Surat Undangan
Tea Terina
Ini ketujuh kalinya Mas Rony
mengirim pesan yang sama di ponselku. Setiap panggilan teleponnya sengaja
kuabaikan. Namun, setelah dipikir-pikir tak ada salahnya untuk menjawab
panggilannya. Barangkali ada sesuatu yang penting. Setidaknya aku bisa menunjukkan
siapa diriku yang sebenarnya.
Sambil membenahi berkas-berkas hasil
rapat dengan komite sekolah, aku memikirkan apa yang akan disampaikan Mas Rony.
Hampir lima tahun aku berpisah dengannya. Terakhir kali melihatnya, ketika
sama-sama menanti keputusan cerai di Pengadilan Agama Malang. Ini akhir
pernikahan yang tragis karena Delina, putri kami satu-satunya ternyata jatuh
dalam pengasuhannya.
Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore.
Rasanya malas untuk pulang. Kulihat satpam berkali-kali memperhatikan kantorku
yang posisinya tepat di depan pintu masuk sekolah. Dia kemudian duduk lagi di
kursi sebelah pintu gerbang. Di tangannya ada sebonggol kunci pintu seluruh
ruangan, kecuali ruang kepala sekolah.
Aku menuntun sepeda motorku dengan
pelan. Satpam separo baya itu seperti biasanya menyapa setiap aku pulang.
“Jangan lupa ruang tata usaha
dikunci ya,Pak? Tadi Pak Andi agak terburu-buru pulang sampai lupa mengunci.”
“Siap,Bu. Hati-hati di jalan,”
katanya sambil menutup pintu gerbang.
Hari ini aku ingin melewati penatku
dengan bersantai. Seperti biasanya setiap akhir pekan, aku mampir ke sebuah
restoran dekat Masjid Baiturrahman. Sekalian menunggu azan magrib. Tiba-tiba
ponselku berdering. Dadaku berdebar-debar saat kulihat siapa yang
menghubungiku.
“Apa kabar, Desi?” Suara berat khas
laki-laki itu masih terdengar sama.
“Baik,” lirihku agak gugup.
“Bisakah kita bertemu sekarang?”
“Apa yang membuat Mas Rony ingin
ketemu?”
“Akan kusampaikan nanti,Des, setelah
kita bertemu.”
“Sampaikan saja sekarang. Toh, tak
ada bedanya sekarang atau nanti, besok atau lusa. Semua waktu sama saja!”
“Aku mohon, Des. Beri aku kesempatan
untuk menyampaikan secara langsung,” ucapnya memohon. Suaranya makin berat.
Ah, beri kesempatan! Bosan sekali
mendengarnya. Ucapan itu seolah hadir lagi di ingatanku. Dulu, aku pernah
mengiba-iba padanya dengan ucapan itu, memohon agar diberi kesempatan
mengunjungi putriku. Apakah dia tidak ingat? Jangankan mengizinkan, sekadar
membalas pesanku saja tak dihiraukan. Bahkan, mendatangi rumahnya, aku malah
diusir seperti binatang!
Mas Rony mencegahku bertemu dengan
Delina. Dia melakukan penjagaan ketat hingga tak sedetik pun ada kesempatan
sejenak memeluk gadis berusia 7 tahun itu. Ibu mana yang bisa tahan ketika
dipaksa berpisah dengan darah dagingnya sendiri? Jika ada perempuan seperti
itu, pasti ada sesuatu yang salah pada kepribadiannya.
Sudah kodrat, setiap perempuan untuk
selalu dekat dengan buah hatinya. Dan Mas Rony sama sekali tidak memikirkan
itu. Dia memang keterlaluan! Rasanya aku hampir gila dan ingin mengakhiri
hidup. Seolah tak ada gunanya segala sukses dan karierku yang mulai menanjak
saat itu.
“Aku mohon, Des. Izinkan aku
sebentar bertemu denganmu. Ada sesuatu yang ingin kuberikan,” ibanya. Aku
tersentak, tersadar dari lamunanku.
“Apa itu?” balasku singkat.
“Aku ingin memberikan undangan.”
%%%
Akhirnya setelah magrib, kami
sepakat bertemu di kafe sebuah hotel sebelah alun-alun Kota Malang. Dengan
kemacetan akhir pekan, rasanya malas
menuju ke sana. Ah, apa salahnya. Toh, pertemuan nanti tidak akan lama. Mas
Rony hanya ingin memberikan undangan. Hanya itu!
Hm, aku tak perlu menebak sedemikian
rumit. Paling undangan pernikahan dengan perempuan seksi itu. Ah, sudah lama
sekali. Tiba-tiba aku ingat, Namanya Eva. Nama itu kembali muncul dalam
memoriku. Memuntahkan apa yang kutahu tentang perempuan itu.
Dulu, aku dan Eva adalah teman
kuliah di jurusan pendidikan. Kami satu kos. Dia sosok gadis cantik dan disukai
teman-teman pria di kampus. Tipikal gadis yang tidak bisa berdiam diri, selalu
ceria, dan humoris. Dia cantik, berkulit putih, rambutnya ikal sebahu, dan
hidungnya mancung seperti orang Arab. Persahabatan kami waktu itu seolah tak
terpisahkan. Bahkan setelah aku menikah, kami sering berjumpa.
Saat itu, aku mengajaknya melamar
bekerja di sebuah SMK di Kota Malang. Sama-sama diterima. Mengingat rumah Eva
di luar kota, dia kuizinkan menginap di rumah. Semacam kos gratis. Hingga saat
aku melahirkan, dia ikut menemaniku. Namun, di sinilah persoalan itu hadir. Aku
terlambat menyadari ketika semuanya terjadi begitu saja. Aku terlalu percaya
padanya, saat aku mengikuti workshop pengembangan kurikulum mewakili sekolah
selama tujuh hari di Surabaya.
Ternyata selama di Surabaya, Eva dan
Mas Rony menjalin hubungan terlarang. Aku tidak tahu sejak kapan mereka
memulainya. Entahlah, mungkin ini kebodohanku sendiri. Namun, semakin lama aku
membuktikan dengan mataku, bagaimana bibir ranum itu dilumat dengan penuh
gairah oleh suamiku. Bunyi desahan
kepuasan mereka yang menggebu-gebu di kursi sofa, saat aku baru tiba di rumah.
Sebenarnya aku tak perlu
mengingatnya. Menyesali apa yang terjadi. Aku tak ingin terbelenggu masa lalu.
Lagi pula, dengan karierku saat ini sebagai kepala sekolah, telah terlupakan
kejadian masa lalu karena kesibukan. Hingga terpikirkan untuk memulai hidup
baru lagi dengan sosok laki-laki yang menjunjung kesetiaan.
Meski kucoba melupakan ingatan itu,
aku tidak mampu melupakan Delina. Apakah Delina masih mengingatku? Mungkin dia
sudah sekolah sekarang. Ah, aku tidak bisa membayangkan jika Delina memanggil
“Ibu” pada pelakor itu!
Sungguh
menyakitkan jika itu terjadi. Seperti ketika Mas Rony merebut Delina dari
tanganku, malam sebelum aku meninggalkan rumah.
“Delina akan kubawa bersamaku!”
desakku histeris.
“Kau boleh pergi, tetapi Delina
tetap tinggal di rumah ini!” sergahnya dengan suara tinggi.
“Tidak! Tak akan kubiarkan perempuan
jalang itu menjamah anakku!”
“Bukan urusanmu! Silakan angkat kaki
dari rumah ini!”
“Keterlaluan kamu, Mas!” teriakku
sekuat tenaga.
%%%
Aku sampai di lobi dan segera masuk ke
kafe remang-remang. Alunan lembut lagu Hampa yang dinyanyikan Ari Lasso, tidak
dapat menghilangkan debaran dadaku. Di sana sudah menunggu sosok laki-laki
tampan yang tidak pernah lelah mengejarku saat kuliah. Pelayan kafe menyodorkan
menu. Tanpa berlama-lama, pelayan itu membawa dua cangkir kopi espresso.
Kami saling berhadapan. Meja marmer
persegi ini memisahkan kami. Dia agak gugup. Kupandangi tubuhnya lekat seperti
menelanjangi bulat-bulat sebelum melancarkan permainan sebenarnya!
Baju putih lengan panjang yang dia pakai,
terlihat agak lusuh. Rambutnya pun agak panjang seperti tak terurus. Namun,
tubuhnya sama seperti dulu. Aku pernah merasakan tangan kekarnya melingkar
lembut di pinggangku. Juga dadanya tempat kepalaku berlabuh.
Tidak!
Aku tak ingin terlena. Permainan ini akan segera dimulai!
“Mas ingin mengantar undangan
perkawinan?” sentakku tanpa basa-basi. Laki-laki itu tergagap dan mulai
gelisah.
“Kenapa begitu lama sampai menunggu
bertahun-tahun?” lanjutku tak peduli dengan perubahan wajahnya.
“Tak bisakah aku mendengar
kabarmu,Desi?”
“Untuk apa? Maaf, jika ternyata Mas
datang cuma menghabiskan waktuku untuk sesuatu yang tidak penting, aku pamit!”
kataku ketus sambil menggeser kursi dan berdiri ingin meninggalkan meja.
“Semua ini soal Delina, anak kita!”
sergahnya ikut berdiri sambil tangannya mencoba menahanku. Aku tersentak.
Dadaku berdegup kencang ketika Mas Rony menyebut nama itu.
Kemudian Mas Rony mengambil sesuatu
dari saku bajunya. Sehelai kartu kecil bergambar kue tar yang di atasnya ada
beberapa lilin, disodorkan ke padaku. Tubuhku bergetar seketika, membuatku
terduduk kembali. Tak sabar membaca isinya.
“Aku cuma mau memberikan undangan
ini dari Delina,” ucap Mas Rony tertunduk pasrah.
“Soal Eva, aku minta maaf. Dia sudah
pergi setelah proses perceraian kita. Aku yang salah Desi,” sesalnya.
“Apakah Delina baik-baik saja?”
ucapku dengan suara serak.
Laki-laki itu mengangguk pelan.
Matanya berkaca-kaca. Kutatap wajahnya lebih dekat. Wajahnya terlihat kusut.
Wajah yang letih. Hatiku mungkin masih membatu, sebab luka yang dibuatnya belum
sepenuhnya sembuh. Namun, Mas Rony mulai membuka tabir hatiku lewat Delina.
Kartu undangan masih tergenggam erat.
Mulutku tak bersuara. Seketika itu kugenggam tangannya dengan erat. Sudah
saatnya aku harus berdamai dengan keadaan dan memulai kehidupan baru lagi.
Tamat
Malang, 6 November 2021
Komentar
Posting Komentar