang dengan penuh kehati-hatian. Maksudku,
aku akan berusaha sekuat tenaga menahan diri untuk tak melakukan hal-hal yang
sangat mungkin terjadi di antara kami. Tapi aku kembali ragu. Apa aku mampu?
Apa aku beri tahu istri tentang
keberadaan perempuan ini agar tidak terjadi salah paham? Namun, ide itu cepat aku urungkan. Sepertinya
jika aku lakukan , justru membuat urusan jadi semakin gawat.
Pada akhirnya aku membuang keraguan itu.
Aku memutuskan untuk memboncengnya pulang ke rumah demi alasan kemanusiaan dan
menepis anggapan bahwa aku tak mau menolongnya.
Motor segera melaju dan
sampailah di rumah. Beruntung aku
tinggal di rumah kontrakan sederhana yang perbulannya hanya membayar 350.000
rupiah. Meski sempit dan berdesakan dengan rumah warga, untungnya mereka tidak saling peduli.
Keberadaan perempuan yang saya bawa ke rumah
ini , tidak menjadi perhatian dan masalah bagi mereka. Hanya seorang ibu tua
yang mengontrak depan rumah, memandangku dengan penuh selidik. Ah, biarlah!
Aku menyuruhnya untuk mandi terlebih
dahulu. Aku sedikit geli melihat
tampilannya sehabis mandi. Pakaian istri yang kuberikan padanya, kedodoran.
Maklumlah istriku tergolong gemuk. Tinggi 150 cm bobotnya hampir 80 kg. Sementara dia, meski agak sintal di bagian
dada, tapi kelihatan langsing.
Sehabis mandi, aku mengajaknya makan
bakso yang sempat aku beli dalam perjalanan pulang tadi. Dia makan dengan
lahapnya seperti orang yang belum makan selama satu minggu. Saat makan , tak
banyak pembicaraan. Dia lebih banyak diam. Berkali-kali menguap.
Aku hanya sempat meyinggung bahwa di
rumah kecil satu kamar tidur ini hanya tinggal berdua dengan istri.
“Aku sudah tiga tahun menikah, tapi
belum punya momongan,” kataku sambil merokok. Untungnya dia tak terganggu
dengan asap rokok yang terkadang mengenai wajahnya.
Kelihatanya dia tak merespon. Lalu
aku menyuruhnya tidur di kamar. Sementara aku tidur di karpet depan televisi.
Di luar, hujan tak menunjukkan
tanda-tanda akan segera berhenti. Hanya dalam hitungan menit aku terlelap tidur. Hari ini sangat melelahkan karena seharian mencari dan mengantar penumpang,
ditambah lagi urusan dengan perempuan ini. Cukup menguras pikiran dan tenaga.
Malam itu, aku terbangun oleh gelegar
guntur yang begitu mengerikan. Rupanya badai hujan di luar. Tanpa aku duga perempuan
yang tak punya ingatan itu rupanya sudah berbaring di samping saya.
“Maaf Mas, aku nggak berani tidur
sendirian. Suara di luar membuatku takut,” katanya lirih. Ada jarak setapak
tangan dengan tubuhku yang hanya berbalut sarung.Tiba-tiba degup jantungku
berdetak cepat.
“Mas, diam saja tidak perlu
khawatir,” katanya lalu terlelap.
Merasa tak ada penolakan, ia pun
kembali berbaring persis di belakangku. Tiba-tiba dia meminta izin untuk
memelukku dari belakang. Aku agak terganggu dan merasa risih dengan
permintaannya. Meski begitu karena masih mengantuk aku berusaha kembali tidur
dan tak sempat mengiyakan dan tak pula menolak permintaannya. Kini ia memelukku
dari belakang.
Tak hanya sampai di situ, dia
bertindak lebih jauh lagi dan mengatakan bahwa semuanya akan dia berikan
sebagai tanda terima kasihnya karena aku sudah begitu baik kepadanya. Sebagai
laki-laki yang lemah, aku menyerah. Aku tak sanggup menolak atau menghentikan
apa pun yang kemudian ia sodorkan dengan begitu mudahnya.
***
Sinar matahari pagi menembus
sela-sela gorden. Aku tersentak bangun. Di sampingku tak ada perempuan itu. Aku bangkit dan mencoba mencarinya di kamar,
di dapur dan di setiap sudut rumah. Tetap saja tidak ada. Dalam kebingungan dan
banyak tanya di kepala, aku memutuskan untuk segera pergi mencari perempuan
itu. Aku putuskan mampir ke sebuah warung kopi sebelum melanjutkan pencarian.
Sambil menunggu mi rebus pesanan, aku
menyeruput kopi sambil membaca sebuah koran yang ada di meja warung. Koran itu
edisi kemarin. Persis di halaman belakangnya aku menemukan foto dan berita yang
langsung membuat jantung berdetak tak karuan.
Mendadak, tenagaku menguap entah ke
mana. Aku mengenali dengan baik wajah dan postur perempuan yang sudah menjadi
mayat dalam sorotan berita itu. Aku juga tahu jaket yang dia kenakan adalah
jaketku. Dalam berita itu, disebutkan telah dia tewas bunuh diri di perlintasan
kereta api dua hari yang lalu. Berarti perempuan yang bersamaku semalam adalah
sosok yang sudah berada di alam lain. Hiiii ......
Tamat
Kepanjen,
9 September 2024
Komentar
Posting Komentar